Habib Chirzin’s Weblog

Blog On Peace, Human Rights and Human Responsibilities

ETOS EKONOIMI DAN PENTADBIRAN BERTERASKAN NILAI

leave a comment »

ETOS EKONOMI DAN AKONTABILITAS DALAM PENTADBIRAN BERTERASKAN NILAI

Oleh

Drs. M. Habib Chirzin *)

Bismillahirrahmanirrahiem

Orientasi Keunggulan dan Pentadbiran Berteraskan Nilai

Derasnya arus perubahan dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi masyarakat dunia menghadapi datangnya millennium baru di abad 21, telah mendorong berbagai organisasi dan perusahaan untuk mengembangkan orientasi kepada nilai-nilai dalam menjalankan kegiatannya. Orientasi nilai merupakan suatu kebijakan menuju keunggulan (excellennce/ imtiyaz) dalam pentadbiran organisasi, perusahaan dan lembaga pemerintahan. Orientasi nilai kini merupakan salah satu prinsip keunggulan yang membuat perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat berjaya dalam mengembangkan kinerja perusahaan. Prinsip keunggulan ini berasas pada sistem nilai perusa haan, di mana perusahaan mendasarkan diri pada nilai-nilai yang mampu menumbuhkan kebanggaan pada setiap karyawannya untuk berprestasi. Namun memperbincangkan tentang sistem nilai sering dianggap kurang populer, karena hanya membuang waktu mengenai hal-hal yang kurang dapat dilihat, sebagaimana berbincang tentang struktur organisasi, kebijakan perusahaan, strategi dan anggaran perusahaan. Permasalahan mengenai nilai-nilai yang diikuti suatu perusahaan juga kurang mendapat perhatian dalam setiap memperbincangkan strategi manajemen untuk perusahaan. Sebagian besar orang beralaskan pada hal-hal yang bersifat teknis dan kurang memperhatikan hal-hal yang bersifat filosofis dan religius.

Sikap sebagian orang tersebut adalah keliru, oleh karena memperbincangkan masalah nilai adalah merupakan prinsip dan selayaknya menempati prioritas utama bagi organisasi dan perusahaan yang ingin maju. Hal ini juga dilakukan oleh pemilik dan pemimpin perusahaan besar Amerika Serikat yang berjaya. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin besar tersebut adalah menulis mengenai nilai-nilai dan pencapaian nilai tersebut seefektif mungkin.

Thomas Watson, pemilik Wal-Mart menulis sebuah buku tentang nilai, bertajuk “A Business and it’s Beliefs”, berdasarkan pengalamannya bekerja di IBM. Ia mengemukakakn bahwa kejayaan suatu bisnis tidak semata terletak pada struktur organisasi yang hebat dan kemampuan teknis yang profesional, namun lebih terletak pada keyakinan yang melekat pada setiap karyawan perusahaan tersebut terhadap berbagai hal yang mampu meningkatkan kinerja perusahaan. Kesetiaan terhadap keyakinan perusahaan tersebut akan membawa perusahaan mencapai kejayaan yang didapat dari kejayaannya menterjemahkan keyakinan bisnis ke dalam tindakan, inovasi dan masa yang tepat dalam melakukan kegiatan bisnis. (Bambang Tri Cahyono,1995, 68-70)

Tidak jarang terjadi kasus-kasus perusahaan bermasalah atau pejabat bermasalah yang justru merupakan perusahaan atau pakar di bidang keuangan. Masalah keuangan lebih sering terjadi pada bisnis perbankan dan bukan di sektor riil. Kebanyakan perusahaan perbankan tersebut gagal karena nilai dan identitas perusahaan tidak menonjol dan hanya merupakan copy dari nilai-nilai perusa haan bank umum yang dikenal, misalnya mengutamakan pelayanan, memberian hadiah menarik dan sebagainya. Yang diperlukan oleh perusahaan yang berjaya sebenarnya adalah mencari identitas dan filosofi perusahaan sedemikian rupa sehingga diperoleh kinerja perusahaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Identitas dan filosofi tersebut yang paling kuat adalah yang bersumber pada nilai-nilai asasi agama.

Orientasi nilai ini nampaknya sedang ditumbuhkan di Malaysia dengan mengembangkan wawasan ke depan yang visonary. DR. Mahathir bin Mohamad, Perdana Menteri Malaysia mengemukakan bahwa “Malaysia wishes to prosper. It has a vision. It wants to be fully developed country by 2020. To achieve this vision, selected ethical values must be propagated. It must be propagated within the whole society. It must be propagated, and selectively propagated, among certain critical groups which are expected to play a major role in the development of the nation. The managers, the executives and the professionals together constitute one such group” (Mahathir bin Mohamad, 1992,20-21).

Asas Tauhid dalam Etos Ekonomi dan Akontabilitas

Akontabilitas adalah salah satu prinsip pentadbiran yang sangat penting, baik akontabilitas kepada lingkungan dalam maupun lingkungan luar organisasi, perusahaan ataupun lembaga pemerintahan. Untuk itu perlu dikembangkan suatu visi ke depan yang mempunyai basis nilai yang kokoh yang bersumber dari ajaran Islam. Tekad untuk mengembangkan nilai-nilai etik dalam kehidupan masyarakat, terlebih-lebih di kalangan mereka yang memimpin dan mengambil keputusan, baik di kalangan pemerintah maupun swasta, sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Malaysia, merupakan langkah yang sangat visionary.

Sehubungan dengan perlu dikembangkannya pentadbiran dan pengurusan yang berorientasi nilai ini, bagi upaya peningkatan laju pembangunan, pada kesempatan kongres “The Emergence of the 21st Century and Vision 2020”, DR. Mahathir Mohammad dalam ceramahnya yang bertajuk “Perspectivs on Islam and the Future of Muslims”, mengemukakan “An Islamic administration must strive to ensure that its nation achieves rapid development so that it can compete with the rest of the developed world. Nevertheless, efforts to retain moral standards and high values of life that are demanded by Islam must not be neglected. (Ibid,4)

Tentang asasinya orientasi kepada nilai-nilai Islam yang berasas kan tauhid, Yusuf Al- Qardhawi, di dalam “Menghidupkan Nuansa Rabbaniah dan Ilmiah”, mengemukakan bahwa tauhid adalah kekhususan pertama dari kehidupan spiritual dalam Islam dan sekaligus merupakan sendinya yang pertama.(Yusuf Al-Qardhawi, 1995, 40)

Tauhid itu sendiri, menurut Al-Qardhawi adalah pengesaan Allah untuk isembah dan dimintai pertolongan. Jadi, tidak ada yang isembah kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Allah, inilah ketetapan firman-Nya.

“Kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (Al-Fatihah : 5).

Ayat ini dijadikan Allah sebagai sarana ikatan Pembukaan Al Kitab dan Ummul-Qur’an (Al Fatihah). Imam Al Harawy menjadikannya sebagai inti tulisannya “Manazilus-Sa’irin Ila Maqamati Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” yang kemudian diuraikan oleh Ibnul-Qayyim di dalam “Madarijus Salikin”. (Ibid)

Secara lebih fungsional, Tauhidullah atau keesaan Allah prinsip pertama dari agama Islam dan setiap sesuatu yang Islamiah. Itulah prinsip bahwa Dia adalah tunggal secara mutlak, transenden secara mutlak, dan secara metafisik dan axiologis tertinggi. Dia adalah sang Pencipta, sumber kebaikan dan keindahan. Kehendak-Nya adalah hukum alam maupun hukum moralitas. Seluruh makhluk, terutama manusia yang telah diciptakan-Nya dengan bentuk yang sebagus-bagusnya dengan kemampuan-kemampuan untuk mengenal-Nya dan mngakui kreasi-kreasi-Nya maupun kesanggupan-Nya untuk mengubah alam semesta agar pola-pola etik dan estetiknya menjadi sempurna, wajib menyembah dan memuji-Nya. (Isma’il Raji al Faruqi, 1984,56).

Menurut al Faruqi, berpikir dan hidup dengan kesadaran akan keesaan Tuhan (Tauhid) adalah berpikir dan hidup di dalam sebuah dunia yang hidup serta menawan hati. Karena segala sesuatu di dalam dunia menjadi ada karena perbuatan Allah dan dipelihara oleh pemeliharaanNya sebagai Rabbul ‘alamien. Di dalam dunia yang seperti ini tak ada sesuatupun yang sia-sia atau tidak berarti. Dan di dalam alam semesta ciptaan Allah yang seperti ini adalah mengetahui hubungan-hubungan kita yang kompleks dan tak terhingga dengan semua makhluk; terutama sekali mengakui diri kita sebagai ciptaan-Nya, keberhutangan kebaikan kita kepada-Nya, dan mencintai serta mematuhi-Nya yang sepatutnya. Menjadi seorang Muslim berarti bahwa di dalam kesadaran kita senantiasa mengingat Allah.

Dan karena dia adalah Pencipta dan Hakim, menjadi Islam berarti mengerjakan segala sesuatu sebagaimana yang dikehandaki-Nya dan demi Dia semata-mata (Lillahi Ta’ala). Di dalam kehidupan Islam, hal-hal ini diakui dan dimanfaatkan dengan cara demikian, sementara di dalam pemikiran Islam, Dialah sebab (cause) yang pertamadan terakhir dari segala sesuatu. Dengan demikian sifat dan aktifitas-Nya adalah prinsip-prinsip konstitutif dan regulatif yang pertama dari semua ilmu pengetahuan. Apakah obyek pengetahuan itu adalah mikro kosmos, atau makro kosmos, kedalaman diri sendiri, tingkah laku masyarakat, atau perjalanan sejarah. (Ibid,57)

Pandangan tauhid seperti ini sangat esensial, oleh karena secara sama, ilmu pengetahuan Islam memandang setiap obyek pengetahuan sebagai realisasi tujuan yang dikehendaki Allah, atau membantu tercapainya suatu tujuan lain yang dikehendaki demikian, sehingga hirarki kausal di dalam alam semesta dalam masa bersamaan adalah hirarki tujuan di mana di puncaknya adalah kehendak Allah. Ilmu pengetahuan Islam mengatakan bahwa tidak ada kehidupan, tidak ada ebenaran, dan tidak ada nilai di luar rangkaian dan kompleks di mana Allah SWT adalah asal mula dan akhir, yang dekat dan sekaligus Maha Tinggi. (Ibid).

Visi dan Misi berteraskan Nilai-nilai Tauhid

Akontabilitas dalam konsep pentadbiran Islami yang berintikan pertanggung jawaban, mensyaratkan loyalitas dan komitmen. Loyalitas kepada visi dan misi lembaga serta komitmen kepada nilai-nilai yang dijunjungnya. Loyalitas yang tertinggi berupa iman dan ketundukan kepada Allah dengan segala petunjuk dan hukum-hukum-Nya, yang dilaksanakan dalam bentuk ibadah, sebagai tujuan penciptaan manusia, serta amal sholeh sebagai pelaksanaan misinya ntukmenjadikan kehadiran umat Islam sebagai rahmatan lil ‘alamien.

“Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”, Al An’am (6:162)

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah engkau kepada Allah dan Rasul (Nya) serta pemimpin di antara kamu”, An Nisaa’ (4:59)

Tugas kepemimpian dan pentadbiran adalah melakasanakan amanah dalam kerangka tauhid adalah tugas sebagai kholifah. Penanggungan amanah Allah oleh manusia membuat ia menjadi kholifah yang kedudukannya sebagai wakil Allah. Kekhalifahan manusia ini menurut al Faruqi terdiri atas penyempurnaan hukum-hukum moral. Hukum-hukum moral ini dan hukum agama adalah satu, walaupun yang terakhir menyuruh kita untuk melakukan berbagai ritual. Hukum-hukum moral mempunyai aspek-aspek yang tidak hanya bersifat ukhrowi, tetapi juga yang betul-betul berkenaan dengan dunia di dalam karakter dan efeknya. Keseluruhan hukum agama atau moral yang sedikitnya terdiri dari praktek aktual dalam kehidupan, keadaan dan perbuatan. Apa yang ditambahkan hukum-hukum tersebut kepada praktek-praktek aktual adalah sebuah kualitas, sebuah perspektif, sebuah cara untuk melaksanakan praktek-praktek itu sendiri (termasuk di dalam pentadbiran dan pengurusan). (Ibid 76-77).

Kandungan dari amanah Ilahi, jadi khilafah, adalah memperkembangkan dan menegakkan kebudayaan dan peradaban. Untuk menegakkan perdamaian dan menjamin hidup dan hak milik, untuk mengorganisasi umat manusia menjadi sebuah masyarakat tertib. Dengan demikian akontabilitas berdimensi hablun munallah dan hablun minannaasi. Hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Oleh karena itu pertanggung jawaban dalam pentadbiran dan pengurusan harus dilakukan baik terhadap Allah sebagai umat yang beriman, kepada kepada manusia dalam hubungan sosial kemasyaratannya. Perasaan kedekatan dengan Allah dan kehadiran-Nya serta mengingat-Nya baik dalam keadaan berdiri maupun duduk, membuat manusia menyadari akan pertanggung jawaban amal perbuatannya kepada Allah, yang senantiasa berada di dalam pengawasan dan pengetahuan-NYa, yang Maha Mendengar dan Mengetahui “sami’un aliem” serta Maha Melihat “bashier”, Sehubungan dengan amaliah dari iman kita yang dijabarkan dalam ilmu pentadbiran yang berteraskan tauhid, maka beberapa perta nyaan dapat diajukan dalam kerangka Akontabilitas ini antara lain misalnya :

1- Akontabilitas pekerjaan pengurus, yang pertanyaannya antara lain berupa, apakah perusahaan dapat berjalan sedemikian rupa, sehingga sumber-sumber keuangan, sumber-sumber pisik dan sumber daya manusianya didaya gunakan dengan cara yang paling efektif dan efisien.

2- Akontabilitas yang menyangkut profitabilitas, apakah terdapat pengertian penuh di dalam perusahaan bahwa profitabilitas dalam jangka panjang, yang terkandung dalam kebijakan sosial progressif, adalah penting bagi semua pihak yang berkepentingan, termasuk masyarakat luas.

3- Tanggung jawab sosial : kebijakan dan organisasi, adakah kesadaran pada dewan komisaris dan tim manajemen umum akan keperluan untuk, secara sistematik, menganggap tanggung jawab sosial sebagai bagian dari proses perencanaannya.

4- Tanggung jawab sosial dan peluang baru : adakah peluang perusahaan, yang juga merupakan kesempatan menyelesaikan atau mengurangi masalah-masalah sosial.

5- Apakah perusahaan mempunyai hubungan-hubungan yang keonstruktif dengan masyarakat setempat.

6- Apakah perusahaan mempunyai “kebijakan konsumen” yang secara matang dipertimbangkan, misalnya gambaran mengenai barang-barangnya, tanggal kedaluwarsa, standar iklan, keamanan tinggi pada produk dll.

7- Apakah faktor lingkungan alam sekitar diperhitungkan dalam analisis biaya/keuntungan dari suatu produk baru atau dari bahan pembungkus/pengemas

8- Apakah masalah-masalah sosial dipertimbangkan secara sungguh-sungguh dalam mengambil keputusan mengenai investasi.

9- Apakah perusahaan berkonsultasi dengan pemegang saham dan memberikan mereka informasi sepenuhnya mengenai kebijakan sosial perusahan.

10- Apakah perusahaan cukup bergaya terbuka.

11- Bagaimana sikap pokok perusahaan terhadap serikat pekerja. Adakah usaha terus-menerus untuk mengadakan perundingan yang kreatif.

12- Apakah ada analisis luas mengenai keperluan pelatihan pada semua peringkat yang meliputi pengetahuan dan keterampilan kini dan masa depan.

Prinsip-prinsip Tauhid merupakan asas yang kokoh bagi upaya meningkatkan akontabilitas dalam pengurusan dan pentadbiran, baik kepada lingkungan dalam dan lingkungan luar. Sesuai dengan fungsi khilafah yang diemban umat manusia serta amanah yang harus ditunaikannya. Baik terhadap Allah Rabbul ‘alamien, maupun kepada sesama manusia dan alam sekitar. Pertanyaan-pertanyaan di atas yang menyangkut akontabilitas ke dalam organisasi, perusahaan maupun lembaga pemerintahan; maupun kepada masyarakat, dapat dihadapkan kepada prinsip-prinsip tauhid tadi, sehingga dapat dicapai kondisi akontabiliti yang optimal, sesuai dengan fungsi kemanusiaan kita sebagai saksi-saksi atas manusia dan kemanusiaan (syuhada ‘alan nas), saksi bagi pembangunan umat dan saksi bagi kesejahteraan dan perdamaian dunia.

Wallahu a’lamu bis showab

Pegangsaan, 18 Juli 1996

*) Penulis adalah Direktur Eksekutif IIFITHAR (International Islamic Forum for Science, Technology and Human Resources Development). Dan pengurus Perhimpunan untuk Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).

Bahan Rujukan

1. Ahmad, Khurshid (ed), “Islam Its Meaning and Message”, Dewan Pustaka Islam, Kuala Lumpur, 1982.
2. Akiyama, Tossyiyuki, “Islamic Perspectives on Science and Technology”, The Institute of Middle Eastern Studies, International University of Japan, 1988.
3. Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib, “Islam The Concept of Religion and The Foundation of Ethics and Morality”, Angkatan Belia Islam Malaysia, 1976.
4- Al Faruqi, Isma’il Raji, “Islamisasi Pengetahuan”, terjemah Anas Mahyudin, Pustaka, Bandung, 1984
5- Ali, Arizal Widjanarko bin Marah, “Professional Management Trend 2000 Menuju Manajement Islam”, Penerbit Palinggam, Jakarta, 1995
6- Al-Qardhawi, Yusuf, DR, “Menghidupkan Nuansa Rabbaniah dan Ilmiah”, terjemah Kathur Suhardi, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1996
7- Anisuzzaman, Muhammad, “Outlining Islamic Public Administration : An Exploratory Approach”, dalam “The American Journal of Islamic Social Sciences”, Vol. 7, No. 3,
Desember 1990, The Association of Muslim Social Scientists and The Institute of Islamic Thought
8- Azhim, Ali Abdul, Prof., “Epistemologi dan Aksiologi Ilmu Perspektif Al-Qur’an”, Alih bahasa Khalilullah Ahmad Masykur Hakim, CV Rosda, Bandung, 1989.
9- Bonoan, Reul (ed), “Values Formation in Higher Education”, National Book Store, Metro Manila, 1985.
10- Bin Mohammad, Mahathir, Dato Seri DR, “Perspectives on Islam and the Future of Muslims, Institute of Islamic Understanding”, Kuala Lumpur, 1992
11- Cahyono, Bambang Tri, Ph.D, “Revolusi Manajemen Bacaan Wajib Bagi Eksekutif”, Badan Penerbit IPWI, Jakarta, tanpa tahun
12- Humble, John, “Audit Tanggung Jawab Sosial Perusahaan”, Wahana Mutlak Manajemen Hari Depan”. terjemah Rochmulyati
Hamzah, LPPM, Jakarta, 1981
13- Obenhause, Victor, “Ethics for an Industrial Age”, John Wiley and Son, Inc., New York, 1967.
14- Sardar, Zainuddin, “Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim”, Alih Bahasa Rahmani Astuti, Mizan, Bandung, 1986.
15- Stachouse, Max L., “Ethics and The Urban Ethos, an Essay in Sosial Theory and Theological Recontruction”, Beacon Press, Boston, 1972.

CURRICULUM VITAE

N a m a : M. Habib Chirzin
Tempat/Tgl. lahir : Kotagede, Yogyakarta, 8 Januari 1949

Kantor : IIFTIHAR, Gedung BPPT I, Lt 16, Jl. M. H. Thamrin No. 8
Jakarta Pusat 10340
Telp : (021) 3926714, Fax : (021) 3926713
e-mail : habib@mimo.bppt.go.id

Pendidikan /
Training : – K M I, Pondok Modern, Gontor
– Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 1983
– Cross Cultural Consultancy, Den Haag, the Natherlands, 1985
– Adult Learner Center, Riverside Drive, New York, USA, 1990

Jabatan :

1- Direktur Eksekutif IIFTIHAR (International Islamic Forum for Science,
Technology and Human Resources Development)
2- Pengarah, Gerakan wakaf Buku Nasional dan Pengembangan Masyarakat,
Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI) Pusat, 1995 – 2001
3- Pengurus Perhimpunan untuk Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
4- Wakil Ketua, Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), 1997 – 2001
5- Penasehat, Keluarga Alumni Universitas Islam Internasional Malaysia.

Keanggotaan Lembaga Internasional :

1- Anggota Sekretariat, International Study Days, Paris, (1979 – 1981)
2- Dewan Pendiri, dan Anggota Dewan Direktur South East Asia Regional Institute for Community Education (SEA-RICE), Manila, 1982 sampai sekarang.
3- Anggota International Peace Research Association (IPRA), Peace Education Commission, Michigan, USA, 1990 sampai sekarang.
4-Team Koordinator, Asian Cultural Forum on Development (ACFOD), Bangkok,
1991- 1996.
5-Team Koordinator, Asian Muslem Action Network (AMAN), New Delhi, India,
1992 sampai sekarang.
6- Anggota Dewan Pendidikan Internasional, International Education Council
“Project Global 2000”, New York, 1992 sampai sekarang.
7- Anggota Dewan Penasehat Internasional (International Advisory Panel) “Just World Trust”, Penang, 1993 seumur hidup.

8- Anggota Dewan Pendiri, Forum Intelelektual Muda Muslim Asia Tenggara,
(FIMMAT), Kuala Lumpur, 1994
9- Anggota Dewan Penasehat Internasional, Global Citizen Diplomat, Princeton, USA, 1994 sampai sekarang
10- Anggota Dewan Penasehat Internasional (International Advisory Board),
International Center for Islamic Political Economy, Islamic University,
Chitagong, Bangladesh, 1997 sampai sekarang.
11- International Representative, School of Islamic and Social Studies,
Virginia, USA , 1997 sampai sekarang

Penghargaan /Certificate :

1- The International Aga Khan Award for Architecture, Lahore, Pakistan, 1980

2-The Ambassador of Good Will, Gubernur Negara Bagian Arkansas, USA,
Bill Clinton, 1987

Written by Habib Chirzin

November 24, 2008 at 9:38 am

Posted in 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: