Habib Chirzin’s Weblog

Blog On Peace, Human Rights and Human Responsibilities

KH Hamam Dja’far dan Pesantren Pabelan : Sebuah Refleksi

leave a comment »

 

MEMAKNAI FENOMENA KYAI HAMAM DJA’FAR DAN PONDOK PABELAN : SEBUAH REFLEKSI PRIBADI

Oleh

M. Habib Chirzin

 

1-      Pilihan Hidup dan Medan Ibadah.

Kyai Hamam Dja’far dengan Pondok Pabelan-nya adalah sebuah fenomena. Terpadu di dalamnya fenomena sosio kultural dan religius. Makna keberadaannya (existence) di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang sedang membangun dan umat Islam yang sedang bangkit di abad ke 15 Hijriyah, sangatlah kaya dan dalam. Di sana ada berbagai pertanyaan yang harus dijawab dengan mendasar. Tetapi juga permasalahan umat dan bangsa yang harus segera diselesaikan. Karena berpacu dengan waktu. Sementara kesadaran kritis (critical awareness) masyarakat, khususnya umat Islam tidaklah merata.  Beban sosial, kutural, ekonomi dan politis umat Islam pada tahun 1960-an sangatlah berat. Ditambah dengan kondisi kemiskinan, keterbelakangan dan keterbatasan pendidikan umat Islam sangatlah memprihatinkan.

Ketika seorang Hamam muda yang baru kembali dari nyantri di Pondok Modern Darussalam, Gontor, mendirikan, atau membangun kembali, pondok warisan leluhurnya di desa Pabelan, Magelang, maka baginya itu adalah sebuah pilihan. Dan pilihan itu dilakukannya dengan penuh keyakinan, kesungguhan dan dasar pertimbangan yang sangat mendasar. Dasar pertimbangannya yang terdalam, bahwa pemuda Hamam Dja’far bertekad menjadikan pondok pesantern sebagai medan beribadah. Dalam istilah Kyai Hamam pribadi, “Pondok ini adalah kancane sholat, ngaji, poso dll “. Kemudian dilanjutkannya dengan menyebut landasan dasar kehidupannya:  “Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa maati lillahi rabbil ‘alamien…”

Mendirikan, atau membangun kembali, dan mengabdikan kehidupannya di dunia pendidikan adalah amanat dari Kyainya yang dipegangnya dengan teguh. Amanat ini diberikan oleh  Syaikhul Azhar, Syaikh Mahmud Syalthut dari Kairo, kepada dua kakak beradik pendiri Pondok Modern Gontor, KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi, ketika  berkunjung ke Indonesia ( salah seorang pendiri lainnya KH Zainuddin Fanani, berdiam di Jakarta).  Ketika Kyai Sahal menyampaikan amanat tersebut kepada para santeri di Gontor, di gedung BPPM (Balai Pertemuan Pondok Moern), seorang santeri maju ke depan dan menyatakan sanggup menerima amanat tersebut; sambil menjabat erat tangan sang Kyai. Dan santeri itu adalah Hamam Dja’far, di usianya menjelang 20 tahun. Dan amanat itu menjadi tekad yang membara di dalam hatinya.

Pilihan untuk hidup, menghidupi dan  menghidupkan Pondok Pabelan adalah hasil dari bacaannya yang mendalam terhadap  sejarah umat Islam dan bangsa Indonesia; kondisi riel umat Islam dan Bangsa Indonesia pada tahun 1960-an. Termasuk kondisi riel masyakat desa Pabelan yang sangat dikenalnya dengan baik – dan diprihatinkannya secara mendalam -; juga hasil interaksinya dengan berbagai tokoh agama, sosial dan politik pada masa itu. Kyai Hamam telah hidup dengan penuh (fullness of life) dengan Pesantren Pabelan dan menghidupinya dengan memberikan ruh (spirit of life ) dan daya hidup ( vitality). Sehingga Pondok Pabelan bergerak secara kreatif, memberikan makna hidup (meaning of life)  dan manfaat bagi masyarakat sekitar, umat, bangsa dan kemanusiaan. Ibarat magnit, Kyai Hamam mempunyai kekuatan untuk menarik berbagai energi positif, potensi dan keahlian dari berbagai bidang dan sumber yang berasal dari berbagai penjuru tanah air, bahkan dunia.

Dalam konteks waktu dan kondisi sosial, ekonomi dan politis pada tahun 1965 – Pondok Pabelan didirikan pada tanggal 28 Agustus 1965- pilihan untuk mendirikan Pondok benar-benar merupakan sebuah kewaskitaan dalam memandang persoalan masyarakat, umat, bangsa dan kemanusiaan. Sebuah kemauan yang keras (sesuai dengan namanya, Hamam) yang berpadu dengan ketajaman menatap masa depan umat dan dunia yang sedang berada di dalam jurang krisis yang teramat dalam. Dan krisis itu juga dialami desanya sendiri, Pabelan. Pilihan itu juga sekaligus merupakan pertaruhan yang tidak mudah. Oleh karena Hamam Dja’far adalah pemuda yang memiliki berbagai bakat, dan terutama kepemimpinan. Bahkan sebelum memutuskan untuk kembali ke desanya di Pabelan, Hamam muda sempat bermukim di Ibu Kota, Jakarta dan berinterkasi secara intens dengan tokoh-tokoh nasional di bidang agama, sosial dan politik. Dan tentu saja “mengaji” dari kepiawaian mereka. Namun demikian, Hamam muda tetap memilih dengan sepenuh hati untuk kembali ke desanya, membangun Pondok Pabelan.

Hamam muda telah membuat pilihan. Dan dalam perjalanan waktu pilihannya itu menjadi fenomenal. Baik di dunia pendidikan, pondok pesantren, pembangunan masyarakat, persatuan umat, kerukunan antar umat beragama dan antar budaya, jejaring aktivis muda kampus dan masjid, pembangun perdamaian dan kelestarian lingkungan hidup dsb. Pondok Pabelan menjadi sebuah harapan bagi masyarakat luas di tengah-tengah kebuntuan budaya yang sangat otoritarian dan repressif. Ibarat “kandil gemerlap, pelita jendela di malam gelap” , meminjam istilahnya punjangga Amir Hamzah; yang “memanggil pulang perlahan, sabar setia selalu”. Bahkan menjadi magnit sosial yang menarik simpati dan minat berbagai kelompok masyarakat.   Membangun Pondok Pabelan adalah sebuah pilihan budaya yang sangat cerdas. Suatu pilihan yang didasarkan kepada iman yang kemudian digelutinya dengan sungguh-sungguh, sebagaimana pesan Rasulullah kepada seorang sahabat : “Qul, amantu billah. Tsummastaqim” (Katakan, aku beriman kepada Allah. Kemudian laksanakan dengan lurus).

Dari sebuah desa miskin dengan kondisi pendidikan dan kesehatan yang menyedihkan, dengan sumber-sumber daya yang sangat terbatas; dalam jangka 15 tahun, telah tumbuh menjadi sebuah harapan, alternatif, model pendidikan dan dakwah pembangunan masyarakat yang dikunjungi, dikaji dan diperbincangkan masyarakat dunia . Di bidang pendidikan misalnya, Pondok Pabelan telah menarik perhatian tokoh pendidikan legendaris dunia Ivan Illich, yang terkenal dengan bukunya, yang menjadi bacaan setiap aktivis dan pendidik, “De Schooling Society”. Yang kemudian datang berkunjung pada tahun 1978. Ivan Illich, seorang tokoh pendidikan yang mencerahkan dan membebaskan ( tokoh-tokoh lainnya Paulo Friere, Everet Reimer, Horton Miles, Rajesh Tandon dll) melihat Pondok Pabelan sebagai bentuk kongkrit dari “De Schooling Society”, yang telah membebaskan masyarakat dari ritualisme pendidikan, formalism dan institutionalisme pendidikan. Sehingga pendidikan benar-benar menjadi proses pemanusiaan (humanisasi) dan suatu budaya untuk pembebasan manusiawi (cultural action for freedom). Sebenarnya Ivan Illich berjanji untuk datang kembali ke Pabelan untuk dapat lebih dalam menghayati kehidupan di dalamnya. Namun keinginan tersebut belum kesampaian.

Dalam pendidikan agama, dakwah  dan kepemimpinan sosial, Pondok Pabelan memperoleh perhatian besar dari seorang Mufti Besar dari Kuwait, Sheikh Abdullah Annuri; yang kemudian sangat mencintai Kyai Hamam dan beberapa kali melakukan kunjungan ke Pabelan. Sewaktu saya diundang berbicara di Baituzzakat wal Auqaf di Kuwait pada tahun 1997, sempat dipertemukan dengan keluarganya di dalam “Diwaniyah”. Ruang publik dalam rumah pribadi, di mana setiap orang dapat datang dan bersillaturrahmi. Pada kesempatan tersebut putra-putra Syeikh Abdullah An Nuri datang berkumpul dan menceritakan tentang kesan yang mendalam dan kecintaan Syeikh kepada Kyai Hamam dan Pondok Pabelan. Bagaimana sebuah Pesantren yang jauh di Jawa, melestarikan warisan peradaban Islam (al Turats Al Islamy) yang sangat kaya.  Demikian pula kecintaan Ki DR. Sarino Mangunpranoto, seorang tokoh pendidikan nasional, pimpinan Majelis Luhur Taman Siswa, mantan Menteri Pendidikan pada masa Presiden Sukarno, yang berkali-kali berkunjung ke Pondok Pabelan. Bahkan telah merasa menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Pabelan. Karena merasa prinsip-prinsip pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, pendiri Perguruan Taman Siswa, terus hidup, dipraktekkan dan terpelihara di Pondok Pabelan. Termasuk sistem amongnya, yang tercermin pada hubungan Kyai dengan santeri. Tri Pusat pendidikan (Keluarga, Sekolah dan Masyarakat) yang dapat menyatu di dalam praktek pendidikan di Pondok Pabelan.

Pondok Pabelan juga menarik para pakar dan tokoh di bidang pembangunan dan advokasi sosial budaya. Di dalam bidang Kesehatan Masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak; seorang Dir Jen UNICEF yang sangat dikenal kepiawaiannya di dalam sejarah PBB, DR. James Grant (alm) telah jauh-jauh datang dari kantor Pusat PBB di New York, mengunjungi program Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM) di desa  Pabelan dan memberikan pujian dan dukungannya. Terutama dalam bidang kelangsungan hidup anak “Children survival”. Antara lain pencegahan dan penyembuhan diare dengan mensosialisasikan garam oralit. James Grant sendiri selalu membawa sebungkus garam oralit di sakunya, sebagai tanda dari komitmennya yang tinggi terhadap kesehatan anak. Di bidang pembangunan masyarakat, seorang tokoh dunia yang juga pendiri sebuah gerakan pembangunan masyarakat, SARVODAYA, di Sri Langka, DR. AT Arya Ratna,   penerima berbagai penghargaan yang prestigious, datang ke Pabelan dan memberikan ucapan selamat atas model pengembangan masyarakat oleh Pondok Pesantren. DR. Arya Ratna menghargai Pondok Pabelan karena melakukan  upaya pembangunan dari dalam (development from within). Dengan merevitalisasi nilai-nilai sosial budaya yang ada di dalam masyarakat. Dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya local (to maximize local resources). Dengan tanpa merusak lingkungan, bahkan melestarikannya.

Di bidang pengembangan dan advokasi sosial dan budaya, beberapa tokoh budaya dan HAM kelas dunia, Ajarn Sulak Sivaraksa, salah seorang pendiri ACFOD (Asian Cultural Forum on Development), penerima Ramon Magsaysay Award dan Rightlifelihood Award, bersama Prof. DR. Saneh Chamarik (pada saat itu PR I Thammasat University dan sekarang menjadi Ketua Komnas HAM Thailand) dan DR. Gothom Arya, pimpinan Forum Asia (Asia Forum on Human Rights and Development) yang kemudian menjadi ketua KPU di Thailand, bahkan menginap di Pondok Pabelan pada tahun 1979. Ajarn Sulak memandang Pondok Pabelan sebagai contoh yang berhasil dalam membangun masyarakat dengan mengembangkan integritas cultural (cultural integrity) makna hidup dan kualitas hidup. Sehingga tidak terjebak oleh arus konsumerisme dan pragmatisme dangkal. Demikian pula memelihara dan melestarikan sumber-sumber daya hayati lokal, termasuk benih-benih tanaman pangan maupun buah-buahan di lingkungan Pondok maupun masyarakat sekitar. Oleh karena kebijakan revolusi hijau (green revolution) di bidang pertanian, yang dilancarkan oleh pemerintah pada tahun 1970-an, telah merusak lingkungan, memusnahkan keaneka ragaman hayati (bio diversity) dan menurunkan swa sembada pangan. Bahkan menghancurkan kedaulatan pangan (food sovereignty) masyarakat. Dan model pembangunan inilah yang dalam perkembangannya disebut sebagai strategi pembangunan yang berparadigma GNH (Gross National Happiness) sebagai alternative model pembangunan konvensional  yang berorientasi GNP (Gross National Product). Beberapa tokoh ACFOD lainnya yang pernah berkujung ke Pondok Pabelan antara lain Noel Mondejar, Edgardo Valenzuella, Jun Atienza (Philippines), Prof. LG Hewage (Sri Langka), Kamla Bhasin (India), Rita Baua (Philippines), Muto Ichiyo (Jepang), Kaiser Zaman (Bangladesh), Father Stanislaus Fernando (Sri Langka), Surendra Chakrapani (India), M. Abdus Sabur (Bangladesh) dll.

Daya tarik Kyai Hamam dengan Pondok Pabelannya juga memasuki wilayah seni, budaya, dan bahkan arsitektur. Seorang novelis kelas dunia, penerima hadiah Nobel di bidang sastra yang berasal dari Trinidad Tobago, VS Naipaul, penulis novel “ Among The Believers : an Islamic Journey” pada tahun 1980, menyempatkan diri berkunjung dan berdialog di Pondok Pabelan. Meskipun tidak sepenuhnya menangkap jiwa pondok dan tradisinya, namun pengalamannya tersebut sempat dimasukkan di dalam bukunya tersebut, yang diterbitkan oleh Vintage Books, New York, 1982. Beberapa seniman dan budayawan yang tergabung dalam PETA (Philippines Educational Teater Education)  dan Pop Com SEARICE (Popular Communication of South East Asian Regional Institute for Community Education) dengan beberapa aktivisnya, John Nosenas, Carmila Micado dan Johan Tan, sangat tertarik dengan bagaimana Kyai Hamam mengapresiasi seni dan budaya lokal dalam upaya pemberdayaan dan penyadaran masyarakat, di tengah-tengah deraan globaliasisasi.

Pada tahun 1980 Pondok Pabelan memperoleh penghargaan dunia di bidang arsitektur, “The International Aga Khan Award for Architecture”, yang diterima langsung oleh KH Hamam Dja’far dari HRH Aga Khan, dengan disaksikan oleh Presiden Pakistan, Jendral Ziaul Haq. Dalam sebuah upacara di Shalimar Garden di Lahore, Pakistan, yang sangat indah. Convenor award ini adalah DR. Hasanuddin Khan yang berkedudukan di Philadelphia, USA. Dewan Juri “The International Aga Khan Award for Architecture” ini terdiri dari para pakar kelas dunia di bidang arsitektur, sejarah, budaya dan sosiologi kelas dunia, seperti Prof. DR. Hassan Fathy, arsitek dari Mesir; DR. Mahbub ul-Haq, Penasehat Sek Jen PBB dari Pakistan; DR. Soedjatmoko, mantan Dubes RI di USA dan Rektor UNU (United Nations University) di Tokyo, dari Indonesia;  Pof. Titus Burckhardt; Prof. Sherban Cantacuzino; Prof.  Giancarlo de Carlo; dan   Porf. Kenzo Tange; yang berkantor dan melakukan pertemuan-pertemuannya di Jenewa, Swiss. Sebelum penilaian oleh dewan yuri, panitia Aga Khan Award mengirim seorang Doktor arsitektur dari MIT (Massachussets Instistute of Technology), DR. Farukh Afshar, untuk menyusun laporan arsitekturalnya. Semula, memang bangunan semacam kampus Pondok Pabelan tidak termasuk dalam katagori arsitektur yang dimaksud oleh Aga Khan Award. Namun akhirnya dimasukkan oleh karena dianggap sebuah model settlement dengan cara pembangunan dan  pemanfatannya secara sosial yang menarik. Kepada DR. Afshar, pada waktu itu Kyai Hamam dan saya menjelaskan bahwa Pondok Pabelan harus dilihat dalam konteks filsafat Islam, di mana penciptaan kehidupan ini bermula dari air “wa ja’alna minal maa’i kulla syai’in hayyin” (Dan kami ciptakan semua  kehidupan ini dari air”, yaitu sungai Pabelan yang berada di ujung timur desa Pabelan. Kemudian di sebelah sungai ada sawah-sawah yang ditumbuhkan dari air tadi “wa anbata fieha nabaatan” ( Dan kami tumbuhkan padanya tanam-tanaman). Selanjutnya memasuki desa Pabelan di mana perumahan masyarakat sedang dibangun untuk memakmurkan bumi ini “lita’muru fieha” (Agar engkau sekalian memakmurkan di atasnya). Setelah itu ada bangunan perpustakaan, yang menyimbulkan bahwa ayat pertama yang diturunkan di dalam Al Qur’an adalah “Iqra” (Bacalah ). Kemudian ada bangunan asrama santeri yang di depannya ada lapangan badminton yang bermakna bahwa dalam kehidupannya, manusia selalu berusaha menjadi yang terbaik sesuai dengan bakat dan minatnya “wa likulli wijhatin huwa muwallieha. Fastabiqul khoiraat” ( Pada semua arah itu ada yang berpaling kepadanya – keahlian dsb-. Maka berloma-lombalah dalam kebajikan).  Di seberang lapangan badminton ada masjid, yang berarti bahwa semua kegiatan tersebut merupakan bagian dan bertujuan untuk beribadah “wama kholaqtul jinna wal insa, illa liya’buduni” ( Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah kepadaKu). Filsafat landskap dan model bangunan yang tidak merusak lingkungan dengan memaksimalkan sumber daya lokal, sangat mendapat penghargaan dari Dewan Juri the International Aga Khan Award for Architecture tersebut : “the promise of attaining a fuller architectural expression, discernible in the organisation of spaces and levels in the landscape……….”.  

Dua tahun setelah itu, Pondok Pabelan menerima penghargaan dari Menteri KLH RI, dalam pelestarian lingkungan hidup, KALPATARU, atas prestasinya di dalam pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya air. Kegiatan pengembangan masyarakat yang lestari (sustainable community development) ini sebelumnya telah menarik perhatian seorang tokoh lingkungan hidup internasional, Prof. DR. Emil Salim, yang turut merumuskan “Earth Charter” yang kemudian dideklarasikan oleh PBB dalam konperensi dunianya di Rio de Janeiro 1992. Demikian pula tokoh-tokoh dari IFOAM (International Federation of Organic Farming), seperti sepasang suami isteri Samuel Smith dan Elizabeth Smith, dari Massachussets; Rene Salazar, Eline Mondejar, Chanet Kumthong, Net Pha, Lot Miranda, Aurea Teves, Miyoko Oshima dan Adonis Callanta yang juga dari SEARICE (South East Asia regional Institute for Community Education), yang berpusat Manila. Pada tahun-tahun berikutnya Pondok Pabelan memperoleh perhatian dan kunjungan dari berbagai tokoh dan masyarakat luas lainnya. Dalam perjalanan waktu tersebut, Pondok Pabelan telah pula berhasil menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat seperti LP3ES, Yayasan Mandiri, LSP, Bina Desa, ACFOD, FNS, PKBI, P3M, LPTP, WALHI, YLKI, INSIST  dan juga para ilmuwan, budayawan, tokoh-tokoh agama dan masyarakat.

 

2-      Sillaturrahmi, Tawadlu’ dan Rekonsiliasi

Perkenalan saya dengan kepemimpinan Ustadz Hamam, untuk pertama kali, pada saat menjadi Ketua Panitia Pendirian Institut Pendidikan Darussalam (IPD), di Pondok Modern Gontor pada tahun 1963. Pada saat itu saya masih duduk di kelas II KMI, yang kebetulan aktif di bidang teater dan pernah menjuarai lomba deklamasi. Saya sangat terkesan oleh karena Pak Hamam mendukung grup teater kami, TERISDA (Teater Islam Darussalam), untuk melakukan pentas pada salah satu acaranya. Namun akhirnya batal, karena tidak mendapat izin dari Pimpinan Pondok. Pada waktu itu, pementasan drama berbahasa Indonesia, dan di luar Khutbatul Arsy, belum diizinkan. Dan baru diizinkan ketika saya menjadi guru pratek di KMI, pada tahun 1968 (jadi perlu waktu 5 tahun). Tetapi hati kami terobati, oleh karena salah seorang kawan kami, memenangkan lomba pembuatan logo IPD, yaitu sdr Noorhady Syahid dari Semarang, yang sekarang bermukim di Tawau, Malaysia Timur.

Setelah IPD berdiri, saya sering melihat Ustadz Hamam sibuk di Sekretariat Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM) dan kerap mondar-madir ke Jakarta bersama Ust. Abdullah Mahmud (alm), yang dibantu oleh sekretarisnya Amin Alhady, MA, yang sekarang bermukim di Sydney, Australia. Pada waktu itu suhu politik nasional sedang memanas, yang turut mempengaruhi kondisi organisasi alumni Pondok Modern, IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) yang berpusat di Jakarta, yang bahkan sempat dibekukan oleh pimpinan Pondok. Seingat saya, ketika IKPM akan didirikan kembali, saya sempat dipanggil oleh Ust. KH Imam Zarkasyi untuk diajak bicara tentang masalah tersebut, sekitar tahun 1969 – 1971. Dan saya mengusulkan, seandainya IKPM akan didirkan kembali, maka benar-benar harus berprinsip bahwa “IKPM untuk Pondok dan bukan Pondok untuk IKPM”. Dan ada usulan praktis saya, seyogyanya Pimpinan Pusat IKPM berkedudukan di Pondok Modern. Salah satu alasan saya, agar mengikuti perkembangan pondok dan dapat bekerjasama dengan baik.

Setelah orde baru lahir, pada tahun 1966, saya mendengar Ustadz Hamam mendirikan Pondok di Pabelan. Kebetulan pada bulan Syawal tahun 1968, saya yang menjadi guru praktek KMI Gontor, mendapat tugas dari Pimpinan Pondok Modern Gontor untuk mendampingi Ust KH Imam Badri menghadiri Halal bi Halal Alumni Pondok Modern Gontor di Gedung Kresno, Magelang, bersama Ustadz Marwan dari Jetis. Pada malam harinya, kami menginap di Pondok Pabelan yang baru didirikan 3 tahun. Kesan saya pada waktu itu, Pak Hamam yang masih muda, gagah, memakai  jas putih, dengan “trengginas” (cekatan), tapi sangat sopan dan hormat mempersilahkan Ust. Imam Badri, untuk memasuki mobil yang akan mengantarkannya ke Pondok Pabelan. Demikian pu;a sikap trengginas tapi sopan dan penuh hormat kepada utusan Pimpinan Pondok Modern ini saya saksikan selama kami berada di Pondok Pabelan. Dan ketika kami akan meninggalkan Pondok Pabelan, nampak Pak Hamam dengan sangat hidmad meminta do’a restu kepada Pimpinan Pondok Modern Gontor melalui Ust Imam Badri.

Sikap hormat (Tawadlu’) Ustadz Hamam, kepada Kyai Gontor ( KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani dan KH Imam Zarkasyi) adalah merupakan sikap dasar dan juga sumber semangat yang sangat mendalam dan kuat. Dalam setiap menghadapi permasalahan, Ustadz Hamam selalu mengambil referensi kepada ketiga gurunya tersebut. Demikian juga pada setiap saat akan melangkah maupun mengambil keputusan penting, selalu mengaca kepada Gontor. Bahkan Ustadz Hamam selalu mengatakan bahwa sebenarnya dirinya sedang berpraktek mengajar di Pondok Pabelan. Sehingga selalu mengharap dan siap untuk dikoreksi, sebagaimana seorang santri yang mengerjakan pelajaran  imla’ atau tamrinul lughah (Arabic Exercises), yang setiap kali melakukan al ishlah. Tidak jarang Pak Hamam, mengatakan kepada saya, bahwa sebenarnya kita baru memahami mengapa Pak Sahal (KH Ahmad Sahal) dan Pak Zar (KH Imam Zarkasyi) dulu melakukan itu atau membuat kebijakan begini dsb, setelah kita sendiri praktek di Pondok Pabelan. Dan itu saya alami sendiri, ketika Ustadz KH Imam Zarkasyi hadir ke Pondok Pabelan, pada suatu siang, tahun 1980-an. Begitu saya sambut beliau dan saya persilahkan untuk “lenggah” (duduk) di ruang tamu dalem Mbah Dja’far, beliau mengatakan “Habib, guru-guru yang mengerjakan tamrinaat di sini, supaya betul-betul dikoreksi”. Seolah-olah kami tidak pernah berpisah dan tetap menjadi guru praktek di Gontor, meskipun saya sudah meninggalkan Gontor selama 8 tahun.

Sikap tawadlu’ dan ketaatan Ustadz Hamam kepada Pondok Modern Gontor nampak dari tekad bulatnya mengambil semua jiwa, cita-cita, cara mengatur, kurikulum dan metode pengajarannya, bahkan semua buku-buku ajarnya diambil dari Gontor sepenuhnya. Ustadz Hamam dengan Pondok Pabelannya berusaha dengan penuh dan sungguh-sungguh untuk menerapkan semua metode, sunnah dan disiplin Gontor. Istilah saya waktu itu, mengambil metode Gontor sepenuhnya  “tanpa tapi”.

Meskipun Ustadz Hamam memilih model pendidikan Pondok Gontor, tetapi tetap menghormati dan memelihara hubungan serta kerjasama dengan para Kyai dan Ulama serta Pondok Pesantren di sekitar Magelang maupun di Jawa Tengah pada umumnya. Karena sebenarnya para Kyai dan Ulama di Jawa ini secara genealogis, masih saling berhubungan. Kyai Hamam sendiri, masih keturunan Kyai Kertotaruna yang menyambung dengan Kyai Modjo, penglima perang Pangeran Diponegoro, yang apabila dirunut akan sampai kepada Sunan Giri. Maka pada waktu mempersiapkan Pelatihan Tenaga Pengembangan Masyarakat (LTPM) oleh Pondok Pesantren, pada tahun 1976, kami diajak oleh Kyai Hamam, bersama dengan Gus Dur (KH Abdurrahman Wachid), mas Dawam Rahardjo dan Mang Utomo Danandjaja dan Nashihin Hassan, untuk berkeliling bersillaturrahmi kepada para Kyai di Magelang; seperti Kyai Chudlori, Tegalrejo; Kyai Luqman, Jetis; Kyai Fadhil, Saragan; Kyai Asrori di daerah Menoreh dll. Bahkan karena Gus Dur tidak sempat ke Pondok Watucongol di  Muntilan, maka Kyai Hamam mengajak saya bersillaturrahmi kepada Kyai Ahmad Abdul Haq (Mbah Mad) , untuk meminta do’a restu dan menyampaikan rencana pelatihan Pondok-Pondok Pesantren di Pabelan.

 

3-      Kyai yang Membuka Dialog dan Ruang Publik.

Sebenarnya keterlibatan saya secara langsung membantu mengajar di Pondok Pabelan baru pada tahun 1974.  Setelah  Ulang Tahun Pondok Pabelan, yang diselenggarakan dengan sangat meriah, termasuk mendatangkan berbagai kesenian rakyat, seperti Kubro Siswo, Kuntulan, Ndolalak, Selawatan dsb. Pada waktu itu, kebetulan, Bapak Muhtadi Asy’ari (kakak Drs. Muhammad Yusuf Asy’ari, Menteri Perumahan Rakyat RI 2004 – 2009) yang menikah dengan Bu Lik saya, Dra. Wardanah, baru saja wafat dan dimakamkan di desa Pabelan. Pada malam itu saya bersama Emha Ainun Najib, yang juga alumni Gontor, berbincang tentang berbagai hal dengan Ustadz Hamam sampai pagi. Dari masalah pendidikan, sampai dengan kebudayaan, sejarah, filsafat, politik dan visinya tentang ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Setelah Shubuh saya istirahat, tetapi Ustadz Hamam bersama Ainun masih meneruskan perbicangan tanpa istirahat sampai waktu ‘Ashr. Saya sempat bergabung lagi setelah Dzuhur. Dari dialog semalam suntuk ditambah setengah hari  itu, saya menangkap semangat, idealisme dan juga kebijakan praktis seorang Kyai muda serta pemikiran-pemikirannya yang menurut saya mempunyai dasar-dasar Qur’ani, Syar’i maupun keilmuan yang kuat. Termasuk dalam pandangan kependidikannya yang bermazhab Gontor. Setelah itu saya mulai bergabung mengajar di Pondok Pabelan, sambil kuliah di Fakultas Filsafat UGM dan menjadi asisten dosen Ustadz Ahmad Azhar Basyir, MA di FIAD (Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah) di Kauman Yogyakarta.

Dialog dan sillaturrahmi merupakan kekuatan kepribadian Kyai Hamam dalam membangun Pondok Pabelan dan masyarakat. Sehingga menjadikan Pondok Pabelan sebuah ruang public (public sphere) yang terbuka dari berbagai kalangan untuk bertemu dan berdialog tentang berbagai masalah yang terjadi di desa dan tanah air. Ketika pada awl tahun 1970-an masyarakat Islam Indonesia mengalami perbedaan pendapat yang sangat tajam, yang bahkan menjurus kepada perpecahan; termasuk antara generasi muda dan cendekiawannya; Kyai Hamam dengan Pondok Pabelannya membuka ruang dialog dalam proses sillaturrahmi dan kerjasama. Tokoh-tokoh semisal Endang Saifuddin Anshari, Ahmad Sadzali, Ahmad Noekman, Ajip Rasidi, Yosef CMB, Noercholish Madjid, Kyai Yusuf Hasyim, Abdurrahman Wachid (Gus Dur), Zamroni, Fahmi Dja’far Saifuddin, M. Dawam Rahardjo, Dochak Latief, Utomo Danandjaja, Usep Fatchuddin, Adi Sasono, Ismid Haddad, Abdullah Syarwani, Nashihin Hassan dll dapat dengan akrab berbincang di Pondok Pabelan. Bahkan sempat menyelenggarakan “Leadership Training” bersama pada tahun 1974, yang kemudian melahirkan kegiatan seperti peningkatan minat baca dan perpustakaan, peningkatan metode belajar dan mengajar,  pengadaan air bersih,  pengembangan teknologi tepat guna, usaha kesehatan masyarakat (UKM), sampai dengan  gerakan pengembangan masyarakat oleh Pondok Pesantren.

Setelah berbincang bersama Ustadz Hamam semalam suntuk di tahun 1974, pada pagi harinya Cak Noer (Noercholish Madjid) mengatakan kepada saya : “Pak Hamam ini pendidikannya tidak tinggi, tetapi cara berpikirnya sangat sistematis. Bahkan berpikir  spekulatifnya sangat kuat sekali”. Namun jika terjadi perbedaan pendapat, Ustadz Hamam terus bertahan dengan argumentasinya, meskipun kadang-kadang memakan waktu yang panjang. Hal ini pernah terjadi ketika mempersiapkan Latihan Tenaga Pengembangan Masyarakat (LTPM) oleh Pondok Pesantren, pada tahun 1976, Ustadz Hamam berdialog dengan Mas Dawam (M Dawam Rahardjo) sampai jam 03.00 pagi. Setelah Shubuh, kami bertiga duduk di depan masjid, dan Mas Dawam menyampaikan kepada saya bahwa dia lelah sekali. “Pak Hamam benar, tetapi saya lelah sekali”, katanya. Dan Mas Dawam melanjutkan dengan mengutip ayat Al Qur’an “Inna ma’al ‘usri yusra”, ( setelah (bersama) dengan kesulitan itu ada kemudahan ). Mas Dawam adalah sahabat dekat yang sangat mencintai  Ustadz Hamam dan Pondok Pabelan sampai sekarang. Kesungguhannya di dalam mengembangkan kegiatan pesantren dan masyarakat menunjukkan kepedulian dan kecintaannya tersebut.

Pengembangan Masyarakat merupakan bentuk kepedulian sosial Pondok Pabelan yang sekaligus merupakan ruang partisipasi masyarakat desa dalam membangun diri sendiri (self development) . Pondok Pabelan kemudian berkembang menjadi pusat belajar masyarakat (learning society), lembaga partisipasi sosial, dengan berbagai kegiatannya; sumber informasi pembangunan; pusat alat-alat pembangunan (tools center) bagi masyarakat. Sebuah “ijtihad” dalam perluasan fungsi dan peran sosial, ekonomi dan budaya Pondok Pesantren, sesuai dengan perkembangan zaman. Sebenarnya merupakan revitalisasi dari peran dan fungsi yang pernah disandangnya pada awal kelahiran sistem Pondok Pesantren sendiri, pada sekitar abad ke 14 Masehi, sehingga dapat lestari (sustain) selama berabad-abad. Bahkan mengakar secara mendalam (deeply rooted) di masyarakat Indonesia, terus berkembang dan berperan sampai saat ini. Secara pribadi saya mencintai dan mempercayai keunggulan sistem Pondok Pesantren ini. Suatu kecintaan dan kepercayaan yang saya pelajari dan warisi dari ayah saya, Muhammad Chirzin, yang alumni Pondok Wonokromo, Yogyakarta dan  Pondok Termas, Pacitan, sehingga semua putra putrinya dididik di lingkungan Pondok Pesantren. Dari kakak saya yang tertua, Muhammad Nizar Chirzin yang alumni Gontor dan sekarang menjadi pengusaha peralatan kedokteran, bahan-bahan kimia  dan optic; sampai dengan adik bungsu saya, Siti Syamsiyatun, yang alumni Pondok Pabelan, kemudian menyelesaikan program Doktor dalam ilmu politik dari Monash University, Australia.

 

4-      Pondok Pabelan sebagai Reservoir Spiritual dan Kultural

Ketika dunia kampus mengalami kelesuan dan kebuntuan ekspresi dan  aktualissasi budaya, sosial dan politik mahasiswa, maka Pondok Pabelan dengan Kyai Hamamnya menjadi pilihan beberapa aktivis kampus untuk berdiskusi, melakukan eksperimen dan sekaligus aksi sosial. Interaksi antara para aktivis kampus dengan Kyai Hamam di Pondok Pabelan mempunyai berbagai fungsi. Bagi para aktivis yang karena kegiatan praktisnya yang  cenderung menjadi “aktivisme”, maka dialog dan mukim mereka di Pabelan menjadi semacam pengkayaan kultural (cultural enrichment), bahkan bagi beberapa orang menjadi suatu proses pencerahan spiritual (spiritual enlightenment) dan menjadikan Pondok Pabelan sebuah “kedung” atau reservoir budaya dan spiritual. Sehingga menumbuhkan kesadaran transenden yang lebih luas dan mendalam di dalam pengabdian kepada masyarakat.  Memang yang paling intens hadir dan berdiskusi serta melakukan partisipasi sosial di Pabelan adalah kawan-kawan mahasiswa ITB. Bahkan kemudian melahirkan Yayasan MANDIRI, yang berkantor di rumah mantan Rektor ITB, Ir Koentoaji, yang kemudian menjadi salah seorang Direktur IDB (Islamic Development Bank) di Jeddah. Mereka sempat membuat pelatihan teknologi tepat guna untuk para santeri dan masyarakat desa, termasuk Ir. Yusman S D, yang pada waktu itu menjadi acting Ketua Dewan Mahasiswa ITB; oleh karena Dewan Mahasiswa di seluruh Indonesia dibubarkan (sekarang Yusman Syafii Djamal menjadi Menteri Perhubungan RI – 2007 -2009). Sementara kampus ITB sempat diduduki oleh tentara. Beberapa aktivis mahasiswa Bandung yang kemudian sempat menjadi santeri Pabelan, melakukan kegiatan pengembangan masyarakat , antara lain,  Mochtar Abbas, Tony Pangcu, Sugeng Setyadi, Iskandar, Indra, Faletehan dll. Bahkan Mochtar Abbas, yang berasal dari Aceh, kemudian terpilih menjadi kepala desa Pabelan. Tetapi sebenarnya para mahasiswa UGM, IAIN Sunan Kalijaga, IKIP Negeri Yogyakarta dan para mahasiswa dari Semarang pun tidak kurang aktifnya melakukan dialog budaya dan spiritual yang sama di Pondok Pabelan. Saya sendiri yang pada waktu itu mulai sering menulis dan aktif dalam gerakan mahasiswa di Asia Tenggara,  beberapa kali diundang diskusi di kampus ITB, Masjid Salman Bandung, Masjid Al Azhar Jakarta, Masjid Sunda Kelapa Jakarta, Kampus UGM dan Jamaah Shalahuddin, Kampus UNDIP Semarang, IAIN Yogyakarta, IAIN Salatiga, UII Yogyakarta, UPN Yogyakarta dll. Interaksi antara aktivis kampus dengan pesantren ini kemudian membangun saling pengertian dan kerjasama antara budaya kampus dan pesantren.

Kehadiran maestro pelukis Afandy bersama sahabat-sahabatnya, pelukis Wahdi, Amri Yahya dll; kemudian budayawan Umar Khayam, Misbach Yusa Biran, Ashadi Siregar, Emha Ainun Najib dll menyuburkan warna kultural yang memang sudah berakar kuat di desa Pabelan. Dialog budaya antara para pelaku dan budayawan kampus dengan Kyai dengan budaya pesantrennya telah turut memperkaya khazanah kultural pesantren dan masyaraka. Demikian pula ketika si penyair kesohor, si Burung Merak, WS Rendra, bermain film bersama Kyai Hamam di dalam AL KAUTSAR yang disutradarai oleh Choirul Umam, pada tahun 1978, Kyai Hamam-pun kemudian dikenal sebagai Kyai Bintang Film. Kebetulan Film Al KAUTSAR ini memenangkan Festival Film Asia di Bangkok pada tahun 1980.

Peran kultural Kyai Hamam ini ditengarai oleh Prof. DR. Wolfgang Karcher, dari Berlin Technische Hogeschulle, Berlin, sebagai “Cultural Broker”, mengutip istilahnya Cliffort Geertz, penulis buku legendaris “Santri, Priyayi and Abangan” dan “The Religion of Java” . Karena Kyai Hamam telah memerankan dengan baik sebagai perantara budaya masyarakat desa Pabelan dengan kebijakan pemerintah; perantara antara budaya santeri dengan budaya ilmuwan yang berbasis di kota; perantara antara budaya Pesantren dengan Kampus dan juga perantara antara budaya santeri dengan budaya-budaya komunitas agama dan kepercayaan lain di Indonesia. Dalam ungkapan yang lain, Kyai Hamam telah berperan sebagai katalisator yang mempercepat proses perubahan sosial budaya, dengan tanpa menimbulkan benturan maupun gegar budaya. (Setelah Kyai Hamam wafat, Prof. Cliffort Geertz, yang menjadi Professor Emiritus di Princeton University, USA pernah datang ke Pondok Pabelan, bersama Alm Prof. DR. Koentjoroningrat dan Prof. DR. Sedijono Tjondronegoro dll).

Kebersamaan multi etnik, multi kultural dan multi religius telah tumbuh dan berkembang secara alami lewat dialog dan sillaturrahmi (yang intinya menjalin kasih sayang) yang terjadi sehari-hari di lingkungan Pondok Pabelan dan masyarakat sekitarnya. Beberapa pastur Jesuit dari Federation of Asian Bishop Conference (FABC) seperti Father Prof. DR. Tom Michel, yang sekarang berkedudukan di Vatikan dan para Uskup dari Philippines dan India sering berkunjung ke Pabelan, untuk bersilaturrahmi dan berdiskusi tentang Dialog dalam Aksi (Dialog in Action) , Dialog untuk Hidup dan Dialog untuk Pemanusiaan (Dialog for Humanization). Demikian juga para Pendeta dari lingkungan Persekutuan Gereja-gereja Asia (Christian Conference of Asia) bahkan dari Persekutuan Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches) yang didampingi oleh DR. Yudo Poerwowidagdo, Rektor Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta,  beberapa kali membawa rombongan untuk berkunjung dan berdialog tentang pendidikan dan pembangunan yang berkeadilan, damai dan keutuhan ciptaan (Integrity of Creation)  di Pondok Pabelan. Pada mulanya masyarakat memandang aneh, bagaimana seorang Romo Mangun Widjaya yang memakai kain sarung dan peci hitam dibonceng dengan sepeda motor YAMAHA Bebek berwarna merah anggur, oleh Kyai Hamam yang mengenakan pakaian jubah putih; pada suatu sore hari melintasi desa Pabelan. Romo Mangun adalah seorang budayawan, rohaniwan dan pendidik yang sangat dekat, memahami dan mengapresiasi sistem Pondok Pesantren. Sehingga sering bersilaturahmi ke Pondok Pabelan dengan mengajak sejawatnya pastur dari Indonesia, maupun dari Philippines, India, Sri Langka dan Amerika Latin. Bahkan pada suatu ketika ada beberapa orang suster Katolik dari Philippines yang menginap di Pondok Pabelan. Ketika berpisah dengan Kyai Hamam, dengan perasaan yang tulus dan mendalam, salah seorang di antaranya mengatakan “Ternyata Santo itu ada di mana-mana”. Kami sendiri tidak mengerti arti sebenarnya dari ungkapan tersebut.

Semangat sillaturrahmi, perdamaian dan rekonsiliasi yang mendalam dari Kyai Hamam sangat mengesankan tamu dari South East Quaker International Representative (SEAQIAR), sepasang suami isteri, Paul dan Sophie Quin Judge yang membawa rombongan tamu pemuka agama dan pekerja sosial dari Moro, Philippnes Selatan. Setelah melalai kunjungan lapangan dan dialog di ruang tamu utara, Kyai Hamam memahami dan menyadari bahwa proses konflik berkepanjangan yang terjadi di Philippnes Selatan, yang telah memakan ribuan korban dari semua pihak, sebeanrnya disebabkan oleh proses ketidak adilan sosial ekonomi, diskriminasi sosial dan kultural dan kesenjangan dalam pembangunan maupun dalam partisipasi politik. Dan bukan semata-mata konflik antar agama. Maka Kyai Hamam menyarankan agar ditempuh proses perdamaian yang dilanjutkan dengan pembangunan yang merata dan partisipasi politik tanpa diskriminasi. Kerjasama dengan SEAQIAR ini sebenarnya telah dirintis sejak tahun 1976, oleh David dan Marry yang didahului dengan hadirnya Jeffery Sng, yang saat ini bekerjasama dengan Ajarn Sulak Sivaraksa di Bangkok. Sampai saat ini, pimpinan SEAQIAR yang telah pindah kedudukannya di Laos, sangat menghargai sikap damai dan konsiliatif dari Kyai Hamam tersebut.

 

5-      Cakrawala dan Jendela Pondok Pabelan

Ketika Kyai Hamam menyatakan bahwa Pondok Pabelan adalah medan ibadah, yang dimaksud adalah bahwa  berbagai kegiatan yang muncul dan berkembang kemudian, termasuk kegiatan pengembangan masyarakat adalah bentuk medan ibadah berjamaah, bersama santeri, masyarakat desa, kampus, LSM dan dunia luas. Maka panggilan “hayya ‘alas Shalah” dan “hayya ‘alal Falaah” (“mari mendirikan shalat” dan “mari menuju kebahagiaan/kemenangan”); maka panggilan Adzan tersebut ditanggapinya bahwa Shalat itu harus membawa dan menghasilkan kemenangan dan kebahagiaan ( al falah). Maka kalau Shalat tidak membuahkan kemenangan dan kebahagiaan maka pasti ada yang salah dalam pemahaman, praktek dan penghayatan terhadap panggilan Shalat tersebut. Maka dalam dalam dialog pribadi, Kyai Hamam sering mempertanyakan, bagaimana sebenarnya pengertian “Inna shalata tanha ‘anil fakhsyaai wal munkar” ( Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran). Di antara kesimpulannya adalah bahwa shalat itu tidak terlepas dari keseluruhan penghayatan hubungan kemanusiaan kita sesama, alam semesta dan Yang Ilahi dan tanggung jawabnya. Sehingga amaliyah shalat akan mencegah fakhsyaai wal munkar sosial, budaya maupun lingkungan hidup. Demikian sebaliknya intensitas penghayatan kehidupan dan tanggung jawab sosial budaya dan ekologis dalam praktek kehidupan sehari-hari akan membawa kepada Shalat yang khusyu’. Karena tidak ada kekhusyukan yang datang tiba-tiba, tanpa tanggung jawab dan kerja keras mencintai dan peduli terhadap kehidupan dan lingkungan.

Keaneka ragaman kegiatan pendidikan dan pembangunan manusia yang berkembang di Pondok Pabelan, dari jauh, nampak bagaikan pelangi yang berwarna warni. Padahal menurut Kyai Hamam, isinya tidak lain adalah kegiatan “Ngibadah dan Ngaji”. Kalaupun ada kawan-kawan dari kampus ataupun Lembaga Swadaya Masyarakat, Pesantren lain (termasuk Pesantren LP3ES)  maupun lembaga pengkajian dan pendidikan lain yang kemudian memberikan perhatian dan kerjasamanya; maka semuanya itu dalam rangka berjama’ah dalam shalat dan “ngaji bareng” di medan ibadah yang namanya Pondok Pabelan. Tetapi masing-masing menghadap dan bertanggung jawab kepada Tuhan secara sendiri-sendiri. Akan akan mendapatkan ridla, rahmat dan hidayah Allah sesuai dengan nawaitu masing-masing.

Sebagai suatu komunitas yang berada di pedesaan Jawa Tengah, Pondok Pabelanpun merasa berkepentingan untuk membuka “jendela” untuk melihat “dunia luar” untuk memperluas cakrawala sosial, budaya dan religius. Dalam kesempatan tertentu Kyai Hamam menghadiri undangan untuk konperensi, menjadi pemakalah maupun nara sumber dalam berbagai seminar dan loka karya. Bahkan pernah diundang oleh Pemerintah Amerika untuk menjadi tamu dalam program “International Visitor” untuk melihat lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan di berbagai Negara Bagian di Amerika. Inilah “jendela” yang dibangun untuk melihat dunia sekitar dan memperluas cakrawala tersebut. Karena kesibukannya, kadang-kadang Kyai Hamam meminta saya untuk mewakilinya, seperti dalam Consultation on Land, sebuah konperensi Asia – Pasific tentang pembangunan masyarakat dan masalah pertanahan, di Colombo, Sri Langka, 1976; “Young Theologian Meeting” di Hong Kong, 1977; Development Workers Program of Asian Cultural Forum on Development (ACFOD) di Bangkok, Manila, Kuala Lumpur, Colombo, Dacca, Kathmandu, 1978; International Studies for Society Overcoming Domination (ISD) di Paris dan Rio de Janeiro, Brazil 1979; SEARICE (South East Asia Regional Institute for Community Development) di Bangkok dan Manila, 1980 – 1982 dll. Dan setelah kembali ke Pondok, kami berdiskusi dan berbagi pandangan untuk pengembangan Pondok selanjutnya.

Oleh karena saya mewakili Kyai Hamam, maka pada konperensi ISD di Paris dan Rio de Janeiro, Brazil, yang dilanjutkan dengan kunjungan ke Reciffe, tempat kediaman Arch Bishop Dom Helder Camara tersebut, saya terpilih menjadi anggota sekretariat ISD yang berpusat di Paris untuk periode  3 (tiga) tahun, dari th 1979 sd 1982. Dan pada akhir periode, pada bulan April 1982, koordanitaor ISD tersebut, DR. Francisco “Chico” Whitaker bersama isterinya DR. Stella Ferrera dan sekretaris Joanne sempat berkunjung ke Pondok Pabelan. Chico Whitaker, sang koordinator ISD akhirnya dikenal dunia sebagai penggagas gerakan World Social Forum (WSF) yang pernah digelar di Porto Allegre, Brazil, kemudian di Mumbai, India dan Nairobi, Kenya dll, sebagai alternative dari World Economic Forum di Davos di Swiss. Di SEARICE saya tercatat sebagai anggota Dewan Pendiri pada tahun 1982 di Manila, kemudian terpilih menjadi Presidennnya sampai dengan 1996 yang berkedudukan di Manila. Para pendiri SEARICE, seperti Noel Mondejar, Jun Atienza, Memong Patayan dan Chanet Khumtong pernah berkunjung ke Pabelan. Bahkan tokoh-tokoh seperti Noel dan Memong sangat terkesan di hati Kyai Hamam karena pemahaman dan penghargaann mereka kepada dunia Pesantren. Dan merekalah yang memberikan dukungan moral dan teoritis tentang significannya peran sosial dan budaya Pondok Pabelan pada awal pengembangan masyarakat tahun 1976. Mereka kemudian mengkomunikasikannya kepada para pemikir dan pekerja pembangunan di Asia dan Pasifik. Sehingga Pondok Pabelan sekaligus menjadi jendela Pondok Pesantern maupun komunitas santri Indonesia ke pada dunia luas.

Fungsi jendela maupun komunikasi dengan dunia luar, juga diperankan dengan sangat strategis oleh para pimpinan Pondok lainnya, seperta Ustadz Drs. Wasit Abu Ali, Ustadz Drs. Ahmad Musthofa, Ustadz Muhammad Balya, maupun putra Kyai Hamam, Ustadz Ahmad Najib Amin. Bahkan dalam arti tertentu Bu Nyai, Ibu Djuhanah Hamam pun melakukan fungsi “jendela’ dan komunikasi sosial ini dengan efektif. Oleh karena Ibu Nyai pernah mengenyam pendidikan di Yogyakarta dan tinggal di keluarga Bapak Hilal di Gerjen, di sebelah Kauman Yogyakarta; maka komunikasi sosial dengan keluarga dan komunitas Kauman, Karangkajen, Kotagede, Njejeran dan lain-lain menjadi akrab. Diperkuat lagi dengan Mbah Kyai Dja’far, ayahnda Ustadz Hamam,  yang memang berasal dari Ndongkelan, sebelan selatan Pojok Benteng Kulon, Yogyakarta, yang pada masa Sultan Hamengku Buwono VIII dikenal sebagai patok negoro, yang mempunyai jalinan erat dengan pusat-pusat santeri di Mlangi, Krapak, Wonokromo dll. Peran-peran dan jejaring sosial budaya ini dirajut dengan rapih oleh Kyai Hamam.

 

6-      Amanah dan Teladan yang Hidup.

Sebagai seorang Kyai muda (pada waktu itu) yang baru membangun kembali Pondok Pabelan, dan kebetulan dalam posisi keluarga yang lebih muda dari para Kyai dan Ulama di Karesidenan Kedu, pada mulanya tidak mudah untuk menempatkan diri seacara pas di tengah-tengah peta ke-Kyaian dan Kepondok Pesantrenan. Tetapi karena sikap tawadlu’ dan rajin untuk bersillaturrahmi serta kepemimpinannya yang menonjol, akhirnya Kyai Hamam mendapat kepercayaan untuk memimpin Ikatan Pondok Pesantren Sekaresidenan Kedu dan Sekitarnya. Instink kekyaian yang diasah dan ditimbanya dari Kyai Sahal, Kyai Fanani dan Kyai Zarkasyi di Gontor dan ditambah dengan sillaturrahminya yang luas, maka Kyai Hamam menjadikan dirinya sebagai seorang Kyai yang dapat diterima oleh berbagai golongan. Dengan sangat sadar dan berhati-hati Kyai Hamam menjaga keseimbangan “ekologi kekyaian” ini.  Karena ini adalah suatu modal sosial dan kultural yang sangat berharga baginya. Namun Kyai Hamam tetap memegang prinsip di dalam membangun dan mengembangkan lembaga pendidikannya. Secara pribadi saya belajar banyak dari Kyai Hamam tentang dunia persilatan Pondok Pesantren dan budayanya. Serta budaya dan tatakrama komunikasi di lingkungan Kyai.

Kepekaan ekologi sosial dan budayanya juga nampak di dalam mengelola kerjasama dan keseimbangan hubungan-hubungan antar, baik di dalam Pondok maupun dengan masyarakat. Kepengurusan Pondok Pabelan yang berintikan Kyai Hamam sebagai Pengasuh, KH Drs. Wasit Abu Ali sebagai Direktur KMI; KH Drs. Ahmad Mustofa, sebagai Ketua Majelis Guru, dan Ustadz Muhammad Balya sebagai Sekretaris Pondok, merupakan tim kerja yang selalu dipelihara kekompakkannya. Begitu juga hubungannya dengan para sesepuh yang di “lenggahkan”/ dudukkan sebagai Badan Wakaf, termasuk di dalamnya, Kyai Dja’far, Ayahndanya; Kyai Masduki; KH Asy’ari, Kepala Desa Pabelan; Kyai Daldiri dan para sesepuh lainnya. Sedangkan para pemuda yang merupakan pendukung dan tenaga andalan Pondok Pabelan diwadahi dalam organisasi yang dikenal dengan PPP (Persatuan Pemuda Pabelan). Dari pembentukan lembaga-lembaga ini tercermin kesadaran Kyai Hamam yang tinggi tentang pentingnya pelembagaan (institusionalisasi) dari kegiatan-kegiatan dan para pendukungnya. Suatu tradisi yang relatif baru di lingkungan Pondok Pesantren.

Berkomunikasi dan juga bekerja dengan Kyai Hamam merupakan pengalaman yang sangat mencerahkan dan mengesankan. Pribadinya yang hangat dan ikhlas, sangat mudah dan menyenangkan. Karena mempunyai prinsip dan berdisiplin. Sehingga mudah dibaca, dipahami dan diikuti, dan tidak perlu menebak-nebak. Karena semuanya jelas. Pengalaman pribadi saya, yang sering saya sampaikan kepada keluarga saya dan banyak orang, bahwa selama lebih kurang lebih  9 (Sembilan) tahun saya membantu Kyai Hamam di Pondok Pabelan, saya belum pernah disuruh maupun dilarang. Karena saya tahu apa yang harus saya kerjakan dan apa yang dimaui oleh Kyai Hamam, dalam kaitannya dengan pendidikan, keilmuan dan kemasyarakatan. Saya pribadi merasa, karena intensitas interaksi dan kesamaan referensi, kami mempunyai banyak kecocokkan pendapat, pemikiran atau pandangan. Termasuk bacaan terhadap kondisi yang berkembang di masyarakat. Bahkan ketika kami lama tidak bertemu, kemudian  kami mencocokkan beberapa hal yang telah masing-masing kami lakukan atau pikirkan; ternyata frekwensi kami tetap sama.

Pernah pada suatu malam, di tengah kami berbincang berdua dengan Kyai Hamam, hujan deras turun dan tiba-tiba listrik padam. Namun perbincangan tetap kami lanjutkan sampai menjelang Shubuh, meskipun tanpa lampu dan kami tidak dapat saling melihat satu sama lain. Karena adanya kesamaan pikiran, perasaan, semangat dan cita-cita, maka pembicaraan di ruang tamu yang gelap gulita tersebut terasa sangat reflektif dan mendalam. Pada saat-saat menghadapi persoalan yang agak rumit, Kyai Hamam tidak jarang menyatakan : “ Akhirnya, yang nyata ada adalah kita dan Allah”. Perasaan kedekatan yang sangat kepada Allah dan hanya dengan Allah semata, sering hadir di dalam situasi di mana Pondok menghadapi masalah yang tidak mudah diselesaikan. Pengalaman-pengalaman intensitas “kepasrahan” yang di dalam bahasa Jawa sering disebut sebagai “dedepe” kepada Allah yang Maha Pengasih ini kadang-kadang membawa Kyai Hamam kepada angan-angan, barangkali dulu Tri Murti (KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani dan KH Imam Zarkasyi) juga sering mengalami hal yang seperti ini. Dalam situasi seperti itu, sangat terasa bahwa benar-benar Pondok Pabelan adalah medan ibadah.

Sudah barang tentu peran orang-orang yang sangat dekat dengan Kyai Hamam sangatlah besar. Terutama pada saat-saat perintisan. Ketika Pondok Pabelan belum banyak dikenal orang. Dan masih dalam kondisi “babad alas”. Ibu Nyai Djuhanah, yang dengan tekun dan setia mendampingi Kyai Hamam, sambil mengasuh dua putranya tercinta Ahmad Najib Amin (sekarang KH Ahmad Najib Amin) dan Ahmad Faiz Amin (sekarang Kepala Desa Pabelan). Di mana Kyai Hamam tidak jarang memuji kecerdasan dan bakat-bakat yang dimiliki kedua putranya tersebut.  Ibu Djuhanah sempat mencatat berbagai perkembangan yang terjadi di Pondok Pabelan, sejak perintisannya. Hal ini diceritakan kepada saya beberapa bulan sebelum beliau wafat. Nampak sekali keikhlasannya di dalam menceritakan semua perkembangan tersebut. Alhamdulillah, sampai dengan hari-hari menjelang wafatnya Ibu Nyai, saya masih sempat berkomunikasi lewat telpon. Setiap berbicara, Ibu Nyai tidak lepas dari permintaan do’a untuk beliau, kedua putranya dan Pondok Pabelan, serta pernyataan rasa syukur. Ada rasa syukur yang mendalam di hatinya, karena sudah dapat mengantar dan mendampingi dua putranya sampai usia dewasa. Dan memegang amanah kepemimpinan di Pondok dan desa Pabelan.

Sejak awal Kyai Hamam menghayati bahwa pilihannya untuk membangun Pondok Pabelan adalah juga sebuah amanat. Baik amanat kekhalifahannya, amanat kesaksiannya (syahadah) bagi kemanusiaan dan sejarah, juga amanat Tri Murti yang diterimanya dari Syeikhul Azhar Mahmud Syaltut, demikian juga amanah umat yang harus ditunaikan dan dijaganya dengan sungguh-sungguh. Kesungguhannya di dalam memahami, memaknai, menghayati dan menghidupi amanah ini membuat Kyai Hamam tidak pernah setengah-setengah di dalam melakukan sesuatu. Semua pekerjaannya dilakukan dengan penuh totalitas penghayatan dan kesungguhan. Dalam bahasa Jawanya “tenanan”. Atau di dalam ungkapan KH Ahmad Sahal “Yen waniyo ing gampang, wedi ing pakewuh tan ono barang kang bakal karakyan. Kang rawe-rawe rantas, kang malang-malang putung. Iki dadaku, endi dadamu……” ( Kalau hanya berani menghadapi yang mudah dan takut menghadapi kesulitan, maka tidak ada satu pekerjaanpun yang dapat dihasilkan. Semua yang menghalangi akan hancur dan yang malang melintang akan putus. Ini dadaku, mana dadamu…….”). Semangat inilah yang diteladankan kepada para santeri dan masyarakat desa Pabelan.

Karena Pondok Pabelan adalah amanah, maka Kyai Hamam bersungguh-sungguh dalam menjaga dan mengembangkannya. Bahkan pada tahun-tahun terakhir sebelum wafatnya telah  memulai proses penyerahan wakaf dan penyusunan dan pembentukan kelembagaan Badan Wakaf yang akan menjadi lembaga tertinggi bagi pemeliharaan dan pengembangan Pondok Pabelan dalam jangka panjang. Beberpa perangkat bahkan AD dan ART Badan Wakaf-pun telah mulai disusun rencananya. Sehingga benar-benar Pondok Pabelan menjadi medan ibadah untuk menjunjung tinggi agama Islam, memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi agama dan umat manusia. Saya menyaksikan kesungguhan Kyai Hamam dan keikhlasannya di dalam menunaikan amanah tersebut. Meskipun ketika saya sudah menikah dan sudah tidak tinggal lagi di Pondok, Kyai Hamam masih sering memanggil saya, dan bahkan pernah datang ke tempat tinggal saya di sebelah timur Plengkung Wijilan, di dalam Benteng Kraton, Yogyakarta. Tempat tinggal yang juga sering dikunjungi oleh Mas Dawam Rahardjo yang selalu datang dengan mengendarai sepeda dari rumah mertuanya di Karang Kajen. Kyai Hamam memang sangat teliti dan hati-hati di dalam melangkah, terutama yang mempunyai dampak sosial dan budaya jangka panjang.

Ketika Kyai Hamam wafat, pada tanggal 17 Maret 1993, kebetulan saya sedang berada di kantor ACFOD (Asian Cultural Forum on Development), Bangkok, Thailand untuk sebuah pertemuan. Siang itu sebenarnya saya merencanakan bertemu kawan di kantor Coalition for Peace and Development di Phyayatai Road, di dekat Komnas HAM Thailand sekarang. Berita wafatnya Kyai Hamam saya terima dari Sri Hindun Fauziah, isteri saya, yang juga alumni Pondok Pabelan, lewat telegram yang dikirimkan ke Bangkok. Wafatnya Kyai Hamam saya rasakan sangat tiba-tiba. Oleh karena sebelum berangkat ke Bangkok, saya sempat bertemu di Pabelan. Dan tidak ada pesan apa-apa, ataupun tanda-tanda bahwa akan segera kembali kehadiratNya yang Maha Pengasih. Ketika saya kembali ke Jakarta, anak saya yang nomor dua, Farhan Navis mengatakan kepada Arief, kakaknya, dan kami sekeluarga : “Saya yang paling merasa kehilangan, ketika Pak Hamam meninggal. Saya mau menemani Pak Hamam di kuburannya. Karena Pak Hamam sayang sama anak-anak. Kasihan kalau sendirian. Supaya ada yang menemani”. Pada waktu itu Navis masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Dia nampak sedih sekali, karena dulu sering diajak bermain dan memancing ikan. Saya katakan kepadanya, bahwa kita akan selalu mendoakan Kyai Hamam agar semua amal ibadahnya diterima dan diridloi Allah SWT. Dan memang kami sekeluarga selalu mendoakannya. Kyai Hamam memang menyayangi semua anak manusia, bahkan semua binatang,  tumbuh-tumbuhan dan segala ciptaan Allah.

Kini Kyai Hamam telah meninggalkan kita semua. Tetapi warisan spiritual, sosial dan budayanya masih terus hidup dan menjadi sumber inspirasi. Para alumni dan  santerinya tersebar di seluruh penjuru tanah air dan dunia. Jejak-jejak langkahnya yang fenomenal, sebagaimana langkahnya yang tegap, pasti dan meyakinkan; memberikan semangat dan inspirasi kepada semua santeri dan sahabat-sahabatnya. Kyai Hamam telah menjadi tauladan yang hidup (living example) dalam integritas, ketulusan dan kesungguhan. Kecerdasan spiritualnya yang tumbuh karena keikhlasan untuk mencari kesejatian yang abadi, telah menjadikannya tokoh yang dapat bersilaturrahmi, berdialog dan bekerjasama untuk kebajikan (ta’awun alal birri wat taqwa ) dengan siapapun. Karena menganggap semua orang adalah saudara. Persaudaraan kemanusiaan dalam limpahan rahmat Ilahi. Cakrawala etik dan spiritualitasnya melintasi batas-batas etnisitas, budaya, afiliasi politik dan ideologi, keyakinan dan keagamaan. Kyai Hamam telah mengajarkan “mahfudzat” dan “Tarbiyah” di kelas KMI, tetapi juga telah mengajarkan tentang kehidupan dengan mengakrabi, mencintai, memaknai dan bersungguh-sungguh dengan kehidupan; lewat Pondok Pabelannya. Karena kehidupan adalah anugerah dan amanah dari Yang Maha Hidup. Kyai Hamam adalah guru kehidupan dan sahabat semua orang.

 

Jakarta, 10 Dzulhijjah 1428H/ 20 Desember 2007

Written by Habib Chirzin

November 24, 2008 at 12:08 pm

Posted in 1

Tagged with

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: