Habib Chirzin’s Weblog

Blog On Peace, Human Rights and Human Responsibilities

PAK NATSIR : PERAN DAN PANDANGAN DUNIA INTERNASIONAL

leave a comment »

PAK NATSIR : PERAN DAN PANDANGAN
DUNIA INTERNASIONAL

Oleh
M. Habib Chirzin

Bismillahirrahmanirrahiem

1- Keteladan dan Kepemimpinan yang Istiqomah.

Keharuman nama Pak Natsir tidak hanya semerbak di seantero Nusantara, tetapi melewati batas-batas wilayah bangsa dan negara. DR. Mohammad Natsir dihomati, diingat dan diteladani; bahkan menjadi sebutan yang tiada henti dan keutamaan yang abadi (dzikran mukholladan wa majdan baqiyan) bagi dunia Islam. Pak Natsir ibarat samudera tak bertepi. Itulah sebabnya upaya untuk menuliskan peran beliau yang sangat besar dan luas di dunia Internasional, hampir mustahil di lakukan secara perorangan. Hal itu merupakan panggilan bagi kita bersama untuk membentuk suatu lembaga kajian Muhammad Natsir untuk Peradaban Dunia, misalnya. Adapun yang penulis sajikan saat ini sekedar melengkapi apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh para penulis sebelumnya, dan memberi makna dan konteks kekinian. Dengan memberikan ilustrasi perkembangan dari berbagai rintisan dan kerjasama internasional yang telah dilakukan oleh Pak Natsir.

Pada tanggal 14 Mei 2008 yang lalu, penulis bertemu dengan DR. Khalid Ikramullah Khan, putra dari Alm DR. Inamullah Khan, Sek Jen Muktamar al Alam al Islamy (The World Muslim Congress) yang berpusat di Karachi, yang dengan antusias menyampaikan kesannya yang sangat mendalam atas kepemimpinan dan kebijakan Pak Natsir di dalam menghadapi persoalan dunia Islam. Termasuk pembelaannya terhadap nasib komunitas muslim minoritas di berbagai Negara. Sebagaimana ayahandanya yang semasa menjabat Sek Jen Muktamar sangat dekat dekat dengan Pak Natsir, maka Khalidpun sering berkomunikasi dan mendapat tugas untuk membantu kegiatan dakwah dan perjuangan umat Islam di Filipina Selatan bekerjasama dengan para pemimpinnya seperti DR. Ahmad Allonto, DR. Ali Dimmaporo, Datu Mastura, Ustadz Ilyas yang kemudian menjadi Imam besar di Blue Mosque dan memimpin komunitas Mulsim di permukiman di kawasan Maharlika, Manila. Lewat proses yang panjang dan mediasi yang dilakukan oleh OKI (Organisasi Konperensi Islam) dan jasa baik Indonesia dengan mengacu kepada ASEAN framework, pernah tercapai suatu Peace and Development Accord. Tetapi di dalam proses perjalanannya Peace Process tidak berjalan dengan mulus.

Selain masalah umat Islam di Filipina Selatan, Pak Natsir juga memberikan perhatian yang besar kepada masalah Palestina, Afghanistan, Cyprus, Etnik Muslim di Burma, krisis Bosnia dll. Khusus masalah Palestina ini Pak Natsir pernah menulis sebuah buku yang bertajuk “Qadhiyatu Falisthin” (Masalah Palestina). Pak Natsir juga dikenal dekat dengan Mufti Besar Palestina (pada saat itu), Sheikh Mohammad Amin Al Husseini.

Sehari sebelum pertemuan dengan DR. Khalid Ikramullah Khan, penulis mendampingi Dato Seri DR. Anwar Ibrahim dari ruang VVIP bandara Sukarno-Hatta menuju Senayan untuk peluncuran buku DR. Amien Rais, tgl 13 Mei 2008. Di dalam mobil, Pak Anwar menyampaikan bahwa Pak Natsir adalah guru dan pemberi inspirasi semua gerakan Islam di Malaysia. Secara pribadi DR. Anwar Sangat hormat dan merasa sangat dekat dengan Pak Natsir. Sehingga selepas menikah dengan DR. Wan Azizah Ismail, sebagai pengantin baru mereka menghadap Pak Natsir untuk meminta restu dan bimbingan. Oleh Pak Natsir kemudian diminta diantar keliling kota Jakarta dengan didampingi oleh Ust. Hussein Umar (alhm). Kedekatan Anwar Ibrahim dengan Pak Natsir terutama pada saat memimpin ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) dan WAMY (World Asssembly of Muslim Youth) yang berpusat di Jeddah. Meskipun untuk kegiatan WAMY ini lebih banyak diserahkan kepada orang dekatnya, Komaruddin Mohd Noor. Salah satu kegiatan WAMY Asia Pacific yang mendapat restu dari Pak Natsir adalah “Regional Islamic Science Conference for Asia Pacific” di hotel Horizon, Jakarta, tgl 12 sd 15 Februari 1989. Hadir pada saat ini para ilmuwan muslim dunia seperti Prof. DR. Naquib Al Attas, Prof. DR. Munawar Ahmad Anees, Prof. DR. Osman Bakar dll. Dari Yogyakarta pada saat itu hadir Prof. DR. Yacub, Prof. DR. Ahmad Mohammad Joyosugito dan DR. Ahmad Mursyidi. Sedangkan penulis bersama DR. Jimly Asshiddieqie, DR. Mohammad Noer dkk sebagai panitia di bawah kepemimpinan Let. Jen. Ahamd Tirtosudiro. Hadir pula Sek Jen WAMY dari Jeddah, DR. Maneh Al Johani. Konperensi tersebut merekomendasikan pembentukan The Association of Muslim Scientists in Asia and Pacific, dengan Sek Jennya dijabat oleh Kamaruddin Mohd. Noor, di Kuala Lumpur.

Kegiatan di bidang akademik dengan menjalin kerjasama Muslim Social Scientists Association of America (MSSA) dan juga di United Kingdom serta kegiatan di bidang Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of Knowledge) dengan penerbitan Jurnal Ilmu Sosial yang tersebar di seluruh dunia, American Jurnal of Islamic Social Sciences (AJIS) maupun buku-buku tentang IPTEK dilakukan oleh IIIT (International Institute of Islamic Thought) yang berpusat di Virginia, USA, dengan cabang-cabangnya tersebar di London, Paris, Koln, Istanbul, Jakarta, Jeddah, Amman, Cairo, Kano, Khartoum, Islamabad, Dhakka, Kuala Lumpur dsb. Secara spesifik, pada saat ini IIIT mengembangkan kajian Islamic Epistemology (Nadzariyyatul Ma’rifah al Islamiyah), bekerjasama sama dengan berbagai perguruan tinggi di dunia.

Baru-baru ini, pada tanggal 1 dan 4 Juni 2008, dua orang tokoh Muslim dari Singapore, Ustadz Abdussalam Sulthan yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Raya Seoul, Korea; yang atas rekomendasi Bang Imad (DR. Imaduddin Abdurrahiem), dikirim oleh Pak Natsir belajar ke Universitas Islam, Madinah; dan Encik Jamal Tukimin, seorang sastrawan dan pimpinan penulis Melayu di Singapura, menyampaikan kesannya yang sangat mendalam atas kepribadiann Pak Natsir yang mencurahkan perhatiann dan perjuangannya untuk kepentingan umat dan khususnya masyarakat Muslim minoritas, sebagaimana di Singapore. Di dalam salah satu lawatannya ke luar negeri pada tahun 1970-an dengan di dampingi oleh Ust. Agustjik, beliau menyempatkan diri bersillaturrahmi dan memberikan ceramah di Dewan Darussalam, di rumah Ibu H Maisaroh Hilal, cucu K H A. Dahlan, di Lorong Melayu no 25, Singapura. Kehadiran Pak Natsir telah membesarkan hati dan membangkitkan semangat dakwah dan perjuangan di kalangan umat Islam di Singapura, yang pada saat itu masih tinggal di lingkungan komunitas Melayu di sekitar Geylang, Bedok, Katong dsb. Komunitas

Sampai saat ini masalah Muslim minoritas ini masih memerlukan perhatian dan kerjasama umat Islam di dunia. Beberapa lembaga dakwah yang melakukan pelayanan untuk komunitas minoritas Muslim di kawasan Asia Pasific adalah RISEAP dan PERKIM. Pada tahun 2005 telah diselenggarakan suatu konperensi tentang komunitas Muslim di Asia Pacific di Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) yang disponsori oleh MENDAKI Singapura dan ISESCO (Islamic Scientific, Educational and Cultural Organization) di bawah OKI.

Keteladan dan kepemimpinan Pak Natsir telah memberikan ingatan dan kesan yang mendalam di hati mereka yang pernah berkenalan dan bekerja di bawah bimbingannya. Banyak orang-orang muda yang sekarang memegang kepemimpinan dan tanggung jawab di Negara masing-masing seperti Dato Seri Anwar Ibrahim, DR. Khalid Ikramullah Khan, Ust. Abdul Salam Sultan dan banyak pemimpin Muslim lainnya yang tersebar di seluruh penjuru dunia yang memperoleh bimbingan langsung maupun inspirasi dari Pak Natsir keteladanannya dan kepemimpinannya yang istiqomah.

2- DR. Mohammad Natsir terpilih sebagai 100 Tokoh Muslim Besar di Abad XX.

Ketokohan Pak Natsir di tingkat dunia, baru-baru ini diakui dan dipilih sebagai 100 tokoh besar Muslim di seluruh dunian pada abad XX, di dalam sebuah buku yang indah, bertajuk ‘’100 Great Muslim Leaders of the 20 Century” , yang diterbitkan oleh, Institute of Objective Studies, New Delhi, 2005, sebuah jaringan IIIT (International Institute of Isdi India. Buku ini di edit oleh DR. Z.M. Khan, A.R. Momin, Manzoor Ahmed, Shaukat Ullah Khan dan Z.A. Nizami. Di mana pemulis menjadi salah seorang kontributornya.

Pak Natsir dipilih sebagai 100 pemimpin besar Muslim pada Abad ke 20, bersama tokoh-tokoh Islam dunia seperti : 1- King Abdul Aziz bin Abdul Rahman al-Saud, Saudi Arabia, 2. King Faisal bin Abdul Aziz al-Saud, Saudi Arabia, 3. Mohammed Ali Jinnah, Pakistan, 3. Necmettin Erbakan, Turki dll untuk jajaran pemimpin Negara.
Juga dengan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan, seperti : 1- Hajj Muhammad Amin al-Husayni, Palestina. 2. Imam Hasan al-Banna, Mesir. 3. Sheikh Ahmad Yassin, Palestina. 4. Umar al-Mukhtar, Libya, dll.
Kemudian para tokoh ulama semisal : 1. Abdel Qadir Awdah, Mesir. 2. Dr. Yusuf al-Qaradawi, Qatar. 3. Malik bin Nabi, Aljazair.4. Syed Abul Ala Mawdudi, India. 5. Syed Abul Hasan Ali Nadvi, India dll.
Selanjutnya para tokoh pemikir dan penulis, sebagaimana : 1. Dr. Mohammad Iqbal, India. 2 Mohammad Asad, Jerman. 3. Prof. Khurshid Ahmad, Pakistan. 4. Prof. Muhammad Hamidullah, Perancis. 5 . Sheikh Mustafa Ahmad al-Zarqa, Syria dll.
Kemudian dengan jajaran para pendidik dunia, semisal : 1. Mohammad Abduh, Mesir. 2. Mohammad Rashid Rida, Mesir, 3. Mustafa al-Siba’i, Syria. 4 . Sayyid Qutb, Mesir. 5 Shaikh Bedi’uzzaman Sa’id Nursi, Turki dst.

Di dalam kata pengantarnya, para editor menulis sebagai berikut : “…… this book profiles the life and times of 100 great Muslim leaders, the impact of whose thoughts and achievements continue to shape our lives in the 21 century. Quite a few of them are still among us, their lives’ best work yet to come. This book endeavours to enrich our knowledge about the Muslim world while dispelling centuries-old myths and misconceptions”.
“ The Institute of Objective Studies (IOS), based in New Delhi, is vision-inspired to be working for the creation of a humane society. The IOS, adhering to the core principles of Islam, is facilitating the integration of knowledge through interdisciplinary inquiry and research. This book is an account of the most momentous 100 years of world history, bringing into perspective many of the challenges being faced in our multicultural, multiethnic world, and the way Islam has engaged with them.”
Di dalam buku tersebut antara lain Pak Natsir ditulis sebagai seorang tokoh reformist : “ It was also the time south-east Asia witnessed new movements of Islamic reforms demanding far-reaching changes in religion and public ethos. The reformers sought to eliminate un-islamic accretions and criticised elitist conservatism of traditional religious jurists, insisting that all Muslims must the Quran and follow its teachings. They argued in support of ijtihad and rejected taqlid. Simultaneously, coping with Western challenges and welcoming such Western innovations as modern science and mass education, the reformists were determined to create a modern and progressive Muslim community. Mohammad Natsir belonged to this class of refprmist”. (p78)
Di dalam beberapa sumber, Pak Natsir ditulis memiliki hubungan ideal, kalaupun tidak personal, dengan tokoh-tokoh Islam dunia, seperti Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Hassan al Banna, Mufti Besar Muhammad Amin al Hussani, Syed Abul Ala Mawdudi, Syed Abul Hasan Ali Nadvi, Prof. Khurshid Ahmad dan lain-lain. Hubungan-hubungan ini pada saatnya perlu dikaji lebih lanjut.

3- Pemegang Amanah Lembaga Islam Internasional

Sebagai seorang pemimpin Islam kaliber dunia, pada th 1967 Pak Natsir mendapat amanah untuk menjadi Wakil Presiden World Muslim Congress (Muktamar al Alam al Islami), yang berkedudukan di Karachi, Pakistan. Sebuah lembaga dunia yang lebih yang sangat giat melalukan advokasi kepentingan dan perjuangan umat Islam di berbagai penjuru dunia. Penulis sempat bertemu dengan beberapa tokoh yang menjadi Sek Jennya, seperti DR. Inamullah Khan, pada tahun 1979 dan 1987 di Jakarta. Kemudian dengan DR. Mohammad Omar Naseef, di Chicago dalam pertemuan tahunan ISNA (Islamic Society of America), pada bulan September 1997 dan bersama-sama memberikan kata sambutan pada upacara pembukaan, di mana penulis mewakili Prof. DR. BJ. Habibie, dari IIFTIHAR (International Islamic Forum for Science, Technology and Human Resources Development). Dan pada World Peace Summit of Religious and Spiritual Leaders di PBB New York, pada bulan Agustus 2000. Terakhir dengan HE Raja Zafarul Haq, di dalam World Peace Forum di Jakarta, pada bulan Agsustus, tahun 2006. Dalam setiap pertemuan dengan para tokoh Sek Jen WMC tersebut, mereka selalu menceritakan kepemimpinan dan keteladanan Pak Natsir. Suatu pengakuan dan penghargaan oleh dunia.

Dua tahun kemudian, Pak Natsir diangkat menjadi anggota Rabithah al Alam al Islami (World Muslim League), Mekah, Saudi Arabia pada tahun 1969; sebuah lembaga yang sangat berpengaruh dan besar sumbangannya bagi dunia Islam. Pak Natsir sebagai seorang pemimpin dan ilmuwan mendapat tempat yang tersendiri di lingkungan Rabithah ini. Itulah sebabnya selalu referensi dari Pak Natsir memperoleh perhatian khusus oleh Rabithah. Demikian pula beberapa Sek Jen Rabithah yang sempat penulis temui, seperti DR. Saleh al Obeid dan DR. Ahmed Mohammad Ali, yang kemudian menjadi President IDB (Islamic Development Bank). Pada masa kepemimpinan DR. Ahmed Mohammad Ali ini, didirikan pusat kajian Mukjizat Al Qur’an dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ( Haiatu I’jaazil Qur’an fil ‘ilmi wat Taqanah). Yang berikutnya dilanjutkan oleh DR. Saleh al Obeid, bersama IDB, IIIT dan ICMI mendirikan IIFTIHAR (International Islamic Forum for Sciences, Technology and Human Resources Development) yang diketuai oleh Prof. DR. BJ Habibie, yang didirikan di kantor pusat IDB, Jeddah, pada bulan Juni 1996.

Selanjutnya pada tahun 1972 Pak Natsir menjadi anggota Majlis A’la al-Alam lil Masajid (Dewan Teringgi Masjid Sedunia) yang berkedudukan di Mekah, Saudi Arabia. Lembaga ini memiliki posisi yang sangat penting oleh karena masjid merupakan pusat ibadah, kegiatan dan kehidupan umat Islam. Di Indonesia juga didirikan Ikatan Masjid Indonesia (IKMI) yang berkantor di Gedung DDII Jl. Kramat Raya 45 dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang sekarang berkantor di Masjid Istiqlal. IKMI menebitkan majalah SUARA MASJID, dengan Pak Natsir sebagai Penasehatnya.

Pak Natsir kemudian menjadi anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation, Kuwait, Pada tahun 1985, yang di antara tokohnya, Sheikh Yusuf al Izzi. Lembaga ini banyak membantu dunia Islam dalam berbagai kegiatan pelayanan social, dakwah, pelatihan pemuda Islam dan sebagainya. Bahkan juga membantu memberikan beasiswa kepada pelajar dan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Dalam suatu pertemuan di Jakarta, Bang Imad menyampaikan bahwa DR. Yusuf al Izzi dianggapnya sebagai bapaknya sendiri, sebagaimana halnya dengan Pak Natsir.

4- Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Peradaban Islam.

Tidak dapat dipungkiri peran Pak Natsir yang sangat significan dalam pengembangan pemikiran Islam dan kebangkitan peradaban Islam di dunia, dalam suatu rangkaian gerakan dari DR. Mohammad Iqbal sampai dengan DR. Ali Shariati, sebagaimana yang dicatat oleh DR. Wasiullah Khan :
“ Iqbal (1877-1937) was designed to be the pre-eminent thinker of the time and initiator of a new movement of ideas which has held sway for the last 80 years. He was the greatest synthesis of both eastern and western thought of his time. Besides Iqbal, the thinkers of this new movement – Said Nursi of Turkey (1873-1960), Abul Ala Mawdudi of Pakistan (1903-1979), Malek Bennabi of Algeria (1905-1973), Hasan Al Banna (1906-1949) and Syed Qutb (1906-1966) of Egypt, Muhammad Natsir of Indonesia (1908-1993), and Ali Shariati of Iran (1933-1977)- had a new focus: revival of the Islamic civilizational heritage”. (Iqbal’s Thought and Contributions, Wasiullah Khan, Ph. D, dalam http://www.yespakistan.com/iqbal/www.icna.org%5D)

Oleh karena perannya yang besar dalam pengembangan ilmu dan peradaban, pada tahun 1986 Pak Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Centre for Islamic Studies, London, Inggris, sebuah lembaga pendidikan tinggi yang cukup prestigious. Di bawah kepemimpin Prof. DR. Farhan Nizami, seorang scholar berasal dari Pakistan, lembaga ini mengalami kemajuan yang cukup pesat. Baru-baru ini, lewat sahabat dekat Prof. DR. Imtiyaz Yusuf dari AMAN (Asian Muslim Action Network), April 2008, penulis memperoleh informasi tawaran untuk program penelitian Islam di Asia Tenggara, di bawah program Imam Buchori dari lembaga tersebut.

Pada tahun yang sama Pak Natsir diangkat menjadi angota Majelis Umana’ International Islamic Univesity, Islamabad, Pakistan, salah satu Universitas Islam Internasional yang didirikan oleh OKI, sebagaimana IIUM (International Islamic University, Malaysia). Pada saat ini dibawah kepemimpinan Prof. DR. Zafar Ishaq Anshari, universitas ini mempunyai ribuan mahasiswa dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Sejak awal bulan Mei 2008, Universitas ini mendirikan lembaga pengkajian Islam dan peradaban yang dipimpin oleh seorang tokoh ilmuwan Prof. DR. Mumtaz Ahmad, yang selama ini mengajar ilmu politik di Hampthon University, USA. Prof. Mumtaz adalah sahabat karib Prof. DR. M. Amien Rais dan Prof. DR. Ahmad Syafii Maarif sewaktu menjalani studinya di universitas Chicago. Di dalam emailnya yang dikirim kepada penulis pada bulan Maret 2008, Prof. Mumtaz ingin mengajak kerjasama dengan lembaga-lembaga pengkajian di Indonesia.
Berkat jasanya yang besar di dalam bidang akademik, Pak Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Politik Islam dari Universitas Islam Libanon (1967), dalam kemudian menerima gelar Doktor Honoris Causa di bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sain dan Teknologi Malaysia (1991)

Oleh karena pengabdiannya yang tidak mengenal lelah di dalam dakwah dan pelayanan kepada umat, pada tahun 1980 Pak Natsir menerima “Faisal Award” atas pengabdiannya kepada Islam dari King Faisal, Saudi Arabia. Sebuah penghargaan dan pengakuan atas jasa-jasanya yang sangat besar kepada umat Islam. Suatu tugas yang diembannya sampai Allah memanggil kehadhiratNya pada hari Sabtu tanggal 6 Februari 1993 pukul 12.10 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dalam usia 84 tahun. Pak Natsir telah tiada, tetapi meninggalkan keteladanan moral kepemimpinan, keteladanan dan karya-karya yang tidak ternilai harganya, ibarat ratna mutu manikam. Yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Beradasarkan kajian awal ini dan beberapa kajian yang telah dilakukan di berbagai tempat, sudah saatnya untuk dipikirkan bersama pendirian Pusat Kajian Mohammad Natsir dan Peradaban. Wallahu a’lamu bis showaab.

Yogyakarta, 10 Juni 2008
Daftar Rujukan :
1- Alam, Mohammed Manzoor, DR (ed), ‘’100 Great Muslim Leaders of the 20 Century” , yang diterbitkan oleh, Institute of Objective Studies, New Delhi, 2005
2- Davis, Joyce M, “Between Jihad and Salam, Profiles in Islam”, St. Martin’s Press, New York, 1997
3- Kahin, George McT. , “In Memoriam: Mohammad Natsir (1907-1993)”, Southeast Asia Program Publications at Cornell University, 1993
4- Natsir, M., “ Kegelisahan Ruhani di Barat : Peranan dan Tanggung djawab Civitas Academica dan Perguruan tinggi”, Disusun oleh S.U. Bajasut. Surabaja : DDII Perwakilan Djatim, [1969].
5- Natsir, M., Masalah Palestina / M. Natsir. Tjet. 1. Djakarta : Hudava, 1970
6- Natsir, M., World of Islam Festival dalam perspektif sejarah : ceramah pada tanggal 19 Juni 1976 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta, Yayasan Idayu, Jakarta, 1976.
7- Natsir, M. (Mohammad), Some observations concerning the role of Islam in national and international affairs; an address originally made before the PakistanInstitute of World Affairs with subsequent elucidatory additions. Ithaca, Southeast Asia Program, Dept. of Far Eastern Studies, Cornell University, 1954. Series title: Data paper (Cornell University. Southeast Asia Program) ; no. 16.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

.
N a m a : M. Habib Chirzin

Tempat/Tgl. lahir : Kotagede, Yogyakarta, 8 Januari 1949

Alamat : Jl. Kemuning Raya no 8, Utan Kayu Utara, Jakarta Timur 13120

HP. 081314438848

e-mail : habibpeace@yahoo.com
blog : http://www.habibch.wordpress.com

Pendidikan / Training :

1- SD. Muhammadiyah, Bodon, Kotagede, Yogyakarta, 1961
2- KMI, Pondok Modern, Gontor, Ponorogo, 1968
3- Institut Pendidikan Darussalam, Gontor, Ponorogo, 1972
4- Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 1983
5- Development Workers Program, Asian Cultur¬al Forum on Development (ACFOD) Food and Agricultural Organization (FAO) Asia Pacific, Bangkok, Manila, Kuala Lumpur, Colombo, Dacca, Kathmandu, 1978
6- Cross Cultural Consultancy, Den Haag, 1985
7- Adult Learner Center, Riverside Drive, New York, 1990

Jabatan :

1- President, Forum for Peace, Human Rights and Development
2- Islamic Epistemology Program, International Institute for Islamic Thought (IIIT), Asia Tenggara
3- Council, Asian Muslim Action Network ( AMAN)
4- Editor in Chief, an English Journal : Islamic Millennium Forum on Human Security, Human Rights and Responsibility.

Keanggotaan Organisasi Internasional :

1- Anggota Sekretariat , International Study Days for Society Overcoming Domination, Paris (1979 – 1981)
2- Anggota Dewan Pendiri, dan Dewan Direktur South East Asia Regional Institute for Community Education (SEA-RICE), Manila, 1982 sampai sekarang.
3- Konsultan, The Netherlands Organization for International Development Cooperation ( NOVIB ), Den Haag, 1985 – 1986
4- Anggota International Peace Research Association (IPRA), Peace Education Com-mission, Boulder Colorado, 1990-1994
5- Anggota Coordinating Team, Asian Cultural Forum on Development (ACFOD), Bangkok, 1991 – 1995
6- Anggota Komisi “Pendidikan Hak Asasi Manusia dan Perdamaian”, Asian and South Pacific Bureau for Adult Education ( ASPBAE ), Bangkok, 1991-1995
7- Anggota, Asian Muslem Action Network (AMAN), Mumbai, India, 1992 sampai seka-rang.
8- Anggota International Advisory Board, Global Education Associates, New York, 1994 sampai sekarang
9- Anggota International Advisory Panel, International Movement for a Just World, Kuala Lumpur, 1994 seumur hidup.
10- Regional Representative, School for Islamic and Social Studies (CISS), Virginia, USA, 1997
11- Anggota, International Advisory Board, Global Family for Love and Peace, Taipei, Taiwan, 2002 sampai sekarang
12- Anggota, International Advisory Board, Forum on Global Ethic and Religions, California, USA, 2003 sampai sekarang
13- Anggota Council, Asian Muslim Action Network (AMAN), Bangkok, 2003 sampai sekarang
14- Anggota, Advisory Board, MDGs Global Watch, New York, 2006 sampai sekarang

Penghargaan dan Sertifikat :

1- The International Aga Khan Award for Architecture, Pakistan,1980

2- The Ambassador of Good Will, Gubernur Negara Bagian Arkansas, Bill Clinton, Arkansas 1987

3- The Ambassador of Peace, Interreligious and International Federation for the World Peace (IIPWF), Seoul, 2002

Written by Habib Chirzin

November 24, 2008 at 8:56 am

Posted in 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: