Habib Chirzin’s Weblog

Blog On Peace, Human Rights and Human Responsibilities

PENDIDIKAN GLOBAL DAN HUMANITARIAN ISSUES

leave a comment »

” PENDIDIKAN GLOBAL
DAN HUMANITARIAN ISSUES”

Oleh

Drs. M. Habib Chirzin*)

I- Mukaddimah

Dipenghujung Abad XXI masyarakat dunia dihadapkan kepada tantangan-tantangan baru dan juga peluang-peluang baru, yang sebagiannya belum pernah terjadi sebelumnya. Abad XXI adalah abad peralihan dalam sejarah peradaban dunia dan sejarah kemanusiaan yang mengharuskan segenap bangsa-bangsa di dunia untuk menyusun kembali tatanan dunianya yang lebih adil, sejahtera, damai dan lestari. Suatu tatanan dunia yang lebih manusiawi dan lebih bertanggung jawab, yang mengacu kepada nilai-nilai transendental yang bersumber kepada ajaran-ajaran Ilahi. Abad XXI disebut oleh para futurolog, sebagai “Abad Kebangkitan Agama-agama”. Misalnya, Dr. Daniel Bell, penulis buku yang terkenal pada tahun 1970-an yang bertajuk “The End of Ideology”, menyebut Abad XXI sebagai “Abad Kembalinya yang Suci” (the return of the Sacred ) demikian pula DR. Harvey Cox, penulis buku “The Secular City”, menyebut Abad XXI sebagai “Abad kembalinya Agama-agama”, setelah sepanjang Abad XX kota-kota di dunia telah tersekularisasikan (“The Religion return to the Secular City”).

Menghadapi perubahan-perubahan besar yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan bersama umat manusia ini, dunia pendidikan memperoleh panggilannya yang baru, untuk lebih lebih memenuhkan kemanusiaan manusia, sebagai “khalifatullah” yang bertugas untuk melakukan “imaratul ardli” dan “ishlahul ardli”. Dunia pendidikan, sebagai salah satu lembaga yang paling bertanggung jawab untuk mengembangkan kualitas sumberdaya manusia, dituntut untuk terus mengembangkan wawasan maupun kompetensi tehnisnya, bahkan untuk terus melakukan “tajdid”, untuk menyahuti tantangan dunia modern yang telah menjadi desa global (global village) dan menjadi masyarakat yang tanpa batas (borderless society). Panggilan tersebut lebih nyaring lagi terdengar di dunia Islam.

Di dalam bukunya yang bertajuk “Reformasi Pendidikan dalam Menghadapi Cabaran 2020”, Datuk DR. Wan Mohd. Zahid Mohd. Noordin, mengemukakan bahwa dekade-dekade yang akan datang mebawa perubahan yang amat besar dalam senario dunia. Naisbitt dalam “Megatrends”, Kenichi Ohmae dalam “Borderless World”, Toffler dalam “The Adaptive Corporation”, Husen dalam “Talent Equality and Meritocracy”, dan Reich dalam “The Next American Frontiers”, telah mebayangkan imbasan-imbasan dunia sebagai “global village”. Untuk itu Noordin mengemukakan bahwa bagi menuju tahap negara maju dan mampu menghadapi cabaran era pasca industri, negara perlu menggembleng sumber manusia, yaitu sumber yang paling penting (Noordin, 1994), sebagaimana yang dinyatakan oleh Harbison (1973) dalam “Human Resources as Wealth of Nations” ”

” Human resources are the ultimate basis of wealth of nations. From this perspective, the goals of development are the maximum utilization of human beings in productive activity and the fullest possible development of skills, knowledge, and capabilities of labour force”

Sebenarnya proses reformasi pendidikan di Dunia Islam itu telah, sedang dan masih terus berlangsung, semenjak terjadinya proses dekolonisasi di negara-nagara tersebut. Bahkan semenjak masa lahirnya pergerakan-pergerakan kemerdekaan di negara-negara Asia dan Afrika pada awal abad lalu. Dan sebagai hasilnya adalah tercapainya kemerdekaan di negara-negara Islam tersebut dan juga terlaksananya pembangunan sosial, ekonomi dan budaya serta pengembangan Iptek dan kemajuan industrinya, semenjak dua dekade terakhir. Namun reformasi pendidikan di dalam era globalisasi ini nampaknya mengambil bentuk-bentuk yang lebih substansial dan fundamental sifatnya. Hal tersebut misalnya tercermin di dalam “Arab Regional Conference on Higher Education” yang diselenggarakan oleh UNESCO di Beirut, 2-5 Maret 1998 yang bertajuk “What Higher Education for Arab States at the Dawn of the XXIst Century ?”. Sebuah judul yang cukup menantang.

Di dalam pengantarnya misalnya disebutkan, di ambang fajar abad xxi, pendidikan tinggi di dunia Arab dihadapkan kepada berbagai tantangan. Sebagian besar dari tantangan tersebut sangat berhubungan dengan aspek-aspek struktural dari masyarakat beserta sistem politik, ekonomi, budaya dan pendidikannya. Di antara tantangan-tantangan tersebut secara khusus berhubungan dengan aspek-aspek berikut ini :

1- Masih sedikitnya upaya yang dilakukan untuk mendiversifikasi sistem pendidikan, program dan metoda pengajaran, yang menghasilkan ketidak sepadanan antara pendidikan tinggi dengan kebutuhan pembangunan,
2- Kurangnya mekanisme “quality control” yang mengakibatkan tidak dapatnya dilakukan diagnosis yang tepat dari kekurangan-kekurangan berikut penyebabnya, maupun untuk melakukan perencanaan reformasi program pendidikan dan kurikulum yang berbasis pada pengetahuan ilmiyah yang solid.
3- Pendidikan tinggi yang sebenarnya diharapkan untuk menjadi perintis bagi kemajuan, malah sebaliknya dengan susah payah mengikuti perubahan-perubahan dunia yang disebabkan oleh proses globalisasi dalam ekonomi, komunikasi dan jasa.
4- Di dalam beberapa kasus, lembaga-lembaga pendidikan tinggu masih jauh dari implikasinya yang langsung terhadap masalah sosial di kawasannya, seperti masalah pertumbuhan kependudukan, pembangunan wilayah, kerusakan lingkungan hidup, status wanita, demokrasi dan hak-hak asasi manusia dan sebagainya.
(UNESCO, “Preliminary Program : Arab Regional Conference on Higher Education”, Beirut, 1998)

II- Kekuatan-kekuatan Perubah Sejarah.

Untuk memberikan gambaran latar belakang tentang perlunya reformasi pendidikan di dunia Islam, akan dicoba dikemukakan suatu kontekstualisasi dari permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat kita saat ini. Oleh karena pentingnya perubahan masyarakat dan kemanusiaan yang terjadi pada peralihan abad ini, yang akan mempengaruhi masa depan kemanusiaan, dan bahkan planet bumi di mana manusia menumpang, maka PBB membentuk suatu komisi independen tentang “Masalah Kemanusiaan Internasional”. Komisi ini dipimpin oleh Pangeran Hassan bin Talal dari Kerajaan Hasyimiah Jordan, dan Pangeran Sadrudin Aga Khan dari Iran. Di dalam laporan yang bertajuk “Memenangkan Umat Manusia ?” tersebut, dinyatakan bahwa umat manusia saat ini “terlibat dalam suatu perlombaan melawan waktu”. Selanjutnya ditegaskan bahwa “bukan hanya kualitas hidup manusia itu saja yang tengah terancam, tetapi kehidupan itu sendiri berada di dalam ancaman”.

Di dalam salah satu babnya, yang memilik relevansi dengan tema kajian tentang Reformasi Pendidikan di Dunia Islam Menghadapi Abad XXI ini adalah, yang bertajuk “Kekuatan-kekuatan Perubahan”. Di dalam bab tersebut, dikemukakan bahwa di antara kekuatan-kekuatan perubahan yang terjadi didunia pada saat ini antara lain : 1- Bangsa-bangsa baru, 2- Gerakan Masyarakat, 3- Kebangkitan Wanita , 4- Gerakan Pemuda, 5- Teknologi Modern, 6- Perusahaan Transnasional dalam Ekonomi Global, 7- Kekuatan Media.

1- Bangsa-bangsa Baru

Semenjak berakhirnya Perang Dunia yang lalu, salah satu faktor dinamis dalam masyarakat dunia adalah munculnya lebih dari seratus bangsa-bangsa baru, sebagai hasil dari proses dekolonisasi. Bangsa-bangsa ini telah membentuk berbagai organisasi, termasuk “Gerakan Non Blok”, untuk memperjuangkan tujuan dan kepentinganya bersama. Mereka telah berhasil di dalam mengangkat berbagai permasalahan yang berhubungan dengan Dunia Ketiga, tetapi keberhasilan mereka untuk memperjuangkannya pada konteks global masih sangat terbatas.

Kerjasama antara negara-negara Selatan dan Utara menjadi agenda baru yang terus menghangat. Baik dari segi sosial, politik, ekonomi maupun kebudayaan. Termasuk “kemitraan dalam pengembangan sumber daya manusia” antara Selatan dan Utara, sebagaimana yang diselenggarakan konperensinya oleh CIDES-ICMI beberapa waktu yang lalu.

Nasionalisme telah menjadi kekuatan dinamik dalam beberapa negara baru di Dunia Ketiga. Namun juga telah menjadi penyebab konflik baru. Beberapa konflik yang terjadi di Dunia Ketiga disebabkan oleh adanya perbatasan-perbatasan yang dibuat oleh para bekas penjajah yang memecah kelompok-kelompok etnik.

Pada saat yang sama, kekuasaan negara kebangsaan (nations state) telah meningkat secara besar-besaran dalam hubungannya dengan pribadi-pribadi warga negara. Situasi ini sering telah menyebabkan pelanggaran terhadap hak-hak sipil, hak-hak politik, hak ekonomi dan budaya serta hak pembangunan (the rights to development) masyarakat. Penyeimbangan antara negara dan masyarakat sipil merupakan suatu proses yang dinamis.

2- Gerakan Masyarakat.

Akhir-akhir ini semakin berkembang berbagai bentuk gerakan kemasyarakatan yang didorong oleh kepedulian yang mendalam terhadap berbagai issue yang dihadapi oleh masyarakat modern. Baik di negara maju maupun negara berkembang muncul gerakan kemasyarakatan di bidang lingkungan hidup, perlindungan konsumen, gerakan perdamaian, anti film dan mainan kekerasan, hak asasi manusia, perlindungan buruh anak-anak, wisata budaya sampai kepada gerakan kali bersih.

Sebenarnya gerakan masyarakat ini bukan merupakan suatu hal yang baru, tetapi pilihan isu dan cara kerja mereka menampilkan diri sebagai lembaga yang profesional yang mempunyai dampak sosial dan politik yang luas. Lebih dari itu gerakan masyarakat ini telah menjadi suatu jaringan internasional. Sehingga mempunyai daya tekan dan advokasi yang kuat. Bahkan telah banyak turut memberikan warna di dalam konperensi-konperensi internasional yang dilakukan oleh badan-badan dunia dan PBB. Serta mempengaruhi hasil-hasilnya. Misalnya pada setiap tahun, menjelang Sidang Umum PBB pada bulan September, di Markas Besar PBB diselenggarakan “Global Forum” yang diikuti oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat dari seluruh dunia, untuk memberi masukan kepada SU PBB. Demikian pula pada setiap konperensi tahunan direktur Bank Dunia, diselenggarakan “Global Forum” yang merupakan paralel meeting oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap permasalahan yang berhubungan dengan kegiatan Bank Dunia dan IMF. Demikian pula dengan berbagai konperensi PBB, sebagaimana yang terjadi di Kairo, dalam Konperensi Dunia untuk Kependudukan dan Pembangunan pada awal September 1994. Hal yang sama juga tercermin dalam “World Summit on Social Organization” dan Konperensi Dunia PBB untuk Wanita di Beijing 1995 .

3- Kebangkitan Wanita

Pada saat ini wanita merupakan salah satu kekuatan besar dalam percaturan dunia. Pada tahun 1975 sd. 1985 dalam rangka memberikan pengakuan dan dukungan terhadap upaya internasional untuk meningkatkan mutu kehidupan serta peran wanita di dalam pembangunan, PBB telah menjadikannya sebagai “Dasa Warsa Wanita”. Dan setelah pertemuan dunia di Nairobi pada tahun 1985, dilanjutkan dengan “Dasa Warsa II Wanita”, dengan Konperensi Dunia PBB tentang Wanita di Beijing pada bulan September 1995.

Munculnya lembaga-lembaga pengkajian tentang masalah wanita dan organisasi-organisasi wanita semakin memperkuat gerakan wanita, baik dari segi landasan pemikiran maupun program aksinya. Demikian pula berkembangnya berbagai jaringan kerja organisasi wanita, baik pada tingkat nasional, regional maupun global. Dengan berbagai bidang garap dan wilayah kerjanya. Bahkan di berbagai negara telah dibentuk Kementrian Peningkatan Peran Wanita.

4- Gerakan Pemuda

Semenjak tahun 50-an “Budaya Kawula Muda” memperoleh momentumnya di negara-negara industri dan kemudian telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dalam proses waktu perkembangan “kawula muda” ini telah memberikan dampaknya jauh ke luar lingkungan para kawula muda sendiri. Dengan jumlahnya yang terus bertambah, pemuda akan merupakan faktor perubah masyarakat yang penting.

Di negara-negara maju, pemuda telah mempunyai kekuatan yang diperhitungkan dalam daya belinya, yang mempengaruhi arah kegiatan ekonomi. Di bidang hiburan, khususnya dalam bidang radio, televisi, musik populer, pembuatan film dan fashion, pemuda merupakan kekuatan yang merubah selera dan pasar. Budaya kawula muda dengan cepat menjalar ke seluruh pelosok dunia. Dan kekuatan ini pada gilirannya akan terartikulasikan dan teragregasikan dalam kehidupan dan struktur sosial, ekonomi, budaya dan politik di masa depan. Di Indonesia sendiri semakin terasa bukan saja kawula muda diperbutkan oleh para pengusaha mode pakaian dan salon, tetapi juga oleh partai-partai politik yang berkontes dalam Pemilihan Umum.

5- Teknologi Modern

Penemuan dan perkembangan teknologi telah merupakan sarana vital dalam pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produktivitas sumber daya manusia, modal dan alam. Meskipun demikian, hubungan antara teknologi dan pertumbuhan ekonomi merupakan persoalan yang sangat kompleks. Kemajuan teknologi tidak mesti selalu memberi implikasi pada perkembangan ilmu pengetahuan maupun pertumbuhan ekonomi. Penemuan teknologi adalah alat yang tergantung kepada bagaimana pemakaiannya. Ia dapat menjadi alat yang memperlebar jurang perbedaan antara negara makmur dengan negara miskin. Dan pada saat yang sama dapat menciptakan kelestarian lingkungan dan sumber daya alam, atau merusaknya.

Perkembangan ilmu dan teknologi mengandung pada dirinya permasalahan kemanusiaan. Dari padanya tergantung hasil yang akan menentukan berkurang atau bertambahnya kesejahteraan maupun kesengsaraan umat manusia. Manusia diberi kemampuan kreatif potensial yang hanya dapat tumbuh dan berkembang dalam konteks budaya, sosial dan ekonomi tertentu. Oleh karena itu kemanusiaan tidak hanya bertujuan untuk membatasi akibat buruk yang berbahaya dari teknologi dan mengarahkan kembali manfaat dari penemuan tersebut bagi masyarakat yang sangat memerlukan, dilingkungan masyarakat miskin, tetapi juga bertujuan untuk mengatasi berbagai hambatan bagi kreativitas dengan melipat gandakan sumber-sumber penemuan dalam semua konteks, masyarakat dan budaya.

Potensi kemajuan teknologi modern untuk memberikan sumbangannya bagi memenuhi kebutuhan dasar umat manusia di seluruh dunia hendaknya terus dikembangkan sepenuhnya. Pendekatan yang lebih manusiawi terhadap ilmu dan teknologi menuntut prioritas yang lebih besar bagi produk dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat miskin.

Masaalah yang dihadapi oleh masyarakat sekarang adalah besarnya perbedaan penguasaan teknologi antara negara-negara maju dan kaya dengan negara-negara terbelakang dan miskin, dengan berbagai implikasi sosial, ekonomi, budaya dan politiknya.

6- Perusahaan Transnasional dalam Ekonomi Global

Perusahaan transnasional beroperasi di dalam wilayah yang mereka definisikan sendiri, baik di dalam negara maupun antar bangsa. Meskipun ia merupakan perusahaan swasta dan beroperasi untuk keuntungan pribadi, namun tidak jarang mereka memiliki tingkat organisasi yang tinggi, sebagaimana tingkat akses yang tinggi atas teknologi yang canggih dan sumber model yang masif sebagaimana yang dimiliki oleh negara. Mereka telah memiliki jaringan internasional, yang masing-masing mungkin memiliki kekuatan ekonomi yang substansial di negara masing-masing. Dan tidak jarang di negara-negara sedang berkembang, dimana mereka berlokasi.

Dalam kenyataannya beberapa perusahaan transnasional mempunyai “turn over” yang melebihi anggaran belanja suatu negara, bahkan kadang-kadang melebihi GNP suatu negara kecil. Dari pandangan kemanusiaan, kekuatan ini memberikan potensi bagi perusahaan transnasional tersebut untuk memberikan sumbangan bagi kesejahteraan masyarakat maupun penyebab penderitaan mereka.

7- Kekuatan Media

Semakin meningkatnya pengaruh media, -baik yang berupa media cetak, media dengar dan media dengar dan pandang-, merupakan gambaran dari masyarakat global saat ini. Semua itu telah berkembang secara dramatis dengan pengenalan teknologi baru untuk komunikasi, reproduksi, transmisi dan disseminasi informasi. Sebagian besar dari agen penyiaran yang mengumpulkan dan menyiarkan berita melintas benua ini dimiliki oleh negara-negara Barat. Kenyataan dominasi oleh Barat ini telah diperkuat dengan berkembangnya siaran televisi dan film, dengan persyaratannya yang berupa modal dalam bentuk fasilitas produksi, alat transmisi maupun keahlian.

Satelit-satelit komunikasi yang sangat instrumental dalam peningkatan kohesi dari “Desa Electronic Global”, dan memegang potensi yang sangat besar bagi masa depan, yang juga membawa kenyataan era baru yang berupa arus informasi lintas batas bangsa dan negara. Televisi lewat satelit dapat menyebarkan pengetahuan dari berbagai kebudayaan. Tetapi juga meletakkan budaya negara-negara yang lebih kecil, lebih miskin dan lebih lebih di dalam bahaya.

III- Pendidikan Global untuk Masa Depan Bersama

Dalam skema Reformasi Pendidikan di Dunia Islam dalam menghadapi Abad XXI ini, perlu diintroduksi sebuah perkembangan yang telah berlangsung di beberapa negara, semenjak dasa warsa yang lalu, yaitu tentang Pendidikan Global (Global Education), dalam rangka mempersiapkan masyarakat kita sebagai warga dunia yang sadar dan bertanggung jawab.Pendidikan untuk saling pengertian dan kerjasama antar bangsa dan antar budaya ini, semenjak dasa warsa yang lalu mendapat perhatian dari para pendidik dan perumus kebijakan dalam dunia pendidikan di dunia. Di dalam Konperensi Tingkat Tinggi Sembilan Negara Berkembang Berpenduduk terbesar di Dunia, tentang “Pendidikan Untuk Semua” (Education for All), yang diselenggarakan di New Delhi, India, pada bulan Desember 1993, telah dilahirkan sebuah komitmen bersama terhadap pengembangan sumber daya manusia, dengan menghormati keaneka ragaman kebudayaan. Di dalam “The Delhi Declaration” yang ditanda tangani oleh Presiden Suharto beserta pemimpin delapan negara lainnya, pada tanggal 16 Desember 1993, dinyatakan bahwa, “Pendidikan merupakan jalan utama bagi peningkatan nilai-nilai kemanusiaan universal, kualitas sumber daya manusia, dan penghormatan terhadap keaneragaman budaya” (butir 2.1). Selanjutnya di dalam butir 2.4. dinyatakan bahwa : “Muatan dan metoda pendidikan harus dikembangkan untuk melayani kebutuhan pendidikan dasar dari pribadi dan anggota masyarakat, untuk memberdayakan mereka agar dapat mengatasi masalah yang sangat mendesak yang berupa,- pemberantasan kemiskinan, peningkatan produktivitas, peningkatan taraf hidup, dan pemeliharaan lingkungan hidup-, dan untuk menjadikan mereka mampu memainkan peran mereka secara benar dalam membangun masyarakat yang demokratis dan memperkaya warisan budaya”.

Komitmen tentang Pendidikan untuk Semua (Education for All) tersebut mengisayaratkan perlunya dikembangkan pendidikan yang mengembangkan keharmonian sosial, penghormatan budaya serta pemeliharaan lingkungan hidup; baik di tingkat lokal, nasional maupun global. Oleh karena itu Pendidikan Global, yang pada saat ini tengah di kembangkan di berbagai negara dan masyarakat, juga menjadi komitmen dari negara-negara yang menanda tangani “Deklarasi New Delhi” tersebut, termasuk Indonesia.

Di dalam masyarakat yang semakin bergantung satu sama lain, baik secara sosial, ekonomi, politik maupun ekologis, di dalam era globalisasi ini, semakin dituntut saling pengertian dan kerjasama antar bangsa dan antar budaya. UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai sebuah badan internasional di dalam bidang pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan, sudah sejak lama menjadikan Pendidikan Global ini sebagai salah satu kepeduliannya. Kepedulian tersebut antara lain tertuang di dalam rekomendasinya tentang “Pendidikan untuk saling Pengertian Internasional, Kerjasama dan Perdamaian” (“Recommendation Concerning Education for International Understanding, Cooperation and Peace”), yang ditetapkan dalam Sidang Umumnya di Paris, tanggal 19 Nopember 1974.

Di dalam “guiding principles”nya, rekomendasi UNESCO tersebut menyatakan bahwa, “Pendidikan hendaknya diarahkan kepada pengembangan manusia seutuhnya. Ia juga harus meningkatkan saling pengertian, toleransi dan persahabatan antara semua bangsa, kelompok suku dan agama, dan hendaknya mengembangkan lebih lanjut kegiatan PBB bagi pemeliharaan perdamaian”. Untuk itu maka, perlu dikembangkan Pendidikan Global yang mengambil kebijakan sebagai berikut :

1- Mengembangkan dimensi internasional dan perspektif global dalam pendidikan pada semua peringkat dan dalam semua bentuk;
2- Pengertian dan penghormatan terhadap semua umat manusia, budaya mereka, peradaban, nilai dan jalan hidup, termasuk budaya etnik setempat dari bangsa-bangsa lain.
3- Kesadaran tentang peningkatan saling ketergantungan global, antar masyarakat dan bangsa.
4- Kemampuan untuk berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain.
5- Kesadaran bahwa tidak hanya hak, tetapi juga kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap pribadi, kelompok masyarakat dan bangsa-bangsa antara satu dengan lainnya.
6- Pengertian terhadap perlunya solidaritas dan kerjasama internasional.
7- Kesiapan setiap pribadi untuk berperanserta dalam memecahkan masalah masyarakatnya, negaranya dan dunia yang luas.

Dengan memadukan antara proses belajar, pelatihan, informasi dan program aksi, maka Pendidikan Global ini hendaknya mendorong lebih lanjut secara tepat perkembangan intelektual dan emosional setiap pribadi. Pendidikan Global harus mampu mengembangkan kesetiakawanan sosial terhadap mereka yang kurang beruntung. Ia juga harus membantu pengembangan kualitas, penghargaan, sikap dan kemampuan yang membuat pribadi-pribadi mampu untuk mengembangkan pengertian kritis terhadap masalah-masalah dalam peringkat nasional dan internasional; untuk memahami dan menjelaskan fakta-fakta, pendapat dan gagasan; untuk mampu bekerja dalam kelompok, untuk menerima dan mengambil bagian di dalam diskusi yang bebas; untuk mentaati peraturan-peraturan dasar dari prosedur yang berlaku pada setiap diskusi, dan untuk mendasarkan penilaian dan pengambialn keputusan atas analisis yang rasional terhadap fakta-fakta dan faktor-faktor yang relevan.

Pada tahun 1995, setelah dua puluh satu tahun, rekomendasi UNESCO tersebut masih relevan bagi pengembangan Pendidikan Global. Rekomendasi tersebut bahkan dikukuhkan kembali di dalam Konperensi Internasional tentang Pendidikan oleh UNESCO, di Jenewa, pada bulan Oktober 1994. Dalam salah satu keputusannya tertuang di dalam dokumentasi UNESCO, Integrated framework of Action on Education for Peace, Human Rights and Democracy, Geneva, October 1994, P2, dinyatakan bahwa :

1- Pendidikan hendaknya mengembangkan kemampuan untuk mengakui dan menerima nilai-nilai yang ada di dalam kebhinekaan pribadi, jenis kelamin, masyarakat dan budaya serta mengembangkan kemampuan untuk berkomunikas, berbagi dan bekerjasama dengan yang lain.
2- Pendidikan hendaknya meneguhkan jati diri dan mendorong konvergensi gagasan dan penyelesaian-penyelesaian yang memperkokoh perdamaian, persaudaraan dan solidaritas antara pribadi-pribadi dan masyarakat.
3- Pendididkan hendaknya mengembangkan kemampuan penyelesaian konflik secara damai dan tanpa kekerasan. Oleh karena itu maka pendidikan hendaknya juga meningkatkan pengembangan kedamaian dalam diri dan pikiran peserta didik, sehingga dengan demikian mereka mampu membangun secara lebih kokoh kualitas toleransi, kesabaran, kemauan untuk berbagi dan memelihara.
4- Pendidikan hendaknya menanamkan perasaan solidaritas dan kesamaan pada peringkat nasional dan internasional, dalam perspektif pembangunan yang seimbang dan lestari.

Menurut Rene Romero, seorang guru besar pendidikan di Philippine Normal College, yang juga direktur Dewan Pendidikan Global Pilipina, setidaknya ada enam kepedulian para pendidik dunia, agar dapat memberikan sumbangannya bagi penciptaan dunia yang lebih maju, sejahtera, adil, damai dan lestari. Untuk itu pendidikan harus dilakukan untuk masa depan dan dari perspektif global; yang berarti mendidik untuk nilai-nilai dasar kemanusiaan; mendidik untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan umat manusia. Enam wilayah kepedulian (area of concern) Pendidikan Global tersebut adalah :
a- Pendidikan bagi masa depan.
b- Wawasan global dalam pendidikan.
c- Pendidikan untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan umat
manusia.
d- Pendidikan bagi nilai-nilai dasar kemanusiaan.
e- Pendidikan bagi kewarganegaraan yang lebih tinggi.
f- Pendidikan untuk peradaban kemanusiaan yang adil, damai dan
sustainable.

Seorang tokoh Pendidikan Global dari Kanada, Paulette Vigeant, direktur Pusat Pendidikan Antar Budaya dan Saling Pengertian Internasional, Kanada, menyatakan bahwa, Pendidikan Global ini lebih merupakan suatu perspektif di dalam pelaksanaan pendidikan. Di dalam makalahnya yang bertajuk “Interdependence : A Key Concept in Global Education Toward a Culture of Peace”, Mei 1995, ia mengemukakan bahwa, Pendidikan Global adalah merupakan suatu perspektif, dan bukan subyek, yang mendasari dan membentuk proses belajar dan mengajar di sekolah. Melalui Pendidikan Global tersebut, para peserta didik akan mengembangkan pemahaman kritis terhadap isu-isu global, serta kecakapan-kecakapan yang menjadikan mereka mampu mengatasinya. Dan lewat Pendidikan Global ini mereka mengembangkan nilai-nilai yang memberikan prioritas terhadap kelestarian lingkungan, saling ketergantungan global, keadilan sosial untuk semua warga dunia, perdamaian, hak asasi manusia, proses ekonomi yang menguntungkan semua penduduk dunia secara global, pengembangan sosial dan budaya. Dan lewat Pendidikan Global ini para peserta didik diberi kemampuan untuk mengembangkan kemauan dan kemampuannya untuk bertindak secara dewasa, menjadi warga dunia yang bertanggung jawab dengan komitmen untuk menciptakan masa depan yang positif bagi diri mereka, masyarakat dan dunia.

Dalam pengertian tersebut, maka Pendidikan Global sebenarnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari Pendidikan Pembangunan (Development Education), Pendidikan Lingkungan (Environmental Education), Pendidikan Perdamaian (Peace Education) dan Pendidikan Hak Asasi Manusia (Human Rights Education) yang selama ini telah dikembangkan. Untuk di sekolah-sekolah maupun dalam masyarakat Indonesia, Pendidikan Global ini dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran yang relevan. Dan sekaligus menyemangati proses belajar dan mengajar.

Pada saat ini di dunia pendidikan telah berkembang apa yang disebut “Global Core Curriculum”. Pendidikan Global dengan “Global Core Curriculum”nya ini, antara lain dirintis oleh DR. Robert Muller, seorang tokoh Internasional yang telah berpengalaman beberapa kali menjadi penasehat beberapa orang Sek. Jen. PBB. Dan sekarang menjabat sebagai Rektor Universitas Perdamaian PBB di Costa Rica. Pada saat ini telah dikembangkan lembaga kerjasama Pendidikan Global yang bernama Global Education Associates, yang berpusat di New York, yang telah berkali-kali menyelenggarakan ko perensi internasional tentang Pendidikan Global. Dan pada bulan Juli 1994, telah dilakukan penganugerahan “Hadiah Pendidikan Global Internasional ” di New York, yang juga dihadiri oleh DR. Robert Muller, tokoh penggagas Pendidikan Global tersebut.

Nampaknya menghadapi proses globalisasi ini , Pendidikan Global perlu dikembangkan di taman pendidikan di Indonesia, yang diharapkan mampu mempersiapkan generasi muda untuk masa depan mereka yang lebih baik, dalam memasuki Abad XXI. Dan dapat mengembangkan wawasan dan sikap hidup, yang lebih memadai dengan peran dan tanggung jawab, sebagai warga negara Indonesia dan warga dunia yang baik.

Demikian uraian singkat tentang Pendidikan Global, yang diharapkan mengundang diskusi lebih lanjut bagi pengembangannya di lembaga-lembaga pendidikan di tanah air kita. Untuk meningkatkan upaya mempersiapkan generasi muda untuk masa depan mereka yang lebih baik, dalam memasuki Abad XXI. Dan dapat mengembangkan wawasan dan sikap hidup, yang lebih memadai dengan peran dan tanggung jawab bersama, sebagai warga negara Indonesia dan warga dunia yang baik. Berbagai lembaga pendidikan dan lembaga swadaya masyarakat dengan potensi dan ciri khasnya masing-masing diharapkan dapat mengambil inisiatif di dalam pengembangan pendidikan global tersebut dengan mengintegrasikannya di dalam di dalam proses pendidikan dan program pembangunan yang dilaksanakannya.

Dengan uraian singkat tentang Pendidikan Global tersebut direkomendasikan :

1- Dikembangkan kajian-kajian masalah masa depan (futures studies) di kalangan lembaga-lembaga pengkajian dan pendidikan.

2- Dikembangkan Pendidikan Global (Global Education) di berbagai peringkat pendidikan, dengan mengintegrasikannya di dalam seluruh proses pendidikan.

3- Dibentuk jaringan kerja nasional Pendidikan Global untuk mengembangkan wawasan, muatan dan metodanya.

4- Agar lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia mengambil bagian secara aktif dalam diskursus tentang Pendidikan Global dalam forum regional dan internasional.

Jakarta, 10 Oktober 1998

**)- Penulis adalah anggota Dewan Nadzir Wakaf Darunnajah,
Direktur Eksekutif IIFTIHAR dan anggota Dewan Pendidikan Internasional
Project Global 2000, New York.

Bahan Rujukan :

1- Bonoan, Reul (ed), “Values Formation in Higher Education”, National Book Store, Metro Manila, 1985.
2- Boulding, Elise, “The Dynamic of Imaging Futures”, di dalam “World Future Society Bulletin”, Vol. XII, No. 5, September-Oktober, 1982.
3- Cetron, Marvin dan O’toole, Thomas, “Ecounters With The Future: A Forecast of Life into The 2lst Century”, Mc. Graw-Hill Book Company, New York, 1982.
4- Crawford, Richard, “In the Era of Human Capital”, Harper Bussiness, New York, 1991
5- Dias, Patrick V, DR, “The National Education System : Its Socio-Cultural Relevance and The Quest for Alternatives”, dalam Manfred Oepen dan Wolfgang Karcher (ed), “The Impact of Pesantren in Education and Community Development in Indonesia”, P 3 M, Jakarta, 1988
6- Dickson, Paul,. “Think tanks”, Balantine Books, New York, 1971
7- Geisler, Norman L, “Ethics : Alternatives and Issues”, Zondervan, Michigan, 1971.
8- Gremillion, Joseph and Ryan, William (ed), “World Faiths and The New World Order”, Interreligius Peace Colloquium, Washington DC, 1978.
9- Hausmann, Gottfried, “Tasks of Perspective Educational Planning”, di dalam “Education”, A Series Issued in the Service of Scientific Co-operation, Institute for Scientific Co-operation, Tubingen, 1973
10- Kanaev, Nikolai, “the United Nations and Global Education : Educational Implications and Mandates from Recent Coming UN Conferences : Experience of UNESCO”, makalah disampaikan pada Konperensi Dunia tentang Global Education, Boston, Maret 1995.
11- Khan, Sadruddin Aga and Talal, Hassan Bin, “Winning The Human Race”, The Report of The Inde[pendent Commiieon on International Humanitarian Issues, Zed Books, London and New Jersey, 1988.
12- Kothari, Rajni, “Footsteps Into The Future, Diagnosis of The Present World And a Design For an Alternative”, The Free Press, New York, 1974.
13- Mulkeen Thomas A dan Tetenbaum, Toby J., “Designing Teacher Education for the Twenty First Century”, dalam “Journal of Higher Education”, Vol. 57, No. 6, November/December, Ohio State University Press, 1986
14- Obenhause, Victor, “Ethics for an Industrial Age”, John Wiley and Son, Inc., New York, 1967
15- Romero, Rene, “Educating for Peace in an Interdependent World”, dalam”Social Alternative”, Volume 9, No. 2, Alexandria, July 1990.
16- Sardar, Zainuddin, “Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim”, Alih Bahasa Rahmani Astuti, Mizan, Bandung, 1986.
17- Soedjatmoko, “Education In The Global Crisis : Towards an Ethic of Human Survival and Solidarity”, makalah yang disampaikan pada Global Converence of Spiritual and Parliamentary Leaders on Human Survival, Oxford University, 1988.
18- The United Nations, “Global Outlook 2000”, United Nations Publications, New York, 1990.
19- The United Nations, “World Concerns and the United Nations : Model Teaching Units for Primary and Teacher Education”, The United Nations Publications, New York, 1983.
20- Vigeant, Paulette, “Interdependence : a Key Concept in Global Education toward a Culture of Peace”, makalah disampaikan pada Konperensi Internasional Pendidikan Global di Boston, Maret 1995.

Written by Habib Chirzin

November 24, 2008 at 8:59 am

Posted in 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: