Habib Chirzin’s Weblog

Blog On Peace, Human Rights and Human Responsibilities

UMAT ISLAM, PERDAMAIAN DAN PEMBANGUNAN DUNIA : KONPERENSI DI ISTANA CAUX, SWISS

leave a comment »

UMAT ISLAM, PERDAMAIAN DAN PEMBANGUNAN DUNIA : KONPERENSI DI ISTANA CAUX, SWISS

Catatan Perjalanan M. Habib Chirzin

Dunia yang terbelah dan Perdamaian

Harapan umat Islam dan masyarakat dunia pada umumnya akan terciptanya tatanan dunia yang lebih damai, adil dan lestari,  setelah berakhirnya perang dingin pada tahun 1989, yang antara lain ditandai dengan runtuhnya komunisme dan pecahnya Uni Soviet; ternyata tidak kunjung terwujud. Penulis yang pada saat itu menyaksikan runtuhnya tembok Berlin, dan proses bersatunya Jerman Barat dengan Jerman Timur, mengharapkan dunia akan meninggalkan politik perlombaan senjata dan agresi militer  yang sudah menelan korban jutaan jiwa manusia, khususnya masyarakat sipil yang terdiri dari anak-anak dan kaum perempuan. Tidak kurang mengerikannya, korban yang berupa rusaknya lingkungan hidup dan daya dukung sistem kehidupan di atas planet bumi. Terutama saat terjadinya Perang Teluk pada tahun 1992 yang disebut sebagai “eco war”, perang penghancur lingkungan hidup. Meskipun sebenarnya semua bentuk peperangan telah menyebabkan kerusakan lingkungan, baik akibat langsung dari penggunaan senjata, terutama senjata biologi; maupun akbibat dari pengungsian besar-besaran yang merusak tanah pertanian  maupun ladang yang produktif.

Situasi dunia yang semakin terbelah oleh berbagai perbedaan dan benturan kepentingan politik dan ekonomi dunia yang, menggunakan kekerasan sebagai jalan penyelesaian, yang menyebabkan penderitaan berjuta-juta manusia yang tidak berdosa; telah memanggil para pemimpin dunia untuk berkumpul di Caux Peace Palace, Swiss, pada musim panas, Agustus 2007 yang lalu. Caux Peace Palace, adalah sebuah istana yang dijadikan hotel dan resort untuk konperensi yang berada di atas bukit yang sangat indah, dengan pemandangan langsung menghadap ke Danau Geneva dan di seberangnya Mont Blanc yang berada di perbatasan Perancis. Caux Peace Palace ini telah menjadi tempat yang sangat bersejarah dalam perundingan perdamaian pasca Perang Dunia Kedua, yang antara lain telah menghasilkan perdamaian dan rekonsiliasi antara Jerman dengan Perancis. Atas inisiatif kelompok perdamaian yang terkenal dengan “Oxford Group” yang didirikan di Oxford, Inggeris pada tahun 1938. Hadir pada seri seminar dan konperensi tersebut, Mr. Kofi Anand Sek Jen PBB serta para tokoh perdamaian dari Swiss, Denmark, Belanda, Inggeris, Perancis, Amerika dan beberapa Negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Penulis sendiri diundang sebagai salah seorang pembicara dari dunia Islam yang dianggap mempunyai kepedulian dan keterlibatan di dalam masalah perdamaian, pembangunan, hak asasi manusia dan lingkungan hidup.  

Secara khusus penulis diundang menjadi pembicara dalam sebuah panel tentang “Peace, Justice and Integrity” dalam kaitannya dengan pembangunan dunia yang lebih damai. Dalam era globalisasi saat ini, masalah perdamaian tidak dapat di lepaskan dengan seluruh persoalan pembangunan dan terciptanya keadilan. Oleh karena berbagai bentuk ketidak adilan, baik itu keadilan sosial, politik, ekonomi dan budaya, sebagaimana yang masih terjadi di berbagai belahan dunia saat ini; menyebabkan ketidak damaian dan sering menjadi pemicu konflik. Bahkan kemiskinan yang akut, kelaparan dan kehilangan kedaulatan pangan (food sovereignty) sebagaimana yang dialami oleh masyarakat di dunia ketiga, merupakan bentuk yang nyata dari  ketidak damaian (peacelessness), yang harus di atasi bersama. Demikian pula persoalan integritas, termasuk pemberantasan korupsi, penegakan hukum dan penyelenggaraan negara yang baik, akuntabel dan transparan, merupaka persyaratan bagi terciptanya perdamaian. Sewaktu turun dari podium dalam konperensi di Caux tersebut, penulis mendapat sambutan hangat dari para peserta. Bahkan seorang tokoh Muslim dari Somalia, yang tinggal di London, karena konflik yang terjadi di negaranya, DR. Ahmad Syarief, merangkul penulis sambil mengatakan “haadzihi hiyal kalimah …….! ”.

 

Kunjungan ke UNESCO, Komisi HAM dan PBB

Geneva, Swiss dikenal sebagai tempat kedudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selain di New York dan Wina, Austria. Lembaga-lembaga khusus PBB banyak yang berkedudukan di sini, seperti WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), ILO ( Organisasi Buruh International ), Dewan HAM Dunia, UNHCR (Lembaga Pengungsi PBB) , dan Organisasi Perlucutan Senjata. Selain itu Geneva menjadi pusat dari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Dunia serta WTO (Organisasi Perdagangan Dunia). Dan juga tempat berkantornya perwakilan lembaga-lembaga PBB lainnya seperti UNESCO ( Lembaga Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya PBB), UNICEF dll. Menjadikan Geneva sebagai kota penting dunia dalam hubungan dan kerjasama antar bangsa.

Atas undangan Duta Besar RI untuk PBB di Swiss, DR. Makarim Wibisono, setelah berbicara di Caux, penulis melakukan kunjungan ke beberapa lembaga PBB di Geneva, dengan didampingi oleh seorang diplomat RI, Benny Siahaan. Dubes Makarim telah berbaik hati mengajak penulis untuk mengunjungi Organisisi Perlucutan Senjata PBB, yang menempati gedung tertua yang berada di tengah-tengah kompleks PBB yang sangat luas. Organisasi ini telah bekerja keras selama masa perang dingin untuk menyelamatkan dunia dari perang yang menghancurkan dunia. Sewaktu penulis mengemban amanat sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, 1985 – 1989, telah terlibat dalam kegiatan perdamaian dunia dan kerjasama antar bangsa. Sehingga dipercaya menjadi perwakilan sebuah lembaga donor internasional di Indonesia dan diundang  menghadiri berbagai pertemuan kerjasama antar bangsa di Brussel, New York, Berlin, Den Haag, Minamata dll.

 

Di antara kunjungan dan pembicaraan yang penting adalah kunjungan penulis ke UNESCO dan Dewan HAM PBB. Oleh karena penulis sejak lama terlibat di dalam reformasi pendidikan maupun pemantauan realisasi pendidikan untuk semua (Education for All), yang membawa penulis ke kantor pusat UNESCO di Paris, maupun ke kantor-kantor perwakilannya di New York, Manila, Bangkok dan terakhir di Geneva. Di dalam konperensinya di Dakar, pada bulan April 2000, UNESCO telah menghasilkan DAKAR DECLARATION ON EDUCATION FOR ALL yang telah pula merumuskan suatu kebijakan prioritas utama terjaminnya kesempatan dan diperbaikinya kualitas pendidikan bagi kaum wanita (anak, pemudi dan orang dewasa) dan terhindarnya setiap penghalang terhadap peran serta aktif mereka. Semua stereotip pendidikan yang didasarkan atas perbedaan kelamin haruslah dihindarkan. Suatu tekad aktif harus diadakan untuk menjauhkan kesenjangan pendidikan. Kelompok-kelompok yang kurang terlayani, mereka yang miskin; anak-anak jalanan dan bekerja; penduduk di daerah pedesaan dan terpencil; pekerja yang berpindah-pindah dan migrasi; suku-suku terasing (penduduk asli); minoritas suku, ras dan bahasa; para pengungsi; penduduk yang murat-marit akibat konflik dan bencana hendaklah tidak mengalami diskriminasi kesempatan untuk belajar. Di dalam laporan monitoring tahunannya pada tahun 2007, UNESCO telah menekankan pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Reformasi pendidikan merupakan agenda dunia yang merupakan tanggung jawab bersama. Sekembali dari Swiss, penulis diundang berbicara di Belanda dan sempat bersilaturrahmi dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di Den Haag.

 

Jakarta, 8 Januari 2008

 

(M. Habib Chirzin, President, Islamic Forum for Peace, Human Rights and Development)

 

Written by Habib Chirzin

February 17, 2008 at 10:08 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: