Habib Chirzin’s Weblog

Blog On Peace, Human Rights and Human Responsibilities

SOLIDARITAS DUNIA ISLAM UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA

with one comment

SOLIDARITAS DUNIA ISLAM UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA

 
Oleh

M. Habib Chirzin *)

 
I-                    Lembaga Islam Tanggap Bencana

 
Islamic Relief dan Muslim Aid yang berpusat di London merupakan lembaga Islam yang telah berhasil merintis pelayanan bagi masyarakat yang tertimpa bencana. Baik bencana alam maupun bencana akibat konflik dan perang. Mereka juga berpengalaman melakukan pelayanan masyarakat miskin di wilayah-wilayah yang tertinggal dalam pembangunan di berbagai belahan dunia, seperti di Asia Selatan, Afrika Barat, bekas Uni Soviet, kawasan Balkan dan  Bosnia Herzigovina. Banyak proyek-proyek mereka yang cukup berhasil. Bahkan diantaranya pernah mendapat penghargaan internasional, seperti yang diterima oleh Br. Yusuf Islam (Cat Steven), pelantun lagu “Morning has Brooken” yang pernah menjadi “hit” pada tahun 1970-an. Penghargaan dunia tersebut diterima dari World Association of NGOs (WANGO) di Budapest, Hungaria, pada bulan Oktober 2004, di mana penulis berkesempatan diundang menjadi salah seorang yang memberikan pidato sambutan. 

 

Di dalam pidato penerimaan penghargaan internasional tersebut, Yusuf Islam menyampaikan bahwa panggilan pelayanan kemanusiaannya itu terinspirasi oleh Al Qur’an surat “Al Maun”,  yang dia artikan sebagai “small kindness”. Dan oleh karena itu, ia mendirikan lembaga sosial baru yang ia beri nama dengan “Small Kindness”. Lembaga ini telah melakukan pelayanan bagi anak-anak korban Tsunami di Aceh. Pada kesempatan tersebut penulis sampaikan kepada Yusuf Islam maupun DR. Tajuddin Hammad, Sek Jen WANGO yang berpusat di New York, penyelenggara konperensi tersebut, bahwa pertolongan kesengsaraan umum yang dilakukan oleh Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Dahlan di Yogyakarta, Indonesia pada tahun 1912 juga diilhami oleh ayat Al Qur’an yang sama.

 

2- Permintaan Pendirian Muhammadiyah di Asia Selatan.

 

 Br. Rasheeduzzaman dari Muslim Aid London pada bulan April 2007 yang lalu diundang ke Jakarta untuk menghadiri pertemuan “Aceh and Nias Post Tsunama Reconstruction” yang diselenggarakan oleh BRR (Badan Rehabilitasi Rekonstruksi) Aceh dan Nias, bersama perwakilan Muslim Aid di Banda Aceh, Br. Fadhlullah Wilmout. Seorang muslim berasal dari Australia yang menikah dengan putri Aceh. Dalam pembicaraannya dengan penulis, Rasheeduzzaman menyampaikan kekagumannya terhadap Persyarikatan Muhammadiyah yang telah mengembangkan berbagai amal usaha sampai ke pelosok-pelosok tanah air.  Atas dasar pengalamannya di negara-negara Asia Selatan dan pengamatannya terhadap keberhasilan Muhammadiyah, ia mengusulkan agar Muhammadiyah dapat didirikan juga di Bangladesh, negara asalnya dan negara-negara di Asia Selatan lainnya. Penulis sampaikan bahwa harapan tersebut sangat mungkin direalisasikan, sebagaimana Muhammadiyah ASEAN dan Cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai negara yang sudah cukup lama dirintis.

 

Br. Rasheeduzzaman pernah menginap di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah Jakarta, pada tahun 1994 dan melakukan kunjungan ke RSIJ, Fakultas Tehnik UMJ di Cempaka Putih dll bersama delegasi dari AMAN (Asian Muslim Action Network) di mana penulis menjadi council member yang berpusat di Bangkok. Ia juga pernah menerima kunjungan penulis di kantor perwakilan Muslim Aid di Dhakka, Bangladesh, pada tahun 2004, pada saat penulis diundang oleh UNDP (United Nations Development Program) untuk menjadi pembicara di dalam konperensi internasional tentang “Human Rights Protection and Promotion and the Role of National Commissions on Human Rights”. Lembaga ini telah berhasil mengembangkan program pemberdayaan masyarakat pedesaan dengan “micro financing” program, sanitasi lingkungan, pelestraian lingkungan hidup, pemberantasan buta aksara fungsional (functional literacy) dll yang cukup menarik.

 

Dua bulan setelah terjadinya bencana Tsunami di Aceh, Nias dan sebagian dari wilayah Sumatera Utara pada bulan Desember 2004, Asian Muslim Action Network (AMAN) yang bekerjasama dengan Asian Resource Foundation ( ARF ) serta beberapa lembaga regional lainnya, telah menyelenggarakan suatu panel diskusi tentang penanggulangan bencana  di Bangkok,  pada bulan Pebruari 2005. Pada kesempatan tersebut AMAN telah mengundang  pembicara yang berasal dari beberapa negara yang tertimpa bencana Tsunami, seperti Indonesia, Thailand, India, Maldive dan Sri Langka. Hadir juga beberapa tokoh cendekiawan Muslim Asia, seperti DR. Chandra Muzaffar, DR. Imtiyaz Yusuf, DR. Chaiwat Satha Anand, DR. Asghar Ali Engineer dll, dan peserta dari Jepang, Hong Kong, Afrika Selatan dll. Forum ini dimaksudkan untuk saling belajar dari pengalaman beberapa negara tersebut dalam menghadapi bencana Tsunami dan upaya penanggulannya. Berdasarkan berbagai data dan informasi yang diperoleh, serta pengalaman dalam penanggulangan bencana di beberapa negara tersebut, maka diusulkan antara lain perlunya pendekatan penanggulangan bancana yang berbasis HAM.

 

Institute of Medicine, Universiti Brunei Darussalam ( UBD ) di Bandar Seri Begawan, telah memprakarsai suatu forum internasional, pada tanggal 12-15 Juli 2006. International Forum on Post Disaster Relief dengan menghadirkan berbagai pembicara dan peserta dari lembaga-lembaga internasional, seperti UNOCHA, UNICEF, UNISDR, UNDP, WHO, ICRC, IFRC  maupun organisasi-organisasi relief, seperti Mercy, Muslim Aid, Islamic Relief, Islamic Forum for Peace and Development Millennium, AMAN; lembaga-lembaga pemerintah seperti Departemen Kesehatan, Brigade Pemadam Kebakaran, Angkatan laut dan Polisi Diraja dari beberapa negara; dan berbagai perguruan tinggi di Asia, Eropa maupun USA. Forum ini telah membahas secara komprehensif berbagai aspek penanggulangan bencana berdasarkan pengalaman lapangan dari berbagai negara tersebut. Dari Indonesia diundang dua pembicara, DR. Abdul Haq Amiri dari UNOCHA, yang berasal dari Afghanistan dan penulis yang mewakili AMAN dan IMFO.

 

3-       Penanggulangan Bencana Berbasis HAM dan IPTEK di Dunia Islam.

 

Pada kesempatan International Forum di Universitas Brunei Darussalam, penulis mengemukakan dua gagasan, yaitu perlunya memadukan penanggulangan bencana berbasis HAM dan penanggulangan bencana berbasis IPTEK. Oleh karena mulai proses Pencegahan, Kesiagaan, Manajemen, Tanggap Darurat Awal, Mitigasi, Penyelamatan dan Rehabilitasi sampai dengan Rekonstruksi pasca bencana, diperlukan keterpaduan dua pendekataan tersebut. Dan perguruan-perguruan tinggi Islam di Asia dan di dunia dapat menjadi pusat kajian dan pelatihan bagi upaya penanggulangan bencana ini. Termasuk Universitas Brunei Darussalam, Universitas Islam Internasional Malaysia – Bangladesh – Pakistan – Sudan – Nigeria dll. Demikian juga Universitas-universitas Muhammadiyah yang tersebar di seluruh tanah air.

 

Sebenarnya dalam rangka memastikan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia dalam penanggulangan bencana ini, sejak tahun 1997 beberapa organisasi relawan kemanusiaan internasional yang tergabung di dalam Komite Pengarah Tanggap Kemanusiaan ( Steering Committee for Humanitarian Responese (SCHR) dan Inter Action yang beranggotakan VOICE ( Voluntary Organizations in Cooperation in Emergencies) , ICRC ( International Committee of the Red Cross) dan ICVA ( International Council of Voluntary Agencies) , telah mengambil inisiatif untuk  merumuskan  “Piagam Kemanusiaan dan Standard Minimum dalam Tanggap Bencana” ( Humanitarian Charter and Mininum Standard on Disaster Response ). Upaya bersama ini merupakan salah satu dari Sphere Project yang pada tahun 2004 telah memperoleh dukungan dan masukan teknis dari tidak kurang 400 organisasi relawan kemanusiaan dari 80 negara yang telah berhasil menyusun  the Minimum Standards and Key Indicators yang menjadi acuan di dalam upaya tanggap bencana di berbagai negara. ((Sphere, Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Bencana, Sphere Proyek Edisi 2004)

 

Sebuah aliansi Islam internasional  untuk penanggulangan dan pemulihan dari bencana “Islamic Alliance for Recovery”, sebenarnya dapat dirintis bersama, dengan berbasis di komunitas, lembaga dan universitas-universitas yang telah ada. Muhammadiyah dengan berbagai ORTOM dan Amal Usahanya yang tersebar luas, dapat mengambil inisiatif. Termasuk dengan melibatkan lembaga-lembaga yang sudah relatif mapan semisal Masyarakat Bulan Sabit Merah Internasional (Internatioanl Red Crescent Society) dan lembaga-lembaga di lingkungan OKI yang selama ini telah memberikan bantuan bagi para korban bencana Tsunami di Aceh.

 

Jakarta, 12 Mei  2007

Written by Habib Chirzin

February 17, 2008 at 10:28 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Mas Habib, artikelnya bagus, memberikan banyak informasi penting, khususnya bagi saya, yang menarik untuk dikaji lebih jauh. Makasih

    HL

    July 18, 2008 at 9:03 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: