Habib Chirzin’s Weblog

Blog On Peace, Human Rights and Human Responsibilities

Budaya Damai dan Human Security

leave a comment »

BUDAYA DAMAI DAN HUMAN SECURITY
SEBAGAI AGENDA BERSAMA

Oleh

Drs. M. Habib Chirzin

1- Diversifikasi Tantangan dalam Masyarakat Multikultural

Masyarakat Indonesia pada saat ini masih berada dalam suasana yang penuh keprihatianan yang mendalam. Keprihatinan oleh karena belum berakhirnya krisis ekonomi yang membawa kepada krisis sosial dan krisis politik yang berkepanjangan. Keprihatinan karena masih berlangsungnya tindak kekerasan di berbagai wilayah di tanah air tercinta, yang telah mencabik-cabik rasa kesatuan dan persatuan sebagai bangsa yang cinta damai. Keprihatinan oleh karena semakin banyaknya anak yang putus sekolah, serta ibu hamil dan anak-anak yang menderita kurang gizi. Keprihatinan oleh karena semakin banyaknya pengangguran dan langkanya kesempatan kerja. Keprihatinan oleh karena semakin bertambahnya penduduk miskin di negara kita yang konon subur makmur gemah ripah loh jinawi. Tidak kurang memprihatinkannya pula wacana dan budaya politik yang masih lebih mengemukakan kepentingan golongan dan kelompok serta belum menunjukkan kedewasaan dalam tata pergaulan bangsa yang merdeka dan masyarakat yang berperadaban. Daftar keprihatinan tersebut diperpanjang dengan ancaman baru yang berupa International organized crimes, International Terrorism, Drug Trafficking, Children and Women Trafficking, Ecological Devastation, dll, yang sering disebut dengan Diversification of Threat.

Tema-tema perdamaian, rekonsiliasi sosial, truth and forgiveness dan multikulturalisme dll semenjak beberapa tahun terakhir ini semakin menarik perhatian dan telah menjadi sajian utama di dalam bergai seminar dan konperensi. Tidak terkecuali di dalam komunitas muslim. Sebagai salah satu contoh kongkrit yang diharap menarik perhatian peserta diskusi ini untuk melakukan kajian yang lebih mendalam adalah pada tanggal 1 sd. 3 September 2002, penulis diundang untuk menghadiri Annual Convention of Islamic Society in North America ( ISNA ) yang diselenggarakan di Rosemont Convention Center, Chicago, USA. Konperensi yang diselenggarakan, kebetulan, satu minggu sebelum terjadinya peristiwa tragis di New York, 11 September 2001, tersebut mengembangkan tema yang sangat menarik, khususnya bagi masyarakat muslim di Amerika yang hidup di dalam masyarakat yang bersifat multietnik, multi religious dan multicultural, yaitu : “ Strength through Diversit y”.

Di dalam konvensi yang dihadiri oleh 20.000 peserta tersebut, digelar tidak kurang 8 paralel group discussion pada setiap sessi, setiap harinya yang anatara lain membahas masalah : 1- “How Diverse Are WE ? A Profile of Muslim in North America”, 2- “Diversity : The Natural Way”, 3- “Tolerance : A Hallmark of Muslim Character”, 4- “Emergence of an American Muslim Identity”, 5- “Managing Diversity : Conflict Resolution”, 6- “Social Service : Meeting the Needs of a Diverse Community”, 7- “Converging Our Diversity : A Pragmatic Approach”, 8 “The Making of a Muslim Multi-Cultural Community”, 9- “Muslim in an Inclusive America”, 10- “Islam Among Latino America”, 11- “Diversity in Islamic Art and Architecture” , 12- “Working with Ideological Diversity”, `13- “Hajj : Harmony in Diversity”, 14- “Ethics of Disagreement”, 15- “Muslim Participation in the Political Process”, 16- “Role of Islamic Institutions in Dealing with Diversity” dll, yang masing-masing dibahas oleh dua sampai empat orang panelis, dengan puluhan sampai ratusan peserta diskusi kelompok. Sebuah upaya yang menarik untuk membangun masyarakat yang multikultural.

2- Kearifan Spiritual dan Religious dalam Membangun Budaya Damai

Dalam situasi yang masih centang perentang yang melanda tanah air tercinta ini, dan hilangnya sense of the hope dari sebagian masyarakat kita, sudah selayaknya sebagai umat yang beriman, di dalam suasana Iedul Fithry dan tahun baru 2002 ini, untuk mendalami kembali pesan-pesan Ilahi dan keteladanan para nabi. Ada suatu wisdom, hikmah dan kebijakan yang diwariskan oleh Rasulullah Muhammad SAW yang dapat dijadikan panduan di dalam menghadapi krisis kepercayaan dan maraknya tidak kekerasan, sebagaimana yang tengah terjadi di tanah air kita saat ini. Diriwayatkan bahwa sewaktu kembali dari menunaikan ibadah hajji, seorang sabahat bertanya kepada Rasulullah, tentang apakah yang dimaksud dengan haji yang mabrur itu :

“Mal Birru ya rasulallahi. Ifsyaaús salaam. Wa itháamut thoáam”

“Apakah mabrur itu ya Rasulallah. Maka Rasulullah menjawab : menebarkan kedamaian dan memberikan makanan bagi yang kelaparan”.

Ajaran menebarkan kedamaian adalah ajaran yang sangat mendasar di dalam Islam. Dan menebarkan kedamaian itu hendaklah dikongkritkan, antara lain dengan memberikan makanan, dan berbagai kebutuhan pokok hidup lainnya, kepada sesama manusia yang menderita dan kelaparan. Seruan menebarkan kedamaian dan berbagi makanan ini merupakan panggilan ketuhanan dan kemanusiaan yang sangat mendalam tentang penghormatan kepada nilai dan harkat kemulyaan kehidupan, kepedulian kepada sesama manusia dan kesediaan untuk berbagi ( sharing ) dengan sesama.

Tentang mendasarnya ajaran untuk menjalin kasih sayang dan cinta kepada sesama ini, di dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda :

“Irhamuu man fil ardli, yarhamkum man fissamaa’i”

“Kasihilah, sayangilah, cintailah saudara-saudaramu yang di atas bumi, niscaya engkau akan dikasih, disayang dan dicintai oleh yang di langit”.

Di dalam menanamkan ajaran kedamaian dan kasih sayang, Rasulullah SAW pernah bersabda di dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Tirmidzi :

” Qola Rasulullaahi SAW, ayyuha al nas, ufsyu al salam’ wa shili al arham; athími al thoám wa shalli al laila wa al nasu niyam; tadkhuluna al jannata bi al salam” ( H.R. Tirmizi )

“Rasulullah SAW bersabda, wahai manusia, tebarkanlah kedamaian; dan sambunglah untaian tali kasih sayang; berikanlah makanan kepada yang fakir dan sholatlah di waktu malam, tatkala orang-orang tengah lelap tidur; engkau akan masuk surga dengan damai”. (H.R Tirmizi)

Ada hubungan yang bersifat niscaya, antara janji surga dan sholat malam, dengan memberi makan, menyambung tali kasih dan menebarkan kedamaian, di dalam ajaran Islam.

Lebih jauh lagi, Islam mengajarkan bahwa hakekat kedamaian itu sebenarnya melekat kepada hakekat Allah, sebagaimana tercermin di dalam doá yang sering kita baca seusai sholat wajib :

Allahumma anta al salaam. Wa minka al salaam. Wa ilaika yaúdu al salaam. Fa hayyaijnaa Robbana bi al salaam. Wa adkhilna al Jannata Darassalam

Ya Allah, Engkaulan kedamaian. Dan dari padaMulah kedamaian. Dan kepadaMulah kembalinya kedamaian. Maka hidupkanlah kami dalam kedamaian. Dan masukkanlah kami di dalam surgamu, Darussalam, kampung damai.

Sudah saatnya ummat Islam menggali kembali spiritualitas perdamaian dan panggilan-panggilan asasi dari agamanya yang hanif, sebagaimana diteladankan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

4- Spiritualitas Perdamaian dan Pengentasan Kemiskinan

Pada saat ini spiritualitas perdamaian telah pula dikembangkan dan diterjemahkan di dalam model-model pembangunan. Misalnya UNDP semenjak beberapa waktu yang lalu, telah mengembangkan pendekatan pembangunan yang berdimensi ketahanan manusia (human security). Sebagai kelanjutan dari dimensi ketahanan ekonomi (economic security), ketahanan pangan (food security), ketahanan sosial (social security) dan ketahanan lingkungan (ecological security). Pendekatan baru dalam pembangunan ini, juga merupakan perkembangan dalam konsep perdamaian dan konsep ketahanan yang lebih luas. Ancaman (threat) dalam kehidupan masyarakat, pada saat ini telah diberi pengertian baru, tidak lagi berupa ancaman invasi militer dari negara lain. Tetapi ancaman yang berupa kelaparan, pengangguran, kemiskinan, penyakit, tindak kejahatan, konflik sosial, represi politik dan kerusakan lingkungan hidup. Dalam kenyataannya, setelah berakhirnya era perang dingin, pada saat ini semakin dapat disaksikan lebih banyak terjadi konflik antar masyarakat di dalam suatu negara, daripada konflik antar negara. Untuk sebagian besar masyarakat, perasaan tidak aman (insecurity) dan perasaan tidak damai (peacelessnes), lebih dirasakan dalam konteks kekurangan kebutuhan hidup, tindak kekerasan dan konflik sosial dalam kehidupan sehari-hari; daripada terhadap ancaman perang dunia. Oleh karena itu ada hubungan yang sangat erat antara pembangunan manusia dengan ketahanan manusia. Kalau pembangunan manusia, didefinisikan sebagai upaya memperluas pilihan-pilihan bagi rakyat, maka ketahanan manusia berarti bahwa masyarakat dapat melakukan pilihan-pilihan tersebut secara bebas, aman dan damai. (Human Development Report 1994, UNDP, Oxford University Press, Bombay, 1994, P. 22 – 34)

Semangat ifsya’us salam, silaturrahmi dan itha’muth tho’am yang memanggil kepada kasih sayang dan kedamaian, diharapkan mampu memberikan himbauan moral dan dorongan spiritual kepada segenap bangsa Indonesia dan umat Islam, untuk bersama-sama membangun kembali kohesi sosial dan integrasi nasional yang pada saat ini terancam untuk semakin tercabik-cabik.

Sebagaimana yang telah dipredik oleh para perencana pembangunan internasional, bahwa beberapa negara yang sedang membangun pada dirinya menghadapi beberapa kerawanan sosial politik, yang antara lain berupa dislokasi sosial (social dislocation) , khususnya yang berupa konflik antar kelompok etnik. Negara kitapun pada saat ini tengah mencari pemecahan yang berjangka panjang dan sustainable terhadap berbagai kasus konflik sosial yang telah menciptakan kondisi dislokasi sosial tersebut, bahkan sudah sampai pada tahap yang sangat mengkhawatirkan untuk menuju kepada disintegrasi nasional. Oleh karena itu, para pemimmpin bangsa, pemuka agama dan segenap anggota masyarakat diharapkan untuk lebih bersungguh-sungguh di dalam menangani masalah yang sangat sensitif ini dan membawanya kepada integrasi sosial yang lestari (sustainable social integration).

Setidak-tidaknya ada 6 (enam) hal yang perlu diperhatikan bersama di dalam upaya mewujudkan integrasi sosial yang lestari tersebut :

1- Kesamaan derajat di depan hukum. Langkah esensial pertama ke arah integrasi sosial adalah jaminan bahwa setiap pribadi dan warga negara memperoleh jaminan atas hak hukum dasar yang sama.

2- Jaminan untuk memperoleh pendidikan yang memadai. Salah satu langkah terbaik untuk mendorong integrasi sosial adalah dengan memberikan jaminan bahwa semua seksi dan kelompok dalam masyarakat memiliki akses terhadap kesempatan pendidikan dasar yang menghormati keanekaragaman budaya dan tradisi.

3- Jaminan untuk untuk memperoleh pekerjaan yang terhormat. Untuk menjamin bahwa kesempatan kerja itu tersedia dalam basis yang nondiskriminatif.

4- Terjaminnya hak-hak kelompok minoritas. Untuk melindungi keanekaragaman, negara harus menjamin hak-hak kelompok minoritas dan nilai-nilai budayanya.

5- Terselenggaranya kebijakan yang nondiskriminatif. Pemerintah perlu mengambil tindakan yang tegas untuk mengkonter tindakan diskriminatif dalam berbagai bidang kehidupan.

6- Penyelenggaraan negara yang adil dan bersih. Integarasi sosial dapat secara sungguh-sungguh dibangun dengan membawa pemerintah/penyelenggara negara lebih dekat kepada rakyat, melalui proses desentralisasi dan akontabilitas, dengan mengembangkan organisasi-organisasi kemasyarakatan akar rumput dan

5- Budaya Damai, Agenda Bersama Organisasi-organisasi Sosial Keagamaan

Agenda besar umat beriman dan bangsa kita ke depan dalam kerangka mengembangkan perdamaian dan kerukunan antara lain adalah pemberdayaan umat dan masyarakat lapis bawah. Di dalam situasi krisis saat ini, telah terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin di tanah air kita yang merupakan sumber ketidak damaian (peacelessnes) dan berbagai problem sosial, ekonomi dan politik yang terjadi selama ini. Kemiskinan dan keterbelakangan adalah ancaman terbesar bagi stabilitas politik, kohesi sosial dan kelestarian lingkungan hidup di dalam masyarakat kita. Oleh karena itu, setelah belajar dari pengalaman yang sangat pahit, yang berupa krisis ekonomi yang membawa kepada krisis politik, terjadinya kerusuhan sosial dan kerusakan lingkungan hidup; maka perlu dikembangkan suatu pendekatan pembangunan yang lebih manusiawi, pembangunan yang ramah lingkungan dan pembangunan yang berpihak kepada rakyat, yang merupakan subyek pembangunan tersebut. Sehingga kedaulatan rakyat dapat diwujudkan secara lebih penuh, baik kedaulatan politik, kedaulatan ekonomi maupun kedaulatan sosial budaya. Oleh karena itu, setidak-tidaknya 8 (delapan) kegiatan berikut ini perlu kita jadikan agenda bersama, dalam rangka pemberdayaan umat :

1- Pelayanan sosial dasar. Negara hendaknya menjamin pemerataan pelayanan sosial dasar bagi masyarakat miskin, khususnya pelayanan pendidikan dan pelayanan kesehatan dasar.

2- Reformasi Agraria. Oleh karena sebagian besar kemiskinan di negara kita terkonsentrasi di daerah pedesaaan, maka strategi pengentasan kemiskinan memerlukan reformasi dalam penguasaan sumberdaya agraria.

3- Kredit untuk semua. Salah satu jalan yang sangat kuat untuk mengembangkan produktifitas dan membuka pasar bagi rakyat miskin adalah untuk menjamin akses yang merata terhadap kredit. Kreteria bagi yang berhak memperoleh kredit harus diubah, demikian pula kelembagaan perkreditan harus didesentralisasikan.

4- Kesempatan kerja. Cara yang terbaik untuk memberikan manfaat dari pertumbuhan kepada masyarakat miskin dan melibatkan mereka dalam perluasan produktifitas, adalah dengan memperluas kesempatan kerja produktif yang menjamin terpenuhinya hajat hidup rakyat banyak.

5- Partisipasi sosial. Upaya pengentasan kemiskinan hanya akan efektif apabila dikembangkan strategi desentralisasi dan partisipasi sosial.

6- Jaring Pengaman Sosial. Jaring pengaman sosial tidak saja diperlukan pada masa krisis. Tetapi juga diperlukan untuk menolong mereka yang tidak memiliki akses terhadap modal dan pasar.

7- Pertumbuhan ekonomi. Peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat miskin hendaknya menjadi agenda utama. Sehingga masyarakat miskin tidak hanya memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dapat menyumbang bagi pertumbuhan tersebut.

8- Kelestarian. kemiskinan telah menurunkan kemampuan rakyat untuk memanfaatkan sumber daya alam secara lestari, sehingga meyebabkan intensitas tekanan terhadap ekosistem. Oleh karena itu perlu perubahan kebijakan pertumbuhan yang sekaligus menjamin kelestarian lingkungan hidup, dengan menerapkan strategi hemat materi dan energi dan lebih meratakan akses terhadap sumber pembangunan.

Agenda utama kita yang lain dalam menghadapi masa depan bangsa adalah : Membangkitkan kembali moral bangsa dan harapan baru bagi masa depan bangsa. Dan membangun kembali rasa saling percaya satu sama lain. Dan bekerjasama untuk membangun masyarakat yang adil, damai, maju dan lestari.

Pegangsaan, 9 Januari 2002

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

.
N a m a : M. Habib Chirzin

Tempat/Tgl. lahir : Kotagede, Yogyakarta, 8 Januari 1949

Alamat : Taman Amir Hamzah No 10, Pegangsaan, Jakarta Pusat 10320
Telp/Fax : 3904445
e-mail : habibpeace@hotmail.com

Pendidikan / Training :

1- KMI, Pondok Darussalam, Gontor, Ponorogo, 1968
2- Institute Pendidikan Darussalam, Gontor, 1972
3- Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 1983
4- Development Workers Program, Asian Cultur¬al Forum on Development (ACFOD) Food and Agricultural Organization (FAO) Asia Pacific, Bangkok, Manila, Kuala Lumpur, Colombo, Dacca, Kathmandu, 1978
5- Cross Cultural Consultancy, Den Haag, 1985
6- Adult Learner Center, Riverside Drive, New York, 1990

Jabatan :
1- President, Islamic Forum on Peace, Human Rights and Development
2- Anggota Dewan Ahli, Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)
3- Anggota Dewan Etik, Yayasan Bina Desa
4- Ketua Dewan Redaksi Jurnal Bahasa Inggris, Islamic Millennium Forum

Keanggotaan Organisasi Internasional :

1- Anggota Sekretariat , International Study Days for Society Overcoming Domination, Paris (1979 – 1981)
2- Anggota Dewan Pendiri, dan Dewan Direktur South East Asia Regional Institute for Community Education (SEA-RICE), Manila, 1982 sampai sekarang.
3- Konsultan, The Netherlands Organization for International Development Cooperation ( NOVIB ), 1985 – 1986
4- Anggota International Peace Research Association (IPRA), Peace Education Com¬mission, Boulder Colorado, 1990-1994
5- Anggota Coordinating Team, Asian Cultural Forum on Development (ACFOD), Bangkok, 1991 – 1995
6- Anggota Komisi “Pendidikan Hak Asasi Manusia dan Perdamaian”, Asian and South Pacific Bureau for Adult Education ( ASPBAE ), Bangkok, 1991-1995
7- Anggota, Asian Muslim Action Network (AMAN), Mumbai, India, 1992 sampai seka¬rang.
8- Anggota International Advisory Board, Global Education Associates, New York, 1994 sampai sekarang
9- Anggota International Advisory Panel, International Movement for a Just World, Kuala Lumpur, 1994 seumur hidup.
10- Anggota, International Advisory Board, World Citizen Diplomats, Princeton, USA, 1994 sampai sekarang.

Penghargaan dan Certificate :

1- The International Aga Khan Award for Architecture, Pakistan,1980
2- The Ambassador of Good Will, Gubernur Negara Bagian Arkansas, Bill Clinton, Arkansas 1987
3- The Ambassador of Peace, Interreligious and International Federation for the World Peace (IIPWF), Seoul, 2002

Written by Habib Chirzin

November 24, 2008 at 8:50 am

Posted in 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: