Habib Chirzin’s Weblog

Blog On Peace, Human Rights and Human Responsibilities

PENDIDIKAN DAN KARAKTER BANGSA

leave a comment »

Education ‘key’ to multicultural nation
Jakarta (The Jakarta Post: 05/08/06) Ketika Indonesia sedang sibuk mengatasi berbagai masalah ekonomi serta bencana yang tiada hentinya, para pakar menyerukan bahwa untuk membangun masyarakat yang pluralistik dan damai, Indonesia harus mengedepakan reformasi pendidikan yang mendorong toleransi untuk saling menghargai perbedaan masing-masing.
“Reformasi merupakan kunci untuk membentuk karakter bangsa kita, yang telah dirongrong rasa saling curiga antar warga,” kata Habib Chirzin, anggota Komnas HAM Selasa lalu saat berdialog dengan para mahasiswa di Jakarta Timur. Habib mengatakan bahwa sejarah panjang pemerintahan tangan besi di Indonesia sejak kemerdekaan telah merusakkan rasa saling hormat serta salaign menghargai antar warga. “Kita mewarisi budaya untuk merepresi pihak lain demi keuntungan sendiri,” tandasnya. Habib menjelaskan bahwa hal ini mengharuskan kita untuk sedini mungkin mengajarkan pada para siswa bahwa mereka tinggal dalam masyarakat yang beraneka-ragam.
Mudji Sutrisno, profesor filsafat dari UI, mengatakan budaya represif juga cenderung untuk membawa masyarakat pada kehidupan materialistik yang membawanya lebih menjauhi lagi nilai-nilai budaya untuk menghargai keberagaman. Menurutnya, pemerintah harus turun tangan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari. “Harus ada strategi budaya yang konkrit untuk mempromosikan pluralisme di negara ini. Mereka yang melawannya harus memperoleh hukuman,” tandasnya. Menurut Mudji, pemerintah harus mengambil langkah tegas terhadap kaum fundamentalis yang mencoba mencelakai orang-oarng yang berbeda dengan mereka.
Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengatakan semua elemen masyarakat harus mengedepankan harmoni dan menghindari aksi yang dapat mengakibatkan pertikaian politik dan sosial. Dia mencontohkan pertunjukan gosip hiburan (infotainment), yang menurutnya lebih baik tidak usah ditayangkan bila hanya akan mendatangkan kontroversi. Ia juga mengatakan bahwa memberi label beberapa perda sebagai perda syariat juga kontra-produktif. “Menurut saya peraturan – peraturan demikian tidak harus diberi label demikian yang hanya menciptakan bias terhadap umat Muslim. Lebih baik semangat syariah di terapkan pada hukum positif,” katanya, sembari menambahkan bahwa semua agama pada dasarnya memiliki nilai-nilai yang serupa dalam membedakan mana yang baik dan buruk..
By Adisti Sukma Sawitri, The Jakarta Post, Jakarta

Written by Habib Chirzin

November 24, 2008 at 9:47 am

Posted in NEWS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: