Habib Chirzin’s Weblog

Blog On Peace, Human Rights and Human Responsibilities

IJTIHAD MUHAMMADIYAH DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT YANG BERBASIS ILMU

leave a comment »

IJTIHAD MUHAMMADIYAH
DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
YANG BERBASIS ILMU

Oleh

M. Habib Chirzin

1- Tajdid Fil Islam sebagai Gerakan Penyadaran dan Pemerdekaan

Sejak awal pendiriannya, pada 08 Dzulhijjah 1330H/ 18 Nopember 1912, Muhammadiyah telah mencurahkan kepeduliannya yang sejati terhadap pemberdayaan masyarakat; jauh sebelum istilah ini dipergunakan secara umum dan luas oleh para aktivis sosial maupun pegiat hak asasi manusia ( human rights defender) , sebagaimana yang berkembang sejak tiga dasa warsa terakhir ini.

Tajdid Fil Islam yang dilakukan oleh K H Ahmad Dahlan telah merupakan terobosan sosial budaya ( social and cultural breakthrough) yang sangat signifikan dalam proses pemberdayaan masyarakat, dalam konteks gelora kebangkitan nasional. Pembaharuan yang dirintis oleh Kyai Dahlan telah menjadi suatu proses penyadaran kritis masyarakat (- harakah tauiyyah- critical awareness raising) dan gerakan budaya untuk pemerdekaan (- harakah tahririyyah- cultural action for freedom) sebagai manifestasi kongkrit dari tauhid dalam kehidupan sehari hari masyarakat.

Keakraban Kyai Dahlan dengan Al Qur’an dan kemampuannya untuk menangkap pesan-pesan esensialnya telah melahirkan gagasan-gagasan yang menggerakkan ( the moving ideas ). Surat Al Ma’un, yang sudah biasa dihafal dan diulang kaji oleh komunitas santri pada masa itu, tiba-tiba ditangan Kyai Dahlan menjadi sumber inspirasi yang sangat kuat, ibarat bunga api yang memercikkan sinar terang, untuk melakukan penyadaran kritis ( harakah tauiyyah) akan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia yang terjebak didalam kemiskinan struktural yang sangat mendalam. Dan sekaligus menggerakkannya untuk melakukan proses pemerdekaan ( harakah tahririyyah) dari kondisi kepapaan, kemiskinan dan jeratan strukturalnya. Dalam kondisi kehidupan masyarakat di bawah kemiskinan absolut dengan pendapatan sebenggol ( seperempat Gulden ) sehari.

Berbagai terobosan yang dilakukan melalui pendirian PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), panti asuhan, madrasah Muhammadiyah, pengorganisasian kaum perempuan, kepanduan HW dan NA dll telah memperluas jaringan pelayanan sosial, ekonomi dan kesehatan dasar masyarat miskin, juga telah menjadi infrastruktur bagi peningkatan kualitas sumber daya umat. Sebenarnya yang didirikan oleh Kyai Dahlan pada saat itu bukan sekedar pusat pelayanan kesehatan, sosial dan pendidikan yang biasa, tetapi ia telah menciptakan “model” bagi pemberdayaan masyarakat. Model-model pemberdayaan masyarakat inilah yang pada gilirannya menarik minat dan partisipasi masyarakat terhadap kegiatan Muhammadiyah. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat hendaknya lebih diarahkan kepada para “masakin”, dalam arti mereka yang lebih memerlukan ( the most needy), termasuk para buruh, tani, nelayan, kaum miskin perkotaan ( urban poor), buruh migrant, khususnya perempuan dan anak-anak. Mereka yang termasuk katagori “mustad’afien” dan “dhlu’afa”. Hadits yang menyatakan bahwa kita hanya akan memperoleh pertolongan dan juga rizqi dari Allah SWT ( secara sosial, ekonomi, budaya dan politik) apabila kita mendampingi orang-orang yang lemah dan papa; perlu diaktualkan kembali : “Innama tunshoruna wa turzaquna bi dhu’afaaikum”.

Makna dari kehadiran model-model pemberdayaan masyarakat oleh Muhammadiyah yang beraspek pemerdekaan ( sosial, cultural, politis dan religious) ini adalah terciptanya kesadaran kritis masyarakat terhadap kondisi sosial, ekonomi, budaya dan politis yang melingkupinya. Pada saat yang sama, ia menyadarkan potensi yang dimiliki secara sosial, ekonomi, budaya dan politis untuk proses pemberdayaan dan pemerdekaan; lewat pembaruan pembacaan terhadap Al Qur’an dalam konteks sosial historis yang nyata. Muhammadiyah telah secara nyata menjadi gerakan budaya, gerakan dakwah, gerakan pembaruan yang kontekstual ( muqtadhal hal) . Dan sekaligus memberikan harapan baru ( busyra) dan membuka ruang-ruang ijtihad yang dinamis, karena menyediakan metodologi bagi tajdid fil Islam.

2- Menjadikan Al Qur’an sebagai Huda, Rahmat dan Busyra bagi Pemberdayaan Masyarakat.

Ketika Al Qur’an di dijadikan rujukan primer dalam menggerakkan persyarikatan, maka ia akan menjadi sumber petunjuk ( al Huda) yang tidak kunjung habis, bagaikan lautan luas yang tak bertepi. Al Qur’an juga melahirkan daya kritis ( ruhul intiqaad) terhadap sejarah dan kemanusiaan yang sangat tajam. Maka, ketika sebuah sebuah pergerakan yang semula mempunyai watak yang inovatif dan reformis, tapi kemudian tiba-tiba menunjukan gejala kemandegan dan kelambanan, keharusan untuk berkonsultasi kepada Al Qur’an perlu dilakukan dengan amat serius ( jangan-jangan Al Qur’an tidak lagi menjadi acuan primer).

Mengapa model-model pemberdayaan masyarakat yang dilahirkan oleh semangat Al Ma’un tiba-tiba menjadi amal usaha rutin dan bahkan menjadi proyek-proyek elitis yang tidak lagi menyentuh kepentingan para “al miskin” dan “al yatim” ( yatim dan miskin sosial, ekonomi, budaya dan politik), yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat kita. Nampaknya ruh tajdid, ru hal- intiqaad ( spirit of criticism), ruh al- taftisy ( spirit of inquiry), ruh al ikhtira’ ( spririt of innovation) yang pernah diteladankan dan dibangun oleh Kyai Ahmad Dahlan perlu dihadirkan kembali dalam semangat zaman yang berbeda. Untuk itu barangkali ada manfaatnya untuk diingatkan bahwa sebenarnya AL Qur’an telah menyediakan suatu metodologi, manhaj/ thariqah untuk terus mengasah daya kritis dan mengembangkan mekanisme kritik dan kritik diri bagi sebuah persyarikatan yang telah menjadi besar seperti Muhammadiyah ini.

Sudah benar, Muhammadiyah telah melaksanakan Amanu dan ‘Amilus sholihaat, dengan berbagai amal usaha dan proyek-proyek yang berskala nasional yang patut disyukuri bersama. Namun Al Qur’an surat Al Ashr, mengingatkan kepada kita, bahwa “Sesungguhnya semua manusia itu dalam keadaan merugi”. Barangkali, kita saat ini sedang dalam situasi “fie khusrin” ( dalam kerugian) dalam arti yang hakiki. Sekalipun sudah merasa membangun amal usaha yang spektakuler. Karena, kalimat pengecualian “Illa” dalam surat Al Ashr tersebut hanya berlaku apabila kita semua melakukan suatu proses melingkar yang terus-menerus. Yaitu suatu siklus “ Amanu”, wa “Amilus shalihat”, wa “tawashou bil haqi”, wa “Tawashau bil sabri”. Dan kembali lagi ke “Amanu” dan “Amilus Sholihat” dengan peningkatan daya kritis dan semangat pemerdekaan yang baru. Suatu siklus yang tidak pernah terputus. Secara metodologis, ada persyaratan konsistensi dan koherensi antara iman dengan amal sholeh dan kritik diri yang terus menerus.

Konsep “Rahmat” dan “Busyra”, sebenarnya merupakan konsep kunci dalam Al Qur’an yang sangat terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat. Konsep busyra ini, telah sangat manjur membangkitkan semangat para aktivis Muhammadiyah ketika Muktamar Muhammadiyah di Suarakarta, pada tahun 1985 mengangkat “Nashrun Minallahi wa Fathun Qarieb”, sebagai syiar Muktamar. Semangat yang penuh harapan itu masih menyala sampai saat ini. Inilah kekuatan sebuah harapan akan “Nashrun Minallah”. Bukan Nashrun dari yang lain-lain, kecuali dalam arti instrumental. Konsep-konsep dasar seperti ini perlu dielaborasi dan diterjemahkan dalam kerangka pemberdayaan masyarakat yang berasperk penyadaran kritis dan pemerdekaan ( tahrir tauhidy). Demikian pula konsep kerahmatan yang kaffah ( inklusif).

Sekedar contoh, pada bulan Ramadlan yang lalu, saya menghadiri pemberian penghargaan internasional dari World Association of NGOs (WANGO) yang berpusat di New York, yang diselenggarakan di Danubius Helia Hotel, Budapest, Hongaria, tanggal 22 – 24 Oktober 2004. Salah seorang penerima Award tersebut adalah Yusuf Islam ( Cat Steven), pelantun lagu “Morning has Brooken” dari London. Penghargaan kelas dunia tersebut diberikan karena jasa-jasanya dalam melakukan pemberdayaan masyarakat lewat kegiatan kemanusiaaannya di wilayah-wilayah konflik di Bosnia Herzegovina, Balkan, Chehnya dll. Pada kesempatan memberikan sambutannya, Yusuf Islam mengemukakan bahwa setelah masuk Islam ia menemukan sebuah surah dalam Al Qur’an yang memberikan inspirasi kepadanya untuk melakukan kegiatan kemanusiaan tersebut. Surah tersebut adalah “Al Ma’un”, yang kemudian dijadikan nama dari lembaganya yang berpusat di London, “Small Kindness”. Di dalam surah tersebut dikandung ayat-ayat yang dimulai dengan sebuah pertanyaan yang sangat menyentuh “Araaital ladzi yukadzibu biddin”,( “tahukah engkau siapakah mereka yang mendustakan agama ?”). Ayat itu menggerakkan hatinya untuk melakukan kegiatan pelayanan pemberdayaan masyarakat. Kepada peserta yang duduk disebelah, saya bisikkan, bahwa ayat yang sama, juga yang menggerakkan KH Ahmad Dahlan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat, pada kurun 1912-an. Pada saat ini kegiatan Small Kindness sudah tersebar di berbagai penjuru dunia dan juga mempunyai perwakilan di PBB, New York, yang diwakili oleh sahabat kami Muhammed Khan. Pada kesempatan kunjungan kami ke Bangladesh atas undangan Menteri Kehakiman dan UNDP, pada bulan September 2004 yang lalu, kami juga diundang bersilaturrahmi dengan salah satu pelayanan pemberdayaan yang pernah dilakukan oleh Yusuf Islam lewat lembaganya “Islamic Relief”.

Kalau Kyai Ahmad Dahlan yang bertempat tinggal di Yogyakarta, pada tahun 1912 terinspirasi oleh Surat Al Ma’un, dan di Millennium 2 ini seorang Yusuf Islam yang bertempat tinggal di London juga terinspirasi oleh surat dan ayat yang sama; maka inspirasi Qur’an ( Fikrah Qur’aniyah) tersebut masih valid sampai sekarang. Bahkan sekali lagi sebagai batu uji dan sebagai sumber inspirasi perlu terus diasah.

3- Pilihan Strategi Pemberdayaan dalam Masyarakat Ilmu

Dengan modal sosial ( social capital ) yang antara lain berupa kepercayaan masyarakat ( trust ), selain jaringan kelembagaan dan amal usaha Muhammadiyah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air ( dan beberapa di luar negeri), sebenarnya Muhammadiyah mempunyai posisi yang sangat menguntungkan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dalam rangka mewujudkan cita-cita persyarikatan. Tesis awal pemberdayaan yang ditauladankan oleh Kyai Ahmad Dahlan dengan “Al Ma’un” nya sebenarnya masih valid, dengan menyadari perkembangan semangat zaman. Karena dia adalah tesis awal, maka ia merupakan batu uji dan sekaligus sumber inspirasi, dengan ayat-ayat Al Qur’an yang lain berikut Hadits-hadits Nabi.

Berbareng dengan perkembangan masyarakat yang berbasis ilmu (knowledge based society), yang memiliki karakteristik sosial, budaya, ekonomi, politik dan terutama perkembangan tehnologi yang semakin canggih, maka upaya pemberdayaan masyarakat pun dalam aras nasional, regional dan global juga telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Untuk itu persyarikatan Muhammadiyah perlu melakukan ijtihadnya dengan antara lain melakukan pilihan-pilihan strategi dan program-programnya dengan titik masuk ( entry point) yang sesuai dengan khittah Muhammadiyah. Paling tidak pada saat ini, telah terjadi perkembangan 4 ( empat ) generasi pemberdayaan masyarakat :

1- Generasi Pertama : Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kesejahteraan ( Welfare Oriented Organization)
2- Generasi Kedua : Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kemandirian dan kelestarian ( sustainable and self help organization)
3- Generasi Ketiga : Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi dan perubahan sosial ( advocacy and Social Change Orientation)
4- Generasi Keempat : Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi kebijakan publik dan gerakan sosial ( public policy advocacy and social movement )

Dengan perkembangan yang mutakhir ini gerakan pemberdayaan masyakarat memasuki tahap-tahap pembangunan jaringan dari tingkat local, nasional, regional sampai ke tingkat global. Jaringan ini terutama dilakukan dalam kerangka advokasi kebijakan publik dan penguatan masyarakat madani dalam bentuk gerakan sosial.

Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah.

Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah, sejak semula saya yakini dapat merupakan model pemberdayaan masyarakat Muhammadiyah yang efektif dan sekaligus merupakan penguatan masyarakat madani yang tangguh ( atas dasar kesadaran kritis dan pemerdekaan tauhidi). Sejak saya menjadi anggota Badan Pembinaan Organisasi dan Kader ( BPK) PP Muhammadiyah pada tahun 1974, bersama Alm Prof. Djasman Al Kindi, Drs. Bahar Heru Laksono, Bpk Wasthon Sujak dll. Kebetulan saya mempunyai beberapa pengalaman empiris tentang model-model seperti ini baik di Asia maupun di Amerika Latin, yang barangkali dapat memperkaya diskusi kita tentang Ijtihad Muhammadiyah dalam pemberdayaan masyarakat kali ini.

Gerakan Al Mujtamaul Madani dan Haiatul Waqaf

Model lain yang sejak dua decade lalu banyak dikembangkan di dunia Islam antara lain dengan bentuk pemberdayaan Waqaf, di mana Muhammadiyah memiliki asset yang cukup besar. Haiatul Awqaf ini menjadi model pemberdayaan masyarakat dengan masukan ekonomi yang dikembangkan secara kreatif. Model-model ini antara lain dikembangkan di Mesir, Kuwait, Jordan, Arab Saudi, Qatar dll. Pada bulan Maret dan April 2004 yang lalu, saya berkesempatan diundang dalam dua konperensi di Doha, Qatar. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan penyadaran dan pendidikan Hak asasi manusia yang merata, dari tingkat pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi dalam proses demokratisasi dengan terus mengembangkan metodologimya yang mutakhir, sehingga dijadikan model pendidikan HAM di Asia dan Pasifik. Pengarus utamaan (mainstreaming) kebijakan pembangunan berbasis hak asasi ( Rights Based Development) juga menjadi agenda masyarakat madani yang didukung oleh pemerintah Qatar.

Pengalam yang cukup menarik dalam jaringan pemberdayaan masyarakat madani di dunia Islam, saya peroleh sejak tahun 2000, ketika saya diminta menjadi salah seorang anggota International Council of Awqaf and Islamic NGOs ( ICANO) yang berpusat di Istanbul dan London. ICANO ini merupakan jaringan internasional LSM Islam dan lembaga Waqf yang meskipun belum cukup lama berdiri tetapi telah mengambil peran yang cukup penting dalam forum-forum advokasi kebijakan publik internasional, termasuk dalam forum-forum multilateral di lingkungan PBB dll. Pengalaman ini juga menarik untuk didiskusikan bersama.

Gerakan Sosial untuk Kebijakan Publik

Dalam kaitan dengan itu ada baiknya pada kesempatan ini dibagi hasil konperensi Internasional World Association of Non Governmental Organizations (WANGO) yang diselenggarakan di Budapest, pada bulan Ramadlan yang baru lalu, mulai tanggal 22 sd 24 Nopember 2004. Disadari bersama bahwa pada dewasa ini ada kebutuhan yang mendesak dari kepemimpinan masyarakat madani pada peringkat yang padu dan sepadan dengan perkembangan pada lembaga-lembaga sosial yang ada di dunia pada saat ini – mulai dari multi national corporation sampai dengan global media enterprises. Tanpa kepemimpinan yang sepadan dengan perkembangan lembaga-lembaga multi nasional tersebut di lingkungan masyarakat madani, maka kebutuhan dasar manusia, baik sebagai pribadi maupun keluarga dapat tenggelam dan terabaikan. Dalam kerangka ini maka pembinaan keluarga sakinah ( ‘ailah sakinah ), menjadi sangat penting, justru di tengah-tengah berkembangnya lembaga-lembaga transnasional. Sehingga problem perdamaian duniapun, penyelesaian harus dimulai dengan mawaddah, rahmah dan sakinah dalam keluarga.

Dalam masyarakat yang sedang mengalami transisi dari rezim yang otoriter kepada masyarakat yang demokratis, banyak pekerjaan rumah bangsa dan umat yang harus ditangani dengan sungguh-sungguh. Pemberdayaan masyarakat dalam situasi transisi ini wilayahnya cukup luas, mulai dari upaya penegakan HAM; penyelesaian konflik-konflik secara damai; rekonsiliasi dan penyembuhan; pendidikan perdamaian; rehabilitasi pasca konflik; pemasyarakatan budaya damai dsb. Tema-tema tersebut dapat dibreakdown menjadi program-program yang spesifik

HAM, Perdamaian dan Rekonsiliasi

Tema-tema rekonsiliasi sosial, truth and forgiveness, multikulturalisme, hak asasi manusia, perdamaian, dll semenjak beberapa tahun terakhir ini semakin menarik perhatian dan telah menjadi sajian utama di dalam bergai seminar dan konperensi. Tidak terkecuali di dalam komunitas muslim. Sebagai salah satu contoh kongkrit yang diharap menarik perhatian peserta diskusi ini untuk melakukan kajian yang lebih mendalam adalah pada tanggal 1 sd. 3 September 2001, penulis diundang untuk menghadiri Annual Convention of Islamic Society in North America ( ISNA ) yang diselenggarakan di Rosemont Convention Center, Chicago, USA. Konperensi yang diselenggarakan, kebetulan, satu minggu sebelum terjadinya peristiwa tragis di New York, 11 September 2001, tersebut mengembangkan tema yang sangat menarik, khususnya bagi masyarakat muslim di Amerika yang hidup di dalam masyarakat yang bersifat multietnik, multi religious dan multicultural, yaitu : “ Strength through Diversit y”.

Di dalam konvensi yang dihadiri oleh 20.000 peserta tersebut, digelar tidak kurang 8 paralel group discussion pada setiap sessi, setiap harinya yang anatara lain membahas masalah : 1- “The Making of a Muslim Multi-Cultural Community”, 2- “Tolerance : A Hallmark of Muslim Character”, 3- “Diversity : The Natural Way”, 4- “Managing Diversity : Conflict Resolution”, 5- “How Diverse Are WE ? A Profile of Muslim in North America”, 6- “Emergence of an American Muslim Identity”, 7- “Social Service : Meeting the Needs of a Diverse Community”, 8- “Converging Our Diversity : A Pragmatic Approach”, 9- “Muslim in an Inclusive America”, 10- “Islam Among Latino America”, 11- “Diversity in Islamic Art and Architecture” , 12- “Working with Ideological Diversity”, `13- “Hajj : Harmony in Diversity”, 14- “Ethics of Disagreement”, 15- “Muslim Participation in the Political Process”, 16- “Role of Islamic Institutions in Dealing with Diversity” dll,

Perlu dicatat pula bahwa secara spesifik para pemuka Islam di dunia telah melakukan suatu pertemuan yang membahas masalah Hak Asasi Manusia dan Demokrasi setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001. Pada tanggal 3-5 Agustus 2002, di Hotel Mandarin, London, UK, telah pula digelar sebuah pertemuan puncak dunia Islam “Summit of World Muslim Leaders” yang dihadiri oleh para pemuka Islam dari Eropa, Amerika Latin, Amerika Utara, Rusia, Bosnia Herzigovina, Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara, dengan tema utama “State of the Muslim World Today”. Di dalam pertemuan puncak pemuka Islam dunia tersebut telah membahas empat tema besar : 1-“Islam, Human Rights and Democracy” 2- “Quranic Interpretation in Changing Times”, 3- “Issues in Islamic Education : Problem and Prospect”, 4- “Role of Islam in the 21st Century”, di mana penulis menjadi salah seorang pemakalahnya. Di akhir konperensi tersebut telah dikeluarkan sebuah deklarasi bersama yang diberi tajuk “London Declaration” yang memuat berbagai rumusan pokok dari hasil pertemuan puncak tersebut.

Dari pengantar singkat yang merupakan refleksi kritis terhadap upaya ijtihad dalam pemberdayaan masyarakat, dapat dikembangkan suatu diskusi yang lebih mendalam. Beberapa paparan pilihan alternatif strategi pemberdayaan dalam masyarakat ilmu ( knowledge based society) sekedar tawaran untuk menyusun agenda pemberdayaan ke depan.

Pegangsaan, 24 Nopember 2004

Daftar Rujukan :

1- Abdulkader, Deina, Social Justice in Islam, IIIT, Virginia 2000
2- Anissuzzaman, Muhamamd and Majumder Md. Zainul Abedin, Leadership, Western and Islamic, A Conceptual and Explorative Study, BIIIT, Dhaka, 1996
3- Engineer, Asghar Ali, Rethinking Issues in Islam, Sangam Books, London, 1998
4- Camilleri, Joseph A (Ed), Religion and Culture in Asia Pacific : Violence or Healing ?, Vista Publication, Melbourne 2001
5- Gulen, M. Fethullah, Essentials of Islamic Faith, the Foauntain, Virginia, 2000
6- Muzaffar, Chandra, Rights, Religion and Reform, Routledge Curzon, London, 2002
7- Rais, M Amin (Ed), Islam di Indonesia, Suatu Ikhtiar Managaca Diri, CV Rajawali, 1986
8- Ward, Thomas J (Ed)., Development, Social Justice and Civil Society, Paragon House, Minnesota, 2004

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

.
N a m a : M. Habib Chirzin
Tempat/Tgl. lahir : Kotagede, Yogyakarta, 8 Januari 1949
Alamat : Taman Amir Hamzah No 8, Pegangsaan, Jakarta Pusat 10320
Telp : (021) 70985445, HP. 08131438848
W-mail : habibaman@yahoo.com

Pendidikan / Training :

1- SD Muhammadiyah, Bodon, Kotagede, 1961
2- KMI, Pondok Darussalam, Gontor, Ponorogo, 1968
3- Institute Pendidikan Darussalam, Gontor, 1972
4- Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 1983
5- Development Workers Program, Asian Cultur¬al Forum on Development (ACFOD) Food and Agricultural Organization (FAO) Asia Pacific, Bangkok, Manila, Kuala Lumpur, Colombo, Dacca, Kathmandu, 1978
6- Cross Cultural Consultancy, Den Haag, 1985
7- Adult Learner Center, Riverside Drive, New York, 1990

Jabatan :

1- President, Islamic Millennium Forum for Peace and Dialogue
2- Penasehat, Himpunan Pengusaha Muda Muhammadiyah (HIPMUH )
3- Sek Jen, International Institute of Islamic Thought ( IIIT), Indonesia

Pengalaman Organisasi :

1- Ketua Cabang Pemuda Muhammadiyah, Kotagede, Yogyakarta 1972 – 1974
2- Anggota Badan Pendidikan Kader dan Organisasi PP Muhammadiyah, 1974 – 1978
3- Anggota Departemen Dakwah, PP Pemuda Muhammadiyah 1976 – 1980
4- Anggota Departemen Kader , PP Pemuda Muhammadiyah 1980 – 1986
5- Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, 1985 – 1989
6- Ketua Hubungan dan Kerjasama Internasional PP Muhammadiyah, 1991 – 1996
7- Penasehat Hubungan dan Kerjasama Internasional PP Muhammadiyah, 1996 – 2001

Keanggotaan Organisasi Internasional :

1- Anggota Sekretariat , International Study Days for Society Overcoming Domination, Paris (1979 – 1981)
2- Dewan Pendiri, dan Dewan Direktur South East Asia Regional Institute for Community Education (SEA-RICE), Manila, 1982 sampai sekarang.
3- Anggota Komisi “Pendidikan Hak Asasi Manusia dan Perdamaian”, Asian and South Pacific Bureau for Adult Education ( ASPBAE ), Bangkok, 1991
4- International Advisory Board, Global Education Associates, New York, 1994 sampai sekarang
5- Member, Asian Muslim Action Network (AMAN), Bangkok, 1994 sampai sekarang
6- International Advisory Panel, International Movement for a Just World, Kuala Lumpur, 1994 seumur hidup.
7- International Advisory Board, World Citizen Diplomats, Princeton, USA, 1994 sampai sekarang.
8- International Advisory Board, International Institute of Islamic Thought ( IIIT), Herndon, USA, 2000 sampai sekarang
9- International Advisory Board, The World Family for Love and Peace, Taipei, Taiwan, 2002 sampai sekarang
10- International Advisory Board, Forum on Religion and Global Ethics, California, USA, 2003 sampai sekarang
11- Council Member, Asian Muslim Action Network (AMAN), Bangkok, 2003 sampai sekarang

Penghargaan dan Certificate :

1- The International Aga Khan Award for Architecture, Pakistan,1980

2- The Ambassador of Good Will, Gubernur Negara Bagian Arkansas, Bill Clinton, Arkansas 1987

3- The Ambassador of Peace, Interreligious and International Federation for the World Peace (IIPWF), Seoul, 2002

Written by Habib Chirzin

November 24, 2008 at 9:06 am

Posted in 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: